Danboo

Danboo tuh kependekan dari Danboard, dibuat dari kertas karton board. Yang pertama kali mengkreasikannya adalah Azuma Kiyohiko seorang komikus serial manga Yotsuba

Do'a di Tahun Baru 2012

Sobat yusako... akhirnya bisa ketemu blog lagi.. :) Subhanalloh Allah masih memberikan kita kesempatan untuk terus meng-upgrade diri kita.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Pelajaran dari Dapur

Seorang ayah dan anak laki-laki nya sedang bercakap-cakap sore itu. Ayah nya menunjukan tiga benda yang ada di dapur. Ada wortel, ada telur, dan ada juga kopi.

Aku ingin hidup!

Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium

Thursday, January 25, 2007

kembali....

kembali...
setelah penantian ini..
kemarin, saat fajar menyingsing.. alhamdulillah, kedua orangtua saya kembali ke tanah air, tepatnya, ke tanah puspiptek, yang sudah lebih dari 20 tahun ditinggali sebagai istana kami..

kembali...
setelah penantian ini..
kemarin, saat rembulan bertengger.. rindu ini pula tetap kubendung tuk sesosok puisiku yang sedang terbelenggu penatnya...

kembali...
aku gak masuk les lagi... untuk ketiga kalinya berturut-turut... hm, kenapa yaa.. males banget jadinya...padahal jemuran udah seminggu ditinggal di penjemur handuk depan kamar.. melenteng-melenteng deh.. hiii...

kembali...
rindu...rindu...rindu...



ponpin, 24 jan'07


Judul Buku : Musafir Cinta
Judul Asli : Qutrotun Min Ad Dumuu’
Pengarang : Shamiroh
Alih bahasa : Darsim Ermaya Imam Fajrydin
Penerbit : Navila
Cetakan : IV, Juli 2004
Tebal : 136 halaman


Buku karangan Shamiroh yang berjudul Musafir Cinta ini mengkisahkan perjuangan seorang gadis muda belia bernama Dzikra yang mengalami tekanan batin dalam hidupnya akibat tekanan adat sukunya hingga membuatnya menjadi bisu. Namun ia tidak menyerah, justru dengan kondisi itu mencoba tetap tegar dan terus berkarya. Ia mempunyai tekad untuk melawan ketidakpedulian masyarakat dengan karya-karyanya. Berikut adalah sinopsis kisah tersebut.

Dzikra adalah anak Syaikh Mahjub yang merupakan salah satu keturunan Arab Badui yang menetap di daerah padang pasir Nejed. Dzikra berusia sepuluh tahun dan merupakan anak yang periang dan mudah bergaul. Sementara ibunya bernama Rukiyah, usianya terpaut duapuluh tahun lebih muda daripada Syaikh Mahjub.
Suatu pagi, Amir, seorang keponakan Syaikh Mahjub dari Asyir mendatangi kemah mereka di Nejed. Syaikh Mahjub begitu gembira dengan kedatangannya, dengan antusias dia menyambut kedatangan Amir. Amir bermaksud tinggal bersama pamannya itu karena dia sudah sebatang kara. Namun, dia tidak menyangka kalau pamannya ternyata telah mempunyai keluarga. Awalnya Amir ingin mengurungkan niatnya, tapi Syaikh memaksanya untuk tinggal dan bahkan meminta Amir menikahi anak perempuannya, Dzikra. Amir menolak permintaan Syaikh dan hal itu menyebabkan Amir diusir dari kemah. Sebenarnya, Amir dan Rukiyah saling jatuh cinta, walau keadaannya demikian, Rukiyah dapat memendam perasaannya. Syaikh naik pitam dan seketika saja membunuh Amir, saat mengetahui istrinya sedang berdua dengan Amir, padahal saat itu Amir hanya ingin berpamitan. Dzikra mengetahui hal tersebut. Penduduk setempat mendatangi rumah Syaikh. Dan membawa Rukiyah yang dituduh berzina. Kesedihan bertambah lagi saat Dzikra melihat ibunya dilempari penduduk hingga ajalnya.

