Danboo

Danboo tuh kependekan dari Danboard, dibuat dari kertas karton board. Yang pertama kali mengkreasikannya adalah Azuma Kiyohiko seorang komikus serial manga Yotsuba

Do'a di Tahun Baru 2012

Sobat yusako... akhirnya bisa ketemu blog lagi.. :) Subhanalloh Allah masih memberikan kita kesempatan untuk terus meng-upgrade diri kita.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Pelajaran dari Dapur

Seorang ayah dan anak laki-laki nya sedang bercakap-cakap sore itu. Ayah nya menunjukan tiga benda yang ada di dapur. Ada wortel, ada telur, dan ada juga kopi.

Aku ingin hidup!

Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium

Sunday, September 30, 2007

ingat setahun yang lalu...

ingat setahun yang lalu...


semoga teman-temanku selalu diberi kesehatan oleh Tuhan. Amin.
Buat Tommy, semoga cepat selesai urusannya, sukses kerjaan di Riaunya, salam juga buat Bapakmu, Tom, semoga bapak kamu cepet sembuh yah. Buat Mbak Santi, gimana kandungannya, aku bakal punya ponakan niy... Novel puasa gak kau? hehe... Minke, sorri-sorri yah,,, gak bisa datang terus kalau kalian ngumpul.. banyak kerjaan eui... Adi, katanya mau tunjukin sulap? kapan? Timur makin produktif nulis cerpen niy? alek masih kemeja merah? Mbak Inten, apa kabar? Moer? hm, sibuk terus kayanya...

amel? amel masih di Sydney...saya masih lieur in sama skripsi...






Hei, kawan.. Leo masih ajah pusing tuhhh megangin kepala melulu.. hehe... apa kabar yaa si Leo di Lampung? hmm..semoga kalian semua sukses ya!!!

salam sajak saja.

yusako.

Membaca bacaan tasawuf

Membaca bacaan tasawuf tentu bukan hal yang menarik buat kita mahasiswa, bahkan gak banyak orang yang tau apa itu tasawuf...

Tasawuf 'sufisme' adalah nama yang biasa dipergunakan untuk menyebut mistik Islam. Makna Mistik itu terkandung sesuatu yang misterius, yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Misteri dan mistik berasal dari kata Yunani, Myein "menutup mata". Mistik telah disebut "arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama". Dalam artianya yang paling luas, mistik bisa didefinisikan sebagai kesadaran etrhadap Kenyataan Tunggal--yang mungkin disebut kearifan, Cahaya, Cinta, atau Nihil. (Pengantar terbaik tentang mistik masih tetap karangan Evelyn Underhill, Mysticicism; A study in the Nature and Developement of Man's Spiritual Conciousness, 1991: Edisi paperback, New York, 1956)

Dalam buku "Dimensi Mistik Dalam Islam" milik Annemarie Schimmel, yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono, Achadiati Ikram, Siti Chasanah Buchari, dan MUtia Muzhar, diterbitan tahun 2000 oleh Pustaka Firdaus ini membahas banyak seluk beluk per-tasawuf-an.

Dibuku ini tidak haanya dipaparkan mengenai tasawuf klasik, tasawuf teosofis, tasawuf di Indo-Pakistan ( tarekat Naqshabandi, misalnya yang sekarang juga terdapat perkumpulannya di Indonesia) tapi juga tarekat-tarekat sufi dan juga kesusasteraan sufi.

sastra sufi? ini yang menarik buat kita ketahui loch.. sastra sufi bisa berupa puisi dan prosa. sastra sufi kadang sangat halus dan radikal..hm,, i mean, kadang kala, puisi-puisi sufi mempertanyakan eksistensi seonggok manusia di muka bumi ini.. dan juga ke-eksistensian Tuhan, sebagai Zat Yang Maha Besar...

coba deh temen-temen nikmati sastra sufi.. para filsuf MUslim, seperti Ibnu Sina, Ibnu Farabi, Ibnu Batuta... dan banyak filsuf lainnya. OK, berikut adalah beberapa cuplikan puisi yang ada di buku tersebut..


