Thursday, January 18, 2007

ini adalah transkrip khutbah Jum'at Yusuf al-Qardhawi

Khutbah: Yusuf al-Qardhawi
Tempat: Mesjid Istiqlal, Jakarta
Waktu: Jum’at, 12 Januari 2007


Bismillahirahmanirahim, ucapan salam pribadi saya, seluruh warga Qatar, dan seluruh saudara-saudara kita di Negara-negara Arab. Ini adalah kunjungan saya yang Ke-6 ke Indonesia. Dan setiap kali saya mengunjungi Indonesia, saya mendapatkan fakta bahwa Indonesia selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Ini adalah negeri yang paling saya cintai. Ini adalah negeri yang mempunyai tempat yang begitu lapang dalam hati saya. Oleh karena itu saya berdo’a bahwasanya InsyaAllah di masa yang akan dating, negeri ini akan memainkan peran yang lebih penting daripada hari-hari sebelumnya. Pada kunjungan terakhir sayadi masa presiden BJ. Habibie, saya menyaksikan satu fenomena kebangkitan semangatkembali kepada Islam, seperti yang sekarnag sudah lebih baik saya saksikan di kunjungan Ke-6 ini.

Saudaraku sekalian, Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat dan karunia. Karunia pertama yang diberikan Allah kepada kita adalah karunia kehidupan. Bahwasanya, kita dijadikan lebih unggul di antara makhluk lainnya di alam raya ini. Dan kehidupan ini yang memberikan kita hak-hak yang lain, eksistensi dan wujud hidup. Nikmat kedua adalah fakta bahwa kita adalah manusia, bukan hewan dan bukan makhluk lainnya. Dan manusia telah diciptakan dengan kelebihan-kelebihan disbanding makhluk lainnya. Allah SWT menumbuhkan alam raya ini untuk manusia. Karunia ketiga adlah karunia akal. Inilah yang membedakan manusia dengan mahkluk hidup lainnya. Allah SWT memberikan kemampuan membaca, menulis, menjelaskan, keampuan artikulasi, dan memahami fenomena dan fakta-fakta dalam kehidupan dan alam raya ini. Tapi Saudara-saudara sekalian, dari semua yang Allah SWT karuniakan sebelumnya, ada karunia yang jauh lebih besar, yaitu karunia hidayah kepada Islam. Karunia itu adalah karunia petunjuk kepada umat Islam. Dan ini tidak diberikan kepada semua umat manusia, melainkan hanya diberikan kepada segelintir dari mereka. Karena itu kita bersyukur karena kita telah diberikan petunjuk dunia dan akhirta. Orang-orang yang merasa lebih baik daripada orang lain derajat keIslamannya, Allah menyatakan kepada mereka, bahwa kita mendapatkan karunia Islam dari Allah SWT. Di atas kesemua karunia ini Allah SWT menyatakan, “Bahwa hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, dan Aku ridho Islam sebagai agama kalian”, hal tersebut menunjukan bahwa kita mendapatkan karunia Islam dari Allah SWT.

Saudaraku, setiap satu nikmat atau satu karunia membutuhkan sebuah penghargaan, yaitu sebuah syukur. Apabil Islam adalah karunia terbesar yang lah berikan kepada kita. Allah SWT mengatakan bahwa setiap kali kalian mensyukuri satu nikmat, Allah SWT akan menambahkan karunia baginya. Dan apabila kita mensyukuri karunia Islam, maka kita harus melakukan beberapa hal, di mana kita harus berbangga bahwa kita adalah Muslim, kita harus mengatakan kepada semua orang, kita adalah umat Nabi Muhammad SAW, umat al-Qur’an, umat Tauhid. Kita mengangkat wajah kita kepada semua orang sambil penuh kebanggaan mengatakan bahwa saya seorang Muslim. Dulu sahabat-sahabat Rasulullah SAW pernah berbangga dengan pernyataan menjadi seorang Muslim, karena meraka mengetahui bahwa Allah telah mengatakan, “Siapa lagi yang lebih baik perkataannya selain mengajak kita kepada kebaikan, mengajak kepada jalan Allah, dan melalukan amal kebaikan dan juga mengatakan bahwa saya adalah bagian dari orang-orang Islam. Mereka menyadari ayat-ayat itu, oleh karena hal itulah, seorang dari mereka menyatakan, “Ayahku adalah Islam, tak ada ayah selain Islam, apakah semua orang berbangga dengan Islam, Ayahku Islam, mahzabku Islam.”