Hal inilah yang menyebabkan Dzikra mengalami ketertekanan jiwa yang akhirnya membuatnya bisu. Dia dirawat di sebuah panti di kota Riyadh. Nadhiroh, pemimpin panti merawatnya dengan baik, hingga Dzikra dapat lebih terbuka di lingkungannya. Namun, suatu hari, Nadhiroh jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia, Dzikra merasa sangat sedih, karena saat dia baru saja belajar untuk menata kehidupannya, orang yang ia sayangi harus menghadap Sang Pecipta.

Dokter Ashim, dokter dengan keikhlasan dan kesabarannya merawat Dzikra, ternyata jatuh cinta terhadap Dzikra. Melihat Dzikra yang sangat terpukul dengan kematian Nadhiroh, ia memutuskan mengajaknya pindah ke Rumah Sakit Syamis, Riyadh.
Dzikra yang telah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan memiliki berjuta pesona pun ternyata menyimpan perasaan cintanya terhadap dokter. Dikarenakan keadaannya yang bisu, dia merasa tidak akan membahagiakan dokter Ashim. Namun, perasaannya terungkap saat Ashim menemukan catatan Dzikra terselip di buku bacaan yang dipinjaminya pada Dzikra. Namun, sejak itu, Dzikra jadi menghindar, ia pun pindah tugas ke Rumah Sakit Mina, di Makkah al-Mukarramah. Walaupun keadaan begitu membuat Ashim terpukul, Ashim tetap berusaha menyembuhkan Dzikra dengan mengirimnya ke London untuk berobat. Awalnya Dzikra merasa hal itu dikarenakan Ashim hanya kasian terhadapnya, namun akhirnya, Dzikra dapat pula merasakan perasaan tulus Ashim.
Lagi-lagi pergulatan terhadap perjalanan Dzikra berlanjut, orangtua Ashim tidak menyetujui hubungan mereka. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia meninggalkan rumah. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit untuk menemui Dzikra. Namun, takdir berkata lain, Ashim mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal.

Semenjak kematian Ashim, Dzikra pun merasakan kematian jiwanya lagi. Tidak berlarut-larut dalam kesedihan, Dzikra pun bernadzar kembali ke panti di mana ia dirawat dahulu dan mendidik para remaja dan menulis sebuah buku berjudul “Nasehat wanita Bisu”. Yang ternyata setelah diterbitkan, buku ini mendapat perhatian besar dari banyak orang. Dzikra pun menjadi orang kaya dan banyak yang ingin bersahabat dengannya.. Walau demikian, hal itu tidak menjadikannya sombong, ia tetap hidup dengan sederhana dan selalu teringat Ashim.


*** buku ini lumayan juga, buat yang seneng kisah drama atau telenovela, pas banget. tapi yang ini punyanya orang Arab. ***


Depok, Desember 2006

Thursday, January 18, 2007

ini adalah transkrip khutbah Jum'at Yusuf al-Qardhawi

Khutbah: Yusuf al-Qardhawi
Tempat: Mesjid Istiqlal, Jakarta
Waktu: Jum’at, 12 Januari 2007


Bismillahirahmanirahim, ucapan salam pribadi saya, seluruh warga Qatar, dan seluruh saudara-saudara kita di Negara-negara Arab. Ini adalah kunjungan saya yang Ke-6 ke Indonesia. Dan setiap kali saya mengunjungi Indonesia, saya mendapatkan fakta bahwa Indonesia selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Ini adalah negeri yang paling saya cintai. Ini adalah negeri yang mempunyai tempat yang begitu lapang dalam hati saya. Oleh karena itu saya berdo’a bahwasanya InsyaAllah di masa yang akan dating, negeri ini akan memainkan peran yang lebih penting daripada hari-hari sebelumnya. Pada kunjungan terakhir sayadi masa presiden BJ. Habibie, saya menyaksikan satu fenomena kebangkitan semangatkembali kepada Islam, seperti yang sekarnag sudah lebih baik saya saksikan di kunjungan Ke-6 ini.

