Wednesday, November 08, 2006

“Budaya” Ngaret

“Budaya” Ngaret

Sabtu yang lalu, (05/11) saya berjumpa dengan tiga teman saya (Santi, Novel, Timur) di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan. Niatnya untuk menyambung tali silahturahim setelah lebaran beberapa minggu yang lalu. Seperti layaknya manusia Indonesia kebanyakan, mencetak rekor “budaya” ngaret sudah pula menjangkit di kalangan pemuda-pemudi Indonesia. Tak begitu saja, acara yang saya usulkan jam satu itu nampaknya menjadi boomerang buat saya sendiri, pasalnya, hari itu ada acara silahturahim di perumahan, dan saya musti sedikit membantu ibu-ibu seksi repot untuk menata meja dan mengangkat beberapa makanan ke lapangan badminton di blok yang sama dengan rumah saya. Saya bergegas berangkat setelah menyantap hidangan di acara halal bi halal itu. Saat itu jarum jam tangan saya menunjukan pukul setengah satu, padahal jarak rumah saya sampai dengan Bulungan kurang lebih satu setengah jam. Saya pun sudah memperkirakan kalau saya akan terlambat sampai di sana. Namun, apa yang terjadi selanjutnya tentu teman-teman semua sudah dapat menebaknya. Saya sampai di sana sekitar setengah dua, sementara di bangku biasa kami berkumpul masih sepi, tidak ada Santi, Novel, juga Timur. Santi dan Novel datang sekitar setengah jam setelah saya sampai, sementara Timur datang setelah Novel menghabiskan makan siangnya, dan Santi meminum segelas kopinya. Jadi intinya, saya sudah datang terlambat, namun ada yang lebih terlambat daripada saya.
Melihat kejadian di atas, saya yang sudah dari sananya paling gak suka nunggu, terlintas dalam benak saya, ini bukan lagi kebiasaan, ini bisa jadi kebudayaan, Bung!

Kebiasaan atau bahkan budaya ngaret yang dalam bahasa bakunya kita kenal sebagai (ter)lambat alias doesn’t on time kata para bule tersebut bukanlah penyakit genetik, namun, lebih merupakan sifat buruk yang dapat menular. Saya akan memberikan contoh kongkretnya dari kehidupan sehari-hari. Di kosan saya yang berada di Jalan Kober, Margonda, misalnya. Di kosan ini ada sekitar 20 kamar, dengan fasilitas satu kamar untuk dua orang. Biasanya, teman satu kamar berasal dari jurusan yang sama. Nah, sebutlah nama teman saya, Jihan dan Awaliyah, mereka menempati kamar L. Jihan adalah perempuan aktif di Senat Mahasiswa FIB UI, senang bernyanyi, dandan, belanja, dan getol mengikuti berbagai kepanitian yang ada di kampus juga banyak kegiatan lainnya. Selain itu, Jihan pun tak lupa “giat” pacaran, (sori, Ji..). Sementara Awaliyah, saya kenal sebagai seorang akhwat yang menjadi mentor Asistensi Agama buat Mahasiswa Baru FIB, jago ngaji, tapi juga aktif, dan suka musik macam Muse (locchh..). Kedua teman saya tersebut memiliki persamaan sekaligus perbedaan. Sudah dapat ditebak bukan? Jihan yang pada tingkat satu tinggal di Asrama Mahasiswa itu rajin kalau berangkat ke kampus, sementara Awaliyah, dikenal dengan Miss Telat juga Miss Panik. Bisa dibayangkan betapa paniknya dia kalau ada kabar mau ujian atau pun hal kecil. Semenjak, Awaliyah dan Jihan “satu atap”, mereka sering telat. Masuk jam setengah delapan, berangkat dari kosan juga setengah delapan. Padahal jarak kosan ke kampus bisa menempuh sekitar 1 kilometer atau lebih yaa..Hehe.