Mungkin orang mengejek Salman al-Farizai, mereka mengatakan, “Wahai Salman, kamu “ini putra siapa?” Salman yang dating dari Persia mengetahui bahwa dia datang dari sebuah peradaban besar Islam, dan sebabnya itulah, dia dapat berbangga dengan peradaban itu. Dia dapat mengatakan kepada orang-orang yangmengejeknya itu, “Saya orang Persi.” Tapi, dia tidak melakukannya, tapi dia mengetahui dia mengatakan, “Saya adalah Putra Islam”. Oleh karena itu, Rasulullah begitu respect kepada beliau dan mendeklarasikan kepada sahabatnya, “Salman adalah bagian dari keluarga kami”.

Saudara-saudaraku sekalian, kenapa kita haus berbangga adalah fakta bahwa kita adalah Muslim dan salah satu sebabnya yaitu diturunkan misi di mana Muhammad sebagai Rasulullah SAW ke muka bumi. Fakta bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat untuk alam raya adalah sebab kenapa Nabi SAW dan Islam diturunkan ke muka bumi. Kita harus bangga karena kita mendapatkan rahmat. Tapi lebih dari itu, ada fakta yang lebih besar lagi, yaitu kitab suci yang telah Allah SWT janjikan akan abadi dan tidak pernah ternodai. Tidak ada seorang pun yang dapat meubah isi kitab suci.

Itu juga al-Qur’an yang dibaca di Indonesia, di Mesir, dan dibaca di Arab Saudi, dan negara-negara lain di belahan dunia lainnya. Al-Qur’an yang dicetak di Indonesia, itu jugalah yang dicetak di Mesir, dan di Arab Saudi. Al-Qur’an adalah satu-staunya kitab safawi yang tidak mengalami perubahan dan penyimpangan. Beberapa hari lalu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono memberikan saya satu hadiah berupa mushaf yang disebut mushaf Istiqlal. Dan saat saya membuka mushaf itu, saya menemukan kenyataan bahwa mushaf itu juga yang saya pakai sebelumnya. Mushaf yang juga dipakai saudara kita di Mesir dan Arab Saudi. Oleh karena itu kebanggaan yang kita miliki untuk menyatakan keabsahan kepada orang lain karena kitab suci ini yang telah diturunkan oleh Allah SWT.

Baik Saudara sekalian, al-Qur’an yang kita baca sekarang ini adalah juga al-Qur’an yang dibaca pada masa Utman bin Affan, khalifah rasyid Ke-3. Dan tidak ada perbedaan ataupun perubahan sedikit pun di dalamnya. Di samping itu, hal lain yang patut kita banggakan seperti hal yang telah disebutkan tadi bahwa Allah SWT telah mengutus RasulNya untuk memberi rahmat kepada alam raya, yaitu Muhammad SAW. Beliau adalah nabi rahmat yang diturunkan sebagaimana yang disabdakannya sendiri, “Aku adalah rahmat yang dihadirkan Allah SWT kepada kalian”. Rasul membawa rahmat tidak hanya untuk orang Arab tapi juga untuk seluruh umat manusia baik yang dekat maupun yang jauh.

Dalam sebuah pertempuran, ia melihat seorang perempuan dibunuh, dia marah besar kepada sahabat-sahabatnya, sambil berkata, “Tidak mungkin perempuan itu ikut perang dan tidak layak baginya dibunuh. Hal itu sangatlah dibenci Islam, walaupun dipaksakan”.
Dalam al-Qur’an pun kita dapat melihat, kita harus mendistribusikan rahmat kepada seluruh umat di dunia dan bahkan pada saat kita bertempur dan berperang dengan mereka. Allah SWT mengatakan bahwa merupakan rahmat, satu kesempatan yang Allah berikan untuk kita meraih kebebasan. Allah selalu mengakhiri pertempuran besar. “Sesungguhnya Allah telah menolak tipu daya musuh dan Allah membebaskan kamu dari peperangan.”