Apabila magnet tak melihat kasih, bagaimana ia dapat menarik besi dengan rasa rindu sedemikian?
Dan bila kasih tak ada, jerami tidak akan mencari warna kuning keemasan.
(Ibnu sina, Risala fi'la-'ishq)

Bila surga tidak sedang jatuh cinta, dadanya tak melihat kesucian, dan bila matahari tak sedang jatuh cinta, tak kan ada cahaya dalam keindahannya.
Dan bila tanah dan gunung bukan kekasih, rerumputan akan tumbuh dari dada mereka
(D 2674, Mzami dalam Masmur, Khosron Shirin)

Hatiku bisa berbentuk apa saja
biara bagi rahib, kuil untuk berhala
padang rumput untuk rusa
Ka'bah bagi para penggemarnya
lem[engan-lempengannya Taurat, Qur'an
kasih adalah keyakinanku: ke mana pun pergi
unta-untaNya, kasih tetap keyakinan dan kepercayaanku.
(Ibn Arabi, Tarjuman, ed. Nicholson, no.11, baris 13-15)

O suara di gurun--seakan bung belibis menangis.....
menangis dari perairan yang dalam--itulah keluhan kasih
O suara di gurun, seperti bunyi sebuah biola--
Itulah nyanyian kasih--hanya yang tidak menyadari menganggapnya sebuah lagu wanita
(Shah 'Abdul-Latif."Sur Ma'dhun" dalam Shaha jo risalo, ed. Kaylan B.Adwani. Bombay, 1958, 1:baris 21-22)


So, sufi gak selalu berkenaan dengan semedi di gua atau juga berdo'a sepanjang hari.. kita juga bisa belajar sastra dari kesusasteraan sufi tersebut... (kita ga harus jadi seorang sufi dengan cara semedi koq.. malah kita harus tetap berusaha disamping berdo'a, bukankah demikian?)

Depok, yoe, 12/12/06


tulisan ini jadi mengingatkan saya pada awal-awal saya berkenalan dengan yang namanya tasawuf. ilmu yang sepertinya aneh ditelinga saya waktu itu. setelah baca beberapa buku, ternyata menarik juga. buat saya, tasawuf itu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. bagaimana pun sebagai manusia kita musti terus berusaha menjalani hidup ini, tidak bisa hanya berdoa dengan semedi di gua, atau berdzikir sepanjang waktu tanpa mengerjakan hal lain. bukan tasawuf yang seperti itu yang bisa kita kerjakan di jaman modern seperti sekarang, tapi, tasawuf modern telah membuka lebar-lebar kesempatan buat kita, berdzikir dalam tiap ibadah kita, niatkan karena Allah, beribadah seolak-olah Allah mengawasi kita. ditambah bumbu ikhlas. InsyaAllah, ibadah kita, dzikir kita, ingat makna dzikir kan berarti mengingat, itulah tasawuf kita... kesucian kita untuk bisa dekat dengan Allah. Amin.... (30/09/07)

-----------------------------------

refreshing...

mau ke Gramedia dari minggu lalu gagal terus... akhirnya siang itu, setelah ngapu taman uhui yang seabreg-abreg luasnya, banyak daun keringnya.. dan sudah menjadi jadwal pribadi, tiap Jumat bersih-bersih halaman rumah. sudah pegel-pegel nyapuin halaman itu, saya cepat ganti pakaian dan keluar rumah. membawa 2 buku yang saya pinjam di perpustakaan untuk difoto copi, ada beberapa halaman buku yang ingin saya copi. ok, jalan kaki ke luar komplek, lumayan panas. udah setengah sebelas. hm... setelah titip buku di foto copy-an, saya bergegas nunggu bus, mau ke gramed di WTC...