Saudaraku sekalian, Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat dan karunia. Karunia pertama yang diberikan Allah kepada kita adalah karunia kehidupan. Bahwasanya, kita dijadikan lebih unggul di antara makhluk lainnya di alam raya ini. Dan kehidupan ini yang memberikan kita hak-hak yang lain, eksistensi dan wujud hidup. Nikmat kedua adalah fakta bahwa kita adalah manusia, bukan hewan dan bukan makhluk lainnya. Dan manusia telah diciptakan dengan kelebihan-kelebihan disbanding makhluk lainnya. Allah SWT menumbuhkan alam raya ini untuk manusia. Karunia ketiga adlah karunia akal. Inilah yang membedakan manusia dengan mahkluk hidup lainnya. Allah SWT memberikan kemampuan membaca, menulis, menjelaskan, keampuan artikulasi, dan memahami fenomena dan fakta-fakta dalam kehidupan dan alam raya ini. Tapi Saudara-saudara sekalian, dari semua yang Allah SWT karuniakan sebelumnya, ada karunia yang jauh lebih besar, yaitu karunia hidayah kepada Islam. Karunia itu adalah karunia petunjuk kepada umat Islam. Dan ini tidak diberikan kepada semua umat manusia, melainkan hanya diberikan kepada segelintir dari mereka. Karena itu kita bersyukur karena kita telah diberikan petunjuk dunia dan akhirta. Orang-orang yang merasa lebih baik daripada orang lain derajat keIslamannya, Allah menyatakan kepada mereka, bahwa kita mendapatkan karunia Islam dari Allah SWT. Di atas kesemua karunia ini Allah SWT menyatakan, “Bahwa hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, dan Aku ridho Islam sebagai agama kalian”, hal tersebut menunjukan bahwa kita mendapatkan karunia Islam dari Allah SWT.

Saudaraku, setiap satu nikmat atau satu karunia membutuhkan sebuah penghargaan, yaitu sebuah syukur. Apabil Islam adalah karunia terbesar yang lah berikan kepada kita. Allah SWT mengatakan bahwa setiap kali kalian mensyukuri satu nikmat, Allah SWT akan menambahkan karunia baginya. Dan apabila kita mensyukuri karunia Islam, maka kita harus melakukan beberapa hal, di mana kita harus berbangga bahwa kita adalah Muslim, kita harus mengatakan kepada semua orang, kita adalah umat Nabi Muhammad SAW, umat al-Qur’an, umat Tauhid. Kita mengangkat wajah kita kepada semua orang sambil penuh kebanggaan mengatakan bahwa saya seorang Muslim. Dulu sahabat-sahabat Rasulullah SAW pernah berbangga dengan pernyataan menjadi seorang Muslim, karena meraka mengetahui bahwa Allah telah mengatakan, “Siapa lagi yang lebih baik perkataannya selain mengajak kita kepada kebaikan, mengajak kepada jalan Allah, dan melalukan amal kebaikan dan juga mengatakan bahwa saya adalah bagian dari orang-orang Islam. Mereka menyadari ayat-ayat itu, oleh karena hal itulah, seorang dari mereka menyatakan, “Ayahku adalah Islam, tak ada ayah selain Islam, apakah semua orang berbangga dengan Islam, Ayahku Islam, mahzabku Islam.”

Mungkin orang mengejek Salman al-Farizai, mereka mengatakan, “Wahai Salman, kamu “ini putra siapa?” Salman yang dating dari Persia mengetahui bahwa dia datang dari sebuah peradaban besar Islam, dan sebabnya itulah, dia dapat berbangga dengan peradaban itu. Dia dapat mengatakan kepada orang-orang yangmengejeknya itu, “Saya orang Persi.” Tapi, dia tidak melakukannya, tapi dia mengetahui dia mengatakan, “Saya adalah Putra Islam”. Oleh karena itu, Rasulullah begitu respect kepada beliau dan mendeklarasikan kepada sahabatnya, “Salman adalah bagian dari keluarga kami”.

Saudara-saudaraku sekalian, kenapa kita haus berbangga adalah fakta bahwa kita adalah Muslim dan salah satu sebabnya yaitu diturunkan misi di mana Muhammad sebagai Rasulullah SAW ke muka bumi. Fakta bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat untuk alam raya adalah sebab kenapa Nabi SAW dan Islam diturunkan ke muka bumi. Kita harus bangga karena kita mendapatkan rahmat. Tapi lebih dari itu, ada fakta yang lebih besar lagi, yaitu kitab suci yang telah Allah SWT janjikan akan abadi dan tidak pernah ternodai. Tidak ada seorang pun yang dapat meubah isi kitab suci.