Cobalah perhatikan saudara-saudara sekalian, bagaimana Allah menjelaskan bahwa hari ini akan membebaskan kita dari peperangan. Tidak ada manusia yang senang pada perperangan, tidak pula ada yang menginginkan pertumpahan darah. Seandainya ada kesempatam emas untuk melakukannya, Rasul akan melakukannya untuk membunuh musuh-musuh. Tapi, beliau tidak melakukannya, malah membebaskannya. Saat orang-orang Arab Quraisy berada di Masjidil Haram dengan wajah penuh dosa, beliau berkata, “Apa yang kalian duga akan apa yang akan saya lakukan kepada kalian, wahai orang-orang Quraisy?” Orang Quraisy tidak ada yang menjawab, mereka tertunduk. Lalu dikatakan oleh seorang, “Kami menduga kamu akan melakukan hal yang baik kepad akami, karena kamu adalah saudara yang mulia, kamu tidak mungkin melakukan lebih dari itu”. Kemudian, Rasulullah melanjutkan, “Wahai orang-orang Quraisy, hari ini tidak ada darah, pulanglah kalian semua, hati ini tidak ada lagi pembalasan dendam”.

Kita dapat melihat ketulusan hati seorang Rasul kepada perdamaian, tapi lihat apa yang orang-orang Denmark lakukan? Mereka mengilustrasikan tentang Nabi SAW yang begitu banyak mengambil perempuan-perempuan di sekelilingnya sambil menghunuskan pedangnya yang haus darah. Itu adalah fakta yang sama sekali tidak berhubungan dengan Rasul. Karena fakta-fakta pada pertumpahan darah menunjukan dalam pertempuran paling sengit sekalipun beliau memiliki kesempatan balas dendam, beliau tidak melakukannya. Beliau mengatakan kepada sahabat-sahabatnya, “Pergilah kalian, tidak ada dendam, tidak ada darah hari ini”.

Berbangga sebagai Muslim tidak hanya dengan berkata-kata, melainkan juga dengan tindakan sehari-hari. Islam harus mewarnai segala aspek hidup kita, baik dalam berumah tangga, dan kehidupan sosial. Dan setiap Muslim disatukan dengan kaliamat “La Ilaha Illallah” yang diambil dari tafsir al-Qur’an. Dan itulah sebabnya kenapa dahulu kala Islam dapat berkembang degan begitu cepat, karena pada saat itu, para penyebar Islam lebih mendahulukan perilaku kehidupan mereka dibanding kata-kata.

Saudara-saudara, kita semua mengetahui, bahwa daerah ini telah dimasuki Islam tanpa sedikit pun perang. Islam dibawa ke Indonesia oleh pedagang-pedagang biasa, bukanlah oleh para ulama, para syeikh, atau pun guru. Dan mereka pun berdagang dengan akhlak yang baik, ini menjadi contoh yang baik dalam penyebaran Islam di Indonesia. Mereka menunjukan sikap yang jujur, maka saat penduduk Indonesia bertanya, “Kalian ini siapa?” maka mereka cukup menjawabnya, “Kami ini Muslim”. Itu cukup menjelaskan betapa luluhnya Islam. Dan kemudian, penduduk bertanya, “Apa itu Islam?” dan para pedagang pun menjelaskan, “Islam itu adalah sesuatu yang sangat sederhana, cukup katakan La Ilaha Ilaallah, dan selesai”. Lalu mereka pun bertanya, bagaimana cara masuk Islam? Dan para pedagang pun menjawab, “Cukup ucapkan La Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah”. Kita mengatakan Islam dengan menyatakan Iman dan istiqomah kita sehingga nampak dalam kehidupan kita. Maka orang Indonesia masuk Islam bukan karena pedang melainkan melihat akhlak terpuji dari para Muslim.