niat cari buku-buku yang kontemporer ttg perjalanan spiritual. ingat titipan ario, sampai di Gramed, saya langsung ke rak buku sastra. dan alhamdulillah, masih ada satu buku Perempuan di titik Nol, tapi, saya gak punya pulsa untuk kabarin ario, kalau-kalau dia udah beli, kan mubazir ni kalau saya beli juga, buat siapa? di rumah udah punya satu. akhirnya, saya keluar WTC ke XL CENTER yang ada di salah satu ruko dekat situ... eh... ketemu mas Didi, mas-mas yang anggota cubersastra.net yang dulu ngenalin aku duluan waktu aku datang di OdeKampung... dia mau salat jum'at.. ya udah salaman gak kena, takut dia udah punya wudhu gituh.. hehe..

di XL center, saya bayar bill-xl saya, dan sekalian ganti alamat pengiriman bill ke rumah, karena saya sudah tidak di kosan. selesai itu, saya langsung sms ario, tapi kan ario juga salat jumat..akhirnya lama baru dbalas. saya sempatin baca-baca buku-buku di rak Islam. alhamdulillah, dapat buku judulnya
"Tasawuf dan Ihsan".





wah, cocok ajah, terbitan Serambi. kayanya terpercaya lah. udah itu, liat buku judulnya
"Obat Stres ala Islam", buku saku gituh, lumayan buat kalau lagi di jalan, bosen..bisa baca-baca buku kecil... ambil...

lalu, lihat buku judulnya "Perjalanan Spiritual Empat Imam Madzhab",

ini dia... dulu sebelum dapat kuliah Islamologi sama Ibu Dualismejurusan, saya gak tau apa-apa tentang imam-imam itu, say cuma jalanin Islam sepengetahuan saya. tanpa tau madzhab apa. cuma tau kalau kita ini (Islam di Indonesia) Sunni. sebenernya Sunni itu apa, gak tau juga... orang tua juga tidak pernah membatasi kita Nu, atau kita Muhammadiyah. hmm... pokoknya keluarga kami menjalankan saja ajaran al-Qur'an dan hadits, begitu kata ayah. bentuk amalan-amalan asalkan tidak bertentangan dengan hukum Islam dan tuntunan Rasulullah. Islam itu mempermudah kehidupan bukan?

nah... biar ada buku bacaan buat disharing bersama temen-temen yang tanya2 ttg madzhab (kaya waktu Aleknya inten tanya ttg itu sama saya, saya cuma bisa jelasin dikit, tapi kiranya sekarang, saya punya rekomendasi buku ringkas ttg madzhab) sekalian lengkapi perpustakaan pribadi gituh..

lama baca-baca, sadar-sadar, koq rak Islam makin banyak didatangi pengunjung Gramedia, umumnya bapak-bapak pekerja kantoran, pakai kemeja..rapi.. (pulangsolat Jumat kayanya sih), ada juga mbak-mbak, yaa..cukup ramai lah rak agama itu. saya perhatikan mereka, mereka membaca back cover buku yang menarik buat mereka, serius..membolak-balik, dan begitu lah.. Ya Allah, kau bukakan hati kami untuk mempelajari ilmu di muka bumi juga ilmu tentang akhirat nanti. ilmuMu tak terbatas, Ya Allah.

mau ke kasir, saya menemukan buku Rabi'ah al Adawiyah, seorang perempuan penyebar ajaran sufisme di awal-awal perkembangannya. Rabi'ah adalah penyair cinta sufisme. baris syairnya di cover: Tuhanku, Tenggelamkan aku dalam lautan Cinta-Mu.... tertarik ingin tahu lebih jauh ttg puisi Rabi'ah, seperti pernah diberitahu oleh Bu Dualismejurusan. yap..akhirnya selesai sudah berkunjungke Gramedianya... dan ini oleh-oleh buat perpustakaan pribadiku.. buku-buku Islam. (dulu kebanyakan buku sastra..hehehe...) Alhamdulillah sekarang bisa menyeimbangkannya. Semoga Allah senantiasa bersama umatNya yang selalu berusaha mendekatkan diri padaNya. Amin.