Itu juga al-Qur’an yang dibaca di Indonesia, di Mesir, dan dibaca di Arab Saudi, dan negara-negara lain di belahan dunia lainnya. Al-Qur’an yang dicetak di Indonesia, itu jugalah yang dicetak di Mesir, dan di Arab Saudi. Al-Qur’an adalah satu-staunya kitab safawi yang tidak mengalami perubahan dan penyimpangan. Beberapa hari lalu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono memberikan saya satu hadiah berupa mushaf yang disebut mushaf Istiqlal. Dan saat saya membuka mushaf itu, saya menemukan kenyataan bahwa mushaf itu juga yang saya pakai sebelumnya. Mushaf yang juga dipakai saudara kita di Mesir dan Arab Saudi. Oleh karena itu kebanggaan yang kita miliki untuk menyatakan keabsahan kepada orang lain karena kitab suci ini yang telah diturunkan oleh Allah SWT.

Baik Saudara sekalian, al-Qur’an yang kita baca sekarang ini adalah juga al-Qur’an yang dibaca pada masa Utman bin Affan, khalifah rasyid Ke-3. Dan tidak ada perbedaan ataupun perubahan sedikit pun di dalamnya. Di samping itu, hal lain yang patut kita banggakan seperti hal yang telah disebutkan tadi bahwa Allah SWT telah mengutus RasulNya untuk memberi rahmat kepada alam raya, yaitu Muhammad SAW. Beliau adalah nabi rahmat yang diturunkan sebagaimana yang disabdakannya sendiri, “Aku adalah rahmat yang dihadirkan Allah SWT kepada kalian”. Rasul membawa rahmat tidak hanya untuk orang Arab tapi juga untuk seluruh umat manusia baik yang dekat maupun yang jauh.

Dalam sebuah pertempuran, ia melihat seorang perempuan dibunuh, dia marah besar kepada sahabat-sahabatnya, sambil berkata, “Tidak mungkin perempuan itu ikut perang dan tidak layak baginya dibunuh. Hal itu sangatlah dibenci Islam, walaupun dipaksakan”.
Dalam al-Qur’an pun kita dapat melihat, kita harus mendistribusikan rahmat kepada seluruh umat di dunia dan bahkan pada saat kita bertempur dan berperang dengan mereka. Allah SWT mengatakan bahwa merupakan rahmat, satu kesempatan yang Allah berikan untuk kita meraih kebebasan. Allah selalu mengakhiri pertempuran besar. “Sesungguhnya Allah telah menolak tipu daya musuh dan Allah membebaskan kamu dari peperangan.”

Cobalah perhatikan saudara-saudara sekalian, bagaimana Allah menjelaskan bahwa hari ini akan membebaskan kita dari peperangan. Tidak ada manusia yang senang pada perperangan, tidak pula ada yang menginginkan pertumpahan darah. Seandainya ada kesempatam emas untuk melakukannya, Rasul akan melakukannya untuk membunuh musuh-musuh. Tapi, beliau tidak melakukannya, malah membebaskannya. Saat orang-orang Arab Quraisy berada di Masjidil Haram dengan wajah penuh dosa, beliau berkata, “Apa yang kalian duga akan apa yang akan saya lakukan kepada kalian, wahai orang-orang Quraisy?” Orang Quraisy tidak ada yang menjawab, mereka tertunduk. Lalu dikatakan oleh seorang, “Kami menduga kamu akan melakukan hal yang baik kepad akami, karena kamu adalah saudara yang mulia, kamu tidak mungkin melakukan lebih dari itu”. Kemudian, Rasulullah melanjutkan, “Wahai orang-orang Quraisy, hari ini tidak ada darah, pulanglah kalian semua, hati ini tidak ada lagi pembalasan dendam”.

Kita dapat melihat ketulusan hati seorang Rasul kepada perdamaian, tapi lihat apa yang orang-orang Denmark lakukan? Mereka mengilustrasikan tentang Nabi SAW yang begitu banyak mengambil perempuan-perempuan di sekelilingnya sambil menghunuskan pedangnya yang haus darah. Itu adalah fakta yang sama sekali tidak berhubungan dengan Rasul. Karena fakta-fakta pada pertumpahan darah menunjukan dalam pertempuran paling sengit sekalipun beliau memiliki kesempatan balas dendam, beliau tidak melakukannya. Beliau mengatakan kepada sahabat-sahabatnya, “Pergilah kalian, tidak ada dendam, tidak ada darah hari ini”.

