Friday, November 10, 2006


Mendamba Kota Selapang ini…

Gambar yang saya ambil saat berjalan kaki melintas di depan Bank Rakyat Indonesia, Dalem Kaum, Bandung, terlihat kosong, hanya ada beberapa pengendara motor dan mobil yang diparkir di pinggir jalan. Sungguh seketika, keadaan ini membuat saya mendambakan berada di sebuah kota selapang ini. Mungkin, akan jarang sekali kita menemukan jalanan yang se-sepi ini, jalanan yang di mana kita bisa berjalan dengan perasaan nyaman, santai, dan tenang. Bahkan, di jalanan pun kita bisa bernyanyi untuk alam, atau menatap langit pagi dengan penuh rasa syukur… kita bisa sebebas mereka yang hidup di jalan tanpa malu-malu. Dan merasakan angin menyusup di sela telinga dan berbisik.

Namun, sisi mana di kota yang dapat menyuguhkan tempat setenang dalam gambar ini sepanjang masa. Tak banyak bahkan nihil apabila jalan raya akan sepi dilalui kendaraan bermotor. Dan bilamana ada, tentu itu adalah kota Jakarta di kala Lebaran tiba. Hmm,, biasanya, kota metropolitan, kota terpadat, kota teramai, kota ter-, ter- dan ter- lainnya, Jakarta akan sangat lapang, tanpa mobil-mobil berkeliaran di banyak penjuru jalan protokol, jalan feeder, dan jalan tikus. Saat itu Jakarta seperti kota yang mati mendadak dengan gedung-gedung pencakar langit yang tak beroperasi lift-nya, pendingin ruangan-nya, dan semua hal lainnya yang berkenaan dengan kota Jakarta (sebagai ibukota Negara).

Tak jauh berbeda dengan Jakarta, kota Depok, salah satu kota yang sedang membangun, yang menjadi penyokong kota Jakarta, sekarang telah begitu pula padatnya. Di pagi hari, tak kurang dari ratusan motor melintasi Jalan Margonda begitu pula antrian mobil pribadi dan angkutan umum memanjang sepanjang jalan tersebut. Bahkan pedagang dengan beragam usaha bisnisnya di sepanjang jalan Margonda sempat masuk Rekor MURI, karena terhitung jumlahnya paling banyak, ada sekitar 500 tenda pedagang di sisi jalan Margonda. Di tambah lagi berbagai bangunan baru seperi Mall(Margocity TownSquare dan Depok TownSquare, Mal Depok dan Borobudur, Plaza Depok dan Ramayana, kesemuanya berhadapan-hadapan di sisi kiri-kanan jalan Margonda, dan ditambah juga ITC Depok di sisi terminal Depok juga apartemen (Apartemen Margonda, siap dipakai 2007). Dapatkah kawan bayangkan, bagaimana indahnya Depok? Mungkin, kalian tidak akan menemukannya di jalan Margonda, kalau pun kalian mencari keteduhan (walau sedikit..), kalian bisa mengunjungi kampus Universitas Indonesia, yang setidaknya walau sudah banyak pula lahan pepohonan yang ditumbangkan untuk dijadikan lahan parker mobil mahasiswa juga dosen dan karyawan, di sana ada banyak lahan luas yang dapat kalian nikmati keindahannya. (misal: lahan antara fakultas teknik yang menghadap fakultas sastra dipisahkan oleh danau, selain itu, halaman Rektorat UI, Balairung, dan Mesjid UI yang dipercantik danau dengan pepohonan rindang di sisi-sisi nya masih bisa dijadikan tempat “ngaso”, dan beberapa tempat lainnya.

Angka fantastik…sampai dengan saat ini jumlah kendaraan bermotor di Indonesia telah mencapai lebih dari 20 juta dengan persentase sebanyak 60% adalah sepeda motor sedangkan pertumbuhan populasi untuk mobil sekitar 3-4% sementara sepeda motor lebih dari 4% per tahun (data dari Dep. Perhubungan). Data yang terakhir didapat dari Gaikindo bahwa pertumbuhan pasar penjualan kendaraan baru untuk roda empat naik hampir 25 % pada tahun 2003. Sedangkan pertumbuhan pasar penjualan sepeda motor naik hampir 35 % pada tahun 2003. Hal tersebut tentunya sangat memprihatinkan kondisi negara kita ini, dapat kita bayangkan berapa banyak bahan bakar minyak yang dibutuhkan untuk keperluan transportasi, padahal, perlu waktu yang sangat lama untuk mendapatkan minyak dari perut bumi, perlu banyak biaya untuk eksploitasi. Lebih ironisnya lagi, keadaan negara mengesankan kehidupan kapitalis yang sudah tak dapat dibendung lagi. Lihat saja, beragam merk kendaraan roda empat termahal sekalipun ada di Indonesia, dan bukan satu atau dua, sementara di sisi lain kita dapat lihat kemiskinan merajalela, anak-anak yang kelaparan, orang tua yang mengemis, gubuk-gubuk reyot di pinggir kali, di bawah jembatan layang, dan segala macam jenis keterpurukan rakyat yang terlupakan. Semua tercover oleh adanya kehidupan glamour milik para pemilik warisan tujuh turunan, para pejabat, orang-orang orde lama, atau koruptor yang tidak tahu diri.

Olala…sungguh semua menjadi sebuah pembahasan yang panjang, Bung! Tapi, di mana solusi-nya? Di mana kinerja konkret kita untuk mendapatkan ketenangan di tengah-tengah hiruk-pikuk ibukota, lalu lalang kendaraan, dan asap yang mengepul dari puntung rokok, juga knalpot-knalpot itu? Sementara, mobil yang merupakan kependekan dari otomobil yang berasal dari bahasa Yunani 'autos' (sendiri) dan Latin 'movére' (bergerak) adalah kendaraan beroda empat atau lebih yang membawa mesin sendiri, akan terus bertambah jumlahnya jika pemerintah tidak membatasi peredarannya di Indonesia. Itu pun kalau pemerintah juga masyarakat peka, dan sadar, kalau nanti, di Indonesia, setiap orang memiliki mobil, dapat dibayangkan! mobil tersebut hanya bisa berdiam di dalam garasi, karena…tidak ada lagi ruang untuk mobilitas manusia, jalanan dipadati kendaraan. Sampai di depan rumah pun berjejer mobil-mobil pribadi karena tidak cukup ditaroh di garasi. Wuiiiiihhh…

Kawan, tentu kita tidak ingin hal seperti itu terjadi di tanah air kita, bukan? Kawan, tentunya kita semua mendambakan sebuah kota yang aman, yang nyaman, yang kita hidup di dalamnya penuh ketentraman, cinta, dan kasih sayang. Kawan, tentunya kita semua rindu pada sepi yang dicipta dedaunan hijau di dahan-dahan pepohonan, rindu pada angin yang sepoi-sepoi, suara air yang mengalir di sungai yang jernih. Apa masih ada sebuah kota yang mempertahankan ke-pedesaan-an seperti itu?


Yuliyoe, 8/11/06

0 komentar:

Post a Comment