Ikhwan sekalian, setelah Iman, Islam, Istiqomah, dan Tauhid, kita harus dapat menyebarkan itu semua kepada saudara-saudara muslim yang ada di seluruh dunia. Jumlah umat Muslim sekrang mencapai 1,5 milyar adalah satu umat yang sangat besar saat ini. Tetapi umat ini memerlukan ukhuwah di antara mereka, sehingga akan menjadi kuat di mata orang lain. Ukhuwah adalah ajaran yang paling penting setelah Iman dan Istikhomah. Dan dengan ukhuwah kita dapat mengembangkan Islam dalam kehidupan sekarnag ini. Sekarang ini, saudara-saudara sekalian, walaupun kita adalah umat yang besar, memiliki kekayaan dan sumber daya, tetapi kita memiliki ukhuwah yang lemah, yang menjadikan kita umat paling lemah di antara saudara-saudara kita yang lainnya.

Coba kita saksikan bagaimana Rasulullah SAW mengatakan bahwa rusaknya hubungan di antara kalian adalah satu kebinasaan. Sebagaimana yang disabdakan Rasul, bahwa satu Muslim adalah bagian dari Muslim yang lain, kita adalah kesatuan organik. Dalam hadist yang lain bahwasanya, kaum Muslim adalah satu bangunan yang utuh. Saudara kita yang mengalami penyiksaan, maka kita pun merasakan hal itu, dan bukan malah tertawa. Kita melihat banyak musibah yang dialami saudara-saudara kita di Palestina dan Irak, begitu banyak pertumpahan darah di sana, dan kita berkewajiban memerdekaan daerah itu.

Di tengah permusuhan itu, di saat ancaman musuh-musuh Irak, dan Palestina yang sudah dijajah oleh Israel melalui orang-orang Yahudi. Mereka masih berperang di antara mereka orang-orang Palestina.Saya mengatakan kepada saudara-saudara kita di Palestina, antara HAMAS dan FATAH, mereka tidak boleh menumpahkan darah di tanah Palestina, hal itu tentu mengiris-iris jantung kita. Menurut saya, kaum Syiah paling bertanggung jawab terhadap partumpahan darah di Irak. Mereka memiliki kekuatan besar dan juga pemimpin yang berpengaruh, apabila pemmpin mereka berkata tidak, maka rakyatnya pun akan tidak melakukan. Saya telah mengatakannya kepada para tokoh-tokoh berpengaruh di Irak, agar mereka mengatakan kepada warga mereka untuk menghentikan pertumpahan darah di Irak karena tidak ada pemenang, malah akan merusak segalanya. Dan saudara-saudara sekalian, kita yang ada di Indonesia ini juga mempunyai peran dalam menciptakan kedamaian dan persaudaraan di muka bumi ini.

Hari Selasa yang lalu, saya berbincang dengan Bapak SBY hal ini , dan meminta beliau atas nama Indonesia untuk ikut serta berperan dalam hal ini. Karena Indonesia adalah Negara Islam terbesar saat ini.dan lebih dari itu, Negara Indonesia tidak memiliki masalah bilateral dengan Negara-negara Islam lainnya. Sehingga kita dipresepsikan sebagai Negara yang netral, oleh sebab itu Indonesia sebagai Negara besar memiliki kesempatan dan kemampuan untuk memainkan peran mediasi. Saya percaya bahwa insyaAllah, setelah kita memainkan peran mediasi ini, Indonesia dapat diterima dengan lapang dada di kancang internasional ini. Mereka akan mengetahui bahwa saudara-saudaranya di Indonesia mempunyai sejarah perdamaian yang panjang, netral, dan tidak memiliki beban psikis, politik, sosial, bahkan beban historis apapun. InsyaAllah akan menciptakan perdamaian dunia.


terjemahan oleh: H. Muhammad Anis Matta, Lc.

1 comment:

  1. terima kasih sharing info/ilmunya...
    saya membuat tulisan tentang "Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!"
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    ReplyDelete