Berbangga sebagai Muslim tidak hanya dengan berkata-kata, melainkan juga dengan tindakan sehari-hari. Islam harus mewarnai segala aspek hidup kita, baik dalam berumah tangga, dan kehidupan sosial. Dan setiap Muslim disatukan dengan kaliamat “La Ilaha Illallah” yang diambil dari tafsir al-Qur’an. Dan itulah sebabnya kenapa dahulu kala Islam dapat berkembang degan begitu cepat, karena pada saat itu, para penyebar Islam lebih mendahulukan perilaku kehidupan mereka dibanding kata-kata.

Saudara-saudara, kita semua mengetahui, bahwa daerah ini telah dimasuki Islam tanpa sedikit pun perang. Islam dibawa ke Indonesia oleh pedagang-pedagang biasa, bukanlah oleh para ulama, para syeikh, atau pun guru. Dan mereka pun berdagang dengan akhlak yang baik, ini menjadi contoh yang baik dalam penyebaran Islam di Indonesia. Mereka menunjukan sikap yang jujur, maka saat penduduk Indonesia bertanya, “Kalian ini siapa?” maka mereka cukup menjawabnya, “Kami ini Muslim”. Itu cukup menjelaskan betapa luluhnya Islam. Dan kemudian, penduduk bertanya, “Apa itu Islam?” dan para pedagang pun menjelaskan, “Islam itu adalah sesuatu yang sangat sederhana, cukup katakan La Ilaha Ilaallah, dan selesai”. Lalu mereka pun bertanya, bagaimana cara masuk Islam? Dan para pedagang pun menjawab, “Cukup ucapkan La Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah”. Kita mengatakan Islam dengan menyatakan Iman dan istiqomah kita sehingga nampak dalam kehidupan kita. Maka orang Indonesia masuk Islam bukan karena pedang melainkan melihat akhlak terpuji dari para Muslim.

Ikhwan sekalian, setelah Iman, Islam, Istiqomah, dan Tauhid, kita harus dapat menyebarkan itu semua kepada saudara-saudara muslim yang ada di seluruh dunia. Jumlah umat Muslim sekrang mencapai 1,5 milyar adalah satu umat yang sangat besar saat ini. Tetapi umat ini memerlukan ukhuwah di antara mereka, sehingga akan menjadi kuat di mata orang lain. Ukhuwah adalah ajaran yang paling penting setelah Iman dan Istikhomah. Dan dengan ukhuwah kita dapat mengembangkan Islam dalam kehidupan sekarnag ini. Sekarang ini, saudara-saudara sekalian, walaupun kita adalah umat yang besar, memiliki kekayaan dan sumber daya, tetapi kita memiliki ukhuwah yang lemah, yang menjadikan kita umat paling lemah di antara saudara-saudara kita yang lainnya.

Coba kita saksikan bagaimana Rasulullah SAW mengatakan bahwa rusaknya hubungan di antara kalian adalah satu kebinasaan. Sebagaimana yang disabdakan Rasul, bahwa satu Muslim adalah bagian dari Muslim yang lain, kita adalah kesatuan organik. Dalam hadist yang lain bahwasanya, kaum Muslim adalah satu bangunan yang utuh. Saudara kita yang mengalami penyiksaan, maka kita pun merasakan hal itu, dan bukan malah tertawa. Kita melihat banyak musibah yang dialami saudara-saudara kita di Palestina dan Irak, begitu banyak pertumpahan darah di sana, dan kita berkewajiban memerdekaan daerah itu.