Dari contoh kasus di atas dapat kita lihat kebiasaan lingkungan sudah pasti dapat mempengaruhi kebiasaan kita. Seperti layaknya air yang mengalir di sungai, ke mana arus membawanya, tentu air itu berlalu ke arah yang sama. Begitu pula seperti pepatah yang mengatakan, “kalau kita berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan ikut wangi, kalau kita berteman dengan tukang duren, kita juga akan bau duren” yaa.. setidaknya setiap persinggungan culture tentu akan menjadi sebuah pemicu dari adanya akulturasi di masyarakat. Di mana akulturasi merupakan sebuah proses sosial yang timbul akibat sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada masyarakat lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda, kemudian timbul proses saling mempengaruhi.

Tapi beranjak dari contoh sebelumnya, keadaan tersebut nampaknya tidak begitu terjadi di “atap” saya dan Rara, kami berdua berasal dari suku yang sama, namun, mungkin karena cara pendidikan di keluarga saya dan Rara berbeda sedikit banyak. Hal ini yang menyebabkan saya dan Rara bahkan di beberapa hal sangat bertolak belakang. Misalnya, saya lebih memilik makanan mpok Ucu ketimbang mengelurkan uang puluhan ribu untuk makan di fastfood atau tempat lain. Walau sesekali saya juga makan di sana. Dan banyak hal lainnya yang tidak mungkin saya jabarkan satu persatu. Karena buat apa menyulut keadaan dengan memunculkan perbedaan-perbedaan, sudah banyak luka di lubuk hati manusia yang kadang tak dapat terobati lagi.

Bisa dibilang, kebiasaan saya tidak mempengaruhi pola kebiasaan Rara. Begitu juga sebaliknya. Rara yang dulu juga anak asrama, getol berangkat ke kampus pagi-pagi. Bahkan tadi pagi saja (7/11) jam 6:20-an dia sudah berangkat, padahal kelas mulai jam 7:30. Secara jarak kosan dapat ditempuh dalam waktu 5-10 menit jalan capung, dan 15-20 menit bila jalan gaya kura-kura. Sementara saya, saya memilih pagi sebagai waktu yang wajib dinikmati. Untuk melanjutkan tidur (hmm, kalau lagi ngantuk abis begadang malamnya) sampai mau berangkat kuliah, atau langsung ketemu filkom, menulis, dan juga bermain. It’s my life, Bro!

Jadi, apa bisa ngaret dikategorikan sebagai salah satu budaya masyarakat Indonesia sekarang ini? Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kebudayaan? Saya mengutip Edward Burnett Tylor (1871), bahwa kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan serta kebiasaan lain yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Mengacu pada pendapat tersebut, bisa jadi ngaret dapat merupakan budaya. Karena berlaku tidak hanya dalam individu, bahkan banyak orang yang terlibat dalam “kasus ngaret”. Namun, pendapat J.W.M Bakker (Filsafat Kebudayaan, 1984) mematahkan pendapat sebelumnya (bisa jadi demikian) dengan mengutarakan bahwa budaya berasal dari kata abhyudaya, hasil baik, kemajuan, dan kemakmuran. Sungguh ironis bukan? Apa iyah, ngaret itu suatu cirri dari sebuah peradaban yang mengalami kemajuan?

Artian positif dan negatif telah tertanam dan mengakar dalam memori manusia, sehingga, kita akan selalu berjarak antara kutub negatif dan positif. Tentu semua yang ada di muka bumi ini adalah pilihan-pilihan yang wajib kita pilih. Kalau kita termasuk ke dalam manusia berlabel “tukang ngaret” cepat-cepatlah bertaubat, sesungguhnya Tuhan Maha Pemberi Ampunan. (hihi..) Yaa.. semua hal perlu nilai-nilai kebaikan terkandung dalamnya, begitu pula pada tatanan kehidupan bertanah air, kita pun mengetahui bahwa negara ini masih membutuhkab warganya yang disiplin…untuk membangun bangsa agar lebih berbudaya (tentunya). Mari budayakan Disiplin Waktu!

Yuliyoe, Depok 7/11/06

0 komentar:

Post a Comment