Thursday, March 08, 2007

Kunjungan Mahkamah Agung Iran Ke UI


Depok (7/3)- Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Indonesia bekerja sama dengan Embassy of Islamic of Iran mengadakan Stadium Generate bertajuk “Islam and Comtemporary Judicial Issue” atau Islam, HAM, dan Isu-isu Kontemporer. Bertempat di Balai Sidang Djokosoetono Fakultas Hukum UI, kuliah umum yang diisi oleh Ayatullah Sayyed Mahmud Hashemi Shahrudi, Head of Judiciary Islamic Republic of Iran, dihadiri pula Duta Besar Iran beserta para staf dari Kedutaan Iran dan diikutsertai oleh sekitar 200 peserta, antaranya para dosen dari UI, UNAIR, USU, Universitas Bengkulu, dan mahasiswa.

Dalam kunjungan itu, Ayatullah Husein mengangkat isu seputar Islam, hak-hak asasi manusia dalam pandangan Islam, dan perbandingan antara hukum Islam dan barat. Ayatullah menyoroti pula keadaan hukum di dunia sekarang ini, bahwasanya, Barat telah mendominasi dunia dengan konsep-konsep hukum yang mereka sah-kan dengan sendirinya, dan dijalankan sesuai keinginan mereka. Seperti, paradoks dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan deskriminasi yang dilakukan AS kepada warga dunia yang tidak bersalah.

Ayatullah pun berpendapat bahwa perilaku AS yang telah menghancurkan infrasruktur negara-negara lain di dunia tanpa mandat PBB adalah melanggar hukum internasional. Zionis di Palestina, berdasarkan Dewan Hak-hak Asasi Manusia, seperti diungkapnya, adalah wujud lain Apartheid di Afrika Selatan. “Ini adalah hak umat Palestina untuk membela negaranya yang tidak boleh disamakan dengan sebuah tindakan terorisme” katanya. Sementara, setelah kejadian tragedi WTC beberapa waktu yang lalu, AS dan negara-negara di Eropa menghadapi terorisme dengan memata-matai warga negara lain dan warga negaranya sendiri. Sekarang PBB , yang mengatur HAM, seharusnya memperhatikan pula HAM melalui sudut pandang Islam dan tidak hanya dalam konsep Barat.

Beberapa hal yang sempat diutarakan Ayatullah di akhir kuliah umum tersebut adalah bahwa konsep terorisme, HAM, HAM dalam pandangan Islam adalah celah antara dunia Islam dan Barat, negara-negara yang mengklaim dirinya memberantas terorisme memiliki tujuan yang berbeda, hal ini dapat menjadi celah baru bagi sebuah penjajahan. Selain itu, menurutnya tidak adanya kordinasi regional akan menjadikan kegagalan dalam memberantas terorisme. Menurutnya, dalam memberantas terorime tidaklah boleh dengan kekerasan. Karena, tuturnya lagi, Islam adalah agama perdamaian dan kasih sayang. Bagi Islam, terorisme adalah perilaku yang sangat jahat. Sehingga, dunia ini tidak akan berjalan lancar apabila masih ada yang menerapkankekerasan, kezaliman, dan terorisme. “Saya menawarkan kita menciptakan keadilan untuk menciptakan kedamaian dengan menerapkan ajaran-ajaran Islam” katanya.

(yulisaja@gmail.com)

0 komentar:

Post a Comment