Di tengah permusuhan itu, di saat ancaman musuh-musuh Irak, dan Palestina yang sudah dijajah oleh Israel melalui orang-orang Yahudi. Mereka masih berperang di antara mereka orang-orang Palestina.Saya mengatakan kepada saudara-saudara kita di Palestina, antara HAMAS dan FATAH, mereka tidak boleh menumpahkan darah di tanah Palestina, hal itu tentu mengiris-iris jantung kita. Menurut saya, kaum Syiah paling bertanggung jawab terhadap partumpahan darah di Irak. Mereka memiliki kekuatan besar dan juga pemimpin yang berpengaruh, apabila pemmpin mereka berkata tidak, maka rakyatnya pun akan tidak melakukan. Saya telah mengatakannya kepada para tokoh-tokoh berpengaruh di Irak, agar mereka mengatakan kepada warga mereka untuk menghentikan pertumpahan darah di Irak karena tidak ada pemenang, malah akan merusak segalanya. Dan saudara-saudara sekalian, kita yang ada di Indonesia ini juga mempunyai peran dalam menciptakan kedamaian dan persaudaraan di muka bumi ini.

Hari Selasa yang lalu, saya berbincang dengan Bapak SBY hal ini , dan meminta beliau atas nama Indonesia untuk ikut serta berperan dalam hal ini. Karena Indonesia adalah Negara Islam terbesar saat ini.dan lebih dari itu, Negara Indonesia tidak memiliki masalah bilateral dengan Negara-negara Islam lainnya. Sehingga kita dipresepsikan sebagai Negara yang netral, oleh sebab itu Indonesia sebagai Negara besar memiliki kesempatan dan kemampuan untuk memainkan peran mediasi. Saya percaya bahwa insyaAllah, setelah kita memainkan peran mediasi ini, Indonesia dapat diterima dengan lapang dada di kancang internasional ini. Mereka akan mengetahui bahwa saudara-saudaranya di Indonesia mempunyai sejarah perdamaian yang panjang, netral, dan tidak memiliki beban psikis, politik, sosial, bahkan beban historis apapun. InsyaAllah akan menciptakan perdamaian dunia.


terjemahan oleh: H. Muhammad Anis Matta, Lc.

Tuesday, January 16, 2007

Lem Tikus

Kolom Curhat

"lelah tapi cihuy deh.." kutipan yang pas buat mendeskripsikan keadaanku beberapa minggu belakangan ini. seperti buku yang sedang saya baca, One Million 2nd Chances, Mario Teguh. ini adalah pilihan saya yang saya ambil dalam rencana merubah pemikiran saya selama ini dalam menjalani hidup. A big Break that I have trust on it.

dateline minggu ini:
1. 2 album training (Reguler Depok dan reguler BSD)-- finished
2. 2 resensi buku (Orhan Pamuk dan Mario Teguh)-- finished
3. 2 wawancara untuk profil selebritis (Elma Theana dan Denis "Bimo Jomblo" --pending
4. transkrip khutbah Yusuf al-Qardhawi di Istiqlal dari bang Ekky. ^_^, hiiii... bahasa Arab siy, tapi, aku minta Mbak Ana yang bagian bahasa Arab, saya bagian yang terjemahannya ajah dari Pak Anas. -- finished
5. liputan training TELKOMSEL on Jan, 17th

ditambah pe-er, progress report acara haflah. * walau kemaren saya sudah memutuskan untuk mundur kepada SC HAFLAH. ada kejadian yang bikin geli, dua hari saya berada di rumah. dua hari!!! dan berturut-turut. di dapur, sekitar jam setengah 10 malam, saya menginjak lem tikus. kaki jadi lengket, karena lem itu begitu lengket. aduh,, kacau banget deh.. untuk si ichsan lagi baik.. dia bantuin saya ngilangin itu lem.

cara ampuh mengatasi kena lem tikus Cap gajah:
1. Basahi bagian tubuh yang terkena lem
2. Ambil beberapa colek sabun cuci piring/baju.
3. Gosokan sabun tadi ke bagian terkena lem.
4. Bila membandel, bisa dibantu dengan sabut pembersih WC.

saat itu, saya dan 2 adik saya hanya bisa tertawa lepas.. abisnya... kena lem sampe berturut-turut gituh.. hahaha..

Monday, 15th. there were:
1. nyampe kantor jam 8 kurang 15
2. sempet OL bentar, ketemu Tuppi
3. makan bekel sarapan pagi
4. tulis resensi ORHAN PAMUK dan MARIO TEGUH..
5. BT gara2 ngomong sama salah satu temen di kampus *name closed*
6. keluar kantor, untuk meredam kekesalan, sambil makan siang ALONE. *di HADORI*
7. memutuskan untuk mundur jadi PJ ACARA HAFLAH ke Awwal.
8. ngedit karya alumni
9. dan yang bikin buruk.. saat lagi ngedit tuh tulisan, tiba-tiba, TIKUS menyenggl kakiku, aku ketemu TIKUS LAGI HARI INI. TIKUS ESQ... MENYENTUH KAKI KANAN SAYA..aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrghh TIDAK LAGI!!! musti cuci pake tanah, jijay banget.
10. ada orang kantor yang minta diajarin kirim testi di FS.. *kemana ajah, Mas Rizal..hihi
11. eh, yang bikin seneng IP udah keluar, dan nilaiku naik.... *IP tertinggi selama aku kuliah di UI* hahahaha... pantesan rekening aku naik lagi, beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) telah tiba.. hihihi...
12. LES LIA...
13. TIDUR..senin berakhir saat aku lelah menyalin khutbah Yusuf al-Qardhawi, dan lembaran puisi muraindra... ^_^



see yaa semuanya, I miss you.
Salam.

Thursday, January 11, 2007

January...o...January...

Masih menunggu ibu dan ayah pulang dari tanah suci. Sementara mengisi waktu liburan semester yang berlangsung sejak 25 Desember 2006 yang lalu, saya memilih untuk magang di Majalah Nebula ESQ, sebelumnya saya sudah menjadi koresponden untuk majalah tersebut sejak pertengahan tahun lalu. Namun, rencana di akhir tahun itu sempat hampir saja saya batalkan karena sakit, padahal keterangan dari universitas dan transkrip nilai sudah saya ajukan ke sekretaris redaksi. Mungkin karena belajar di bawah ketidakpastian, satu sub mata kuliah yang berharga 6 sks itu, dan ujiannya saya rasa gagal, saya benar-benar terpukul setelah waktu ujian berakhir siang itu, 20 Desember 2006. hari terakhir UAS itu membuat saya benar-benar terpukul, bagaimana mungkin saya harus mengulang tahun depan, ow, tidak!!!

Saat ayah mengirimi saya sms, menanyai kabar nenek dan adik-adik di rumah, saya pun akhirnya bercerita, kalau saya takut tidak lulus. Tapi, ayah bilang: kamu mesti banyak belajar lagi kalau gituh. Yaa, perasaan saya agak lega, walau belum seberapa. Sore hari itu, saya diajak menghilangkan pusing-pusing, penat-penat, dan menghibur diri oleh teman saya. Akhirnya kamu pun hunting yang lucu-lucu di ITC Depok.. Lumayan menghabiskan beberapa persen dari honor nulis bulan itu. Beli pakaian buat magang, beli hadiah buat adik-adik, dan lain sebagainya.

Esoknya, saya langsung pulang ke rumah, berangkat pagi dari kosan, dan melepas rindu dengan rumah kebun di Serpong. Lelahnya perjuangan UAS semester lima.. menutup tahun 2006, saya sempat masuk ke kantor hanya satu hari di tanggal 27, selebihnya, saya liburan (bad-rest) hingga tanggal 2 Januari. Di malam tahun baru, yang biasanya saya habiskan bersama keluarga menyambut ulang tahun ibunda tercinta, sekarang, kami berempat bikin sate. Sate babak pertama banyak yang gosong, karena Ichsan belum nemuin celahnya, selanjutnya, enak tenan...

Memasuki minggu kedua saya magang di Nebula, saya membaca beberapa buku bagus untuk diresensi, yang pertama buku Mario Teguh, lalu yang kedua, buku Orhan Pamuk, pemenang Nobel Sastra 2006 dengan judul novelnya My Name is Red. Namun, keduanya belum ada yang selesai, karena pulang magang rasanya cuapee banget. Banyak banget kerjaannya. Hm, bulan Januari pun, aku cuma melahirkan beberapa puisi untuk kolaborasi dengan Moeraindra. Tapi, itu pun belum saya kirim buat dia, karena masih perlu pengendapan. Melihat beberapa waktu ini, saya menulis dengan sangat melankolis sekali. Mungkin, memang udah dari sananya, pribadiku begitu, tapi, belakangan semuanya sangat berpengaruh kepada tulisan-tulisan saya.