jumat, 28 september 2007, 18 Ramadhan 1427 H.

membuka folder...

membuka folder...

ini bulan september...hampir berakhir. ada gambar yang sengaja dibuat luntur. di sana tercatat namanya. moer.
sampai sekarang saya masih yakin sama motto pertemanan saya:
sekali teman tetap teman, no matter what happen.



membuka folder "A room of Moer Only" on Local Disk D://, rasanya ganjil sekali.
apa iyah dosa 'berteman dekat' dengan seorang moeraindra? fyuhh. semoga Allah tetap menuntunmu, bersamamu selalu.
amin.


ruangsajakku, september 2007.

emotional roller coaster!???

emotional roller coaster!???


setelah dapat acc. ttg judul dan sistematika penulisan dari Ibu Dualismejurusan, malamnya...saya membongkar perpustakaan ayah saya. satu per satu buku-buku keagamaan saya tarik dari tempatnya. tasawuf dalam sorotan sains, nasihat para sufi, gerakan islam modern.., dan banyak lagi. saya makin bingung, apa iyah, saya musti ngerunut sejarah tasawuf? seperti yang diinstruksikan Bu dualismejurusan... yaa.. sayangnya, saya gak kuat. untuk ilmu yang seabreg itu, saya makin kacau, membongkar juga buku-buku semester 3, waktu pertama dapat kuliah Islamologi.

dapat sih poinnya. tapi, besoknya..alias kemaren, saya bertemu Dr. Muhammed Lutfi, ketua Program pascasarjana kajian timur tengah dan islam yang juga dosen saya di program studi Arab sekarang, dan juga yang akan jadi penguji skripsiku nanti,,,, nah...saya utarakan poin2 yang saya punya, dan yang kemarin sudah didiskusikan dengan pembimbingku...tapi, dalam satu kata, beliau menolak teorinya. saya meminta dia kasih alasan, dan saya mencoba mencernanya. dan pikiran saya langsung melayang-layang lagi ke dunia lain.

bagaimana ini????? seribu tanda tanya besar ada di benak dan ingin saya muntahkan saat itu juga. deg-deg-an juga, karena apa?


satu alasan: Pak Lutfi kenal dengan tokoh yang saya akan bicarakan dalam tugas akhir saya (skripsi), dan bahkan, tokoh yang saya angkat ini adalah salah satu muridnya Pak Lutfi waktu di Australia. Astagfirullah!!!


saya benar-benar kebingungan. sampai-sampai, Arief, teman saya yang sedang menunggu bimbingan dengan Pak Kajur yang baik hati, saya minta duduk di sofa tempat berdiskusi di gedung jurusan itu.. saya muntahkan padanya, kebingungan saya. yaa..dia sih gak kasih apa-apa, masukan atau apa. setelah saya bingung luar biasa, akhirnya, saya ke ruang dosen, meminta waktu Pak Kajur untuk mendengarkan kembali keluh kesah saya, lebih ke arah rintihan hati mahasiswa yang dikejar dedlen skripsi sih... alhamdulillah dia bisa.


langsung saya ceritakan. bla...bla..bla.. dengan nada cerita yang desprado banget gituh kayanya. tapi, entahlah..emang dia Bapak Kajur yang bijaksana dan bersahabat dengan mahasiswa, *kami cinta sama dia deh, semoga Bapak diberikan kesehatan oleh Allah swt, Amin*, setelah bicara dengan Pak Kajur, saya merasa mendapat jalan terang. jalan keluar dari masalah ini. dan saya ingin menumpahkan haru saya, tapi tidak di ruangan itu. dan haru masih bisa ditahan hingga tugas akhir ini selesai. lega setelah bicara dengan Pak Kajur, saya menuju perpustakaan FIB, setelah dapat 3 buku, *2 buku bisa dipinjam, 1 buku tandon jadi batal dipinjam*. selesai mendapatkan buku yang dirasa relefan buat dibaca, saya menuju perpustakaan pusat UