Thursday, January 25, 2007


Judul Buku : Musafir Cinta
Judul Asli : Qutrotun Min Ad Dumuu’
Pengarang : Shamiroh
Alih bahasa : Darsim Ermaya Imam Fajrydin
Penerbit : Navila
Cetakan : IV, Juli 2004
Tebal : 136 halaman


Buku karangan Shamiroh yang berjudul Musafir Cinta ini mengkisahkan perjuangan seorang gadis muda belia bernama Dzikra yang mengalami tekanan batin dalam hidupnya akibat tekanan adat sukunya hingga membuatnya menjadi bisu. Namun ia tidak menyerah, justru dengan kondisi itu mencoba tetap tegar dan terus berkarya. Ia mempunyai tekad untuk melawan ketidakpedulian masyarakat dengan karya-karyanya. Berikut adalah sinopsis kisah tersebut.

Dzikra adalah anak Syaikh Mahjub yang merupakan salah satu keturunan Arab Badui yang menetap di daerah padang pasir Nejed. Dzikra berusia sepuluh tahun dan merupakan anak yang periang dan mudah bergaul. Sementara ibunya bernama Rukiyah, usianya terpaut duapuluh tahun lebih muda daripada Syaikh Mahjub.
Suatu pagi, Amir, seorang keponakan Syaikh Mahjub dari Asyir mendatangi kemah mereka di Nejed. Syaikh Mahjub begitu gembira dengan kedatangannya, dengan antusias dia menyambut kedatangan Amir. Amir bermaksud tinggal bersama pamannya itu karena dia sudah sebatang kara. Namun, dia tidak menyangka kalau pamannya ternyata telah mempunyai keluarga. Awalnya Amir ingin mengurungkan niatnya, tapi Syaikh memaksanya untuk tinggal dan bahkan meminta Amir menikahi anak perempuannya, Dzikra. Amir menolak permintaan Syaikh dan hal itu menyebabkan Amir diusir dari kemah. Sebenarnya, Amir dan Rukiyah saling jatuh cinta, walau keadaannya demikian, Rukiyah dapat memendam perasaannya. Syaikh naik pitam dan seketika saja membunuh Amir, saat mengetahui istrinya sedang berdua dengan Amir, padahal saat itu Amir hanya ingin berpamitan. Dzikra mengetahui hal tersebut. Penduduk setempat mendatangi rumah Syaikh. Dan membawa Rukiyah yang dituduh berzina. Kesedihan bertambah lagi saat Dzikra melihat ibunya dilempari penduduk hingga ajalnya.

Hal inilah yang menyebabkan Dzikra mengalami ketertekanan jiwa yang akhirnya membuatnya bisu. Dia dirawat di sebuah panti di kota Riyadh. Nadhiroh, pemimpin panti merawatnya dengan baik, hingga Dzikra dapat lebih terbuka di lingkungannya. Namun, suatu hari, Nadhiroh jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia, Dzikra merasa sangat sedih, karena saat dia baru saja belajar untuk menata kehidupannya, orang yang ia sayangi harus menghadap Sang Pecipta.

Dokter Ashim, dokter dengan keikhlasan dan kesabarannya merawat Dzikra, ternyata jatuh cinta terhadap Dzikra. Melihat Dzikra yang sangat terpukul dengan kematian Nadhiroh, ia memutuskan mengajaknya pindah ke Rumah Sakit Syamis, Riyadh.
Dzikra yang telah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan memiliki berjuta pesona pun ternyata menyimpan perasaan cintanya terhadap dokter. Dikarenakan keadaannya yang bisu, dia merasa tidak akan membahagiakan dokter Ashim. Namun, perasaannya terungkap saat Ashim menemukan catatan Dzikra terselip di buku bacaan yang dipinjaminya pada Dzikra. Namun, sejak itu, Dzikra jadi menghindar, ia pun pindah tugas ke Rumah Sakit Mina, di Makkah al-Mukarramah. Walaupun keadaan begitu membuat Ashim terpukul, Ashim tetap berusaha menyembuhkan Dzikra dengan mengirimnya ke London untuk berobat. Awalnya Dzikra merasa hal itu dikarenakan Ashim hanya kasian terhadapnya, namun akhirnya, Dzikra dapat pula merasakan perasaan tulus Ashim.
Lagi-lagi pergulatan terhadap perjalanan Dzikra berlanjut, orangtua Ashim tidak menyetujui hubungan mereka. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia meninggalkan rumah. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit untuk menemui Dzikra. Namun, takdir berkata lain, Ashim mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal.

Semenjak kematian Ashim, Dzikra pun merasakan kematian jiwanya lagi. Tidak berlarut-larut dalam kesedihan, Dzikra pun bernadzar kembali ke panti di mana ia dirawat dahulu dan mendidik para remaja dan menulis sebuah buku berjudul “Nasehat wanita Bisu”. Yang ternyata setelah diterbitkan, buku ini mendapat perhatian besar dari banyak orang. Dzikra pun menjadi orang kaya dan banyak yang ingin bersahabat dengannya.. Walau demikian, hal itu tidak menjadikannya sombong, ia tetap hidup dengan sederhana dan selalu teringat Ashim.


*** buku ini lumayan juga, buat yang seneng kisah drama atau telenovela, pas banget. tapi yang ini punyanya orang Arab. ***


Depok, Desember 2006

0 komentar:

Post a Comment