Moeraindra menulis banyak puisi dalam bahasa Inggris, dan hal itu mengingatkan saya masa berjaya saya memahami bahasa inggris sejak SD. Huaah.. itu beberapa tahun yang lalu. Lalu, saya bingung, kemana bahasa inggris saya? Hm, kenapa saya jadi males berbahasa Inggris? Kebetulan, saat melihat spanduk di depan LIA DEPOK, akhirnya saya putuskan untuk ikut kelas bahasa inggris, dan mengambil kelas malam. Berharap dapat temen sekelas yang sudah kuliah, lulus kuliah, atau pun bekerja, eeeh, taunya,, banyakan anak SMA nya.. walau pun ada beberapa juga yang sudah lulus&kerja.
Sekarang, pulang magang hari Senin dan Rabu, saya langsung menuju Depok, sering kali saya langsung menuju LIA, tapi kemaren, saya sempatkan diri pulang dulu ke kosan, mandi dan berangkat dengan seger dan wangi.. hihi..beberapa kali saya langsung menuju Pizza Hut, makan sendiri di pojok ruangan, sambil membaca buku atau sekedar membuat sebait puisi tentang Cinta. Setelah bosan, dan menghabiskan satu pan pizza dan dua gelas coke, saya menuju LIA..Jam sembilan malam, kelas pun berakhir. Saya menuju kos, dan menyelesaikaan cucian baju, atau langsung menghadap komputer, mengerjakan apa saja, baru jam setengah sebelas, saya memaksakan diri untuk tidur.

Masih menunggu ibu dan ayah pulang, menit ketigapuluhdua beranjak dari pukul sembilan, aku lagi mendownload naskah yang masuk ke redaksi Nebula. Hari ini redaksi tampak sepi, beberapa reporter telah berangkat ke JHCC untuk meliput training Eksekutif bersama Ary Ginanjar, Mas Erwyn (wakil ketua redaktur kompartemen) mengikuti training ini sebagai giliran training karyawan.

Menyenangkan memang bisa mengisi liburan di sini, setidaknya, tidak ada waktu terbuang untuk bengong kaya ayam kesamber geledek, atau tidur kaya kebo di lumpur. Hihi.. kan semuanya tahu, kalau libur emang enakan tidur seharian, makan, tidur lagi, ngopi sambil nonton, main, shopping, aaah pokoknya yang nyenengin ajah, tapi, kalau atmosfernya orang-orang workaholic semua, kita juga jadi terpacu.

Yaa...senengnya, di sini, saya agak melupakan detik-detik pengumuman kelulusan semester ini di tanggal 12 Januari besok, karena di sini, saya ketemu crew yang kocak- macam Mas Hendi yang suka nambulin cabe rawit, Mbak Lisya yang suka riweuh sendiri, bang Ekky yang suka makan dan nyeletuk, ada Bang Nafi Medan yang kemejanya suka dikeluarin, Mas Erwyn yang tua tapi babyface, ada Cak Syamsul yang serius nge-lay out, ada Cak Fariz penganten baru pindah meja kerja sekarang ke bagian penerbitan, juga Pak Tatan, fotografer yang foto-fotonya keren-keren..dan ada beberapa orang lain yang aku gak terlalu akrab... dan memang mereka pun gak terlalu banyak ngomong sama aku. Hmm, pemred Nebula, Pak Yudistira, adalah orang yang penuh wibawa, penulis naskah Arjuna Mencari Cinta.

Sebenernya, di redaksi sini, saya agak kaget, karena ternyata, personel Nebula 165 sering ngaret Morning Breafing. Selama saya magang, saya selalu tiba lebh awal daripada mereka. Padahal saya sudah agak siang berangkat dari rumah atau pun kosan. Tapi, kadang atau bahkan sering kali mereka malam, lebih daripada jam 5 sore atau waktu yang ditentukan. Hm, di sini, kekurangan kursi dan desk, saya kadang harus bertukar temat beberapa kali untuk menyelesaikan tulisan. Sebenernya mau bawa laptop dari rumah, tapi, ribet bawanya, soalnya musti naik angkot atau naik deborah dari Depok. Tapi, kalau gak ada yang make, lumayan lah, seharian YM ku OL, yaaa, internet along the day…
Minggu depan dateline majalah, pasti akan lebih sibuk… jadi saya mau akhiri dulu kolom curahat hati kali ini. See yaa…

Salam,
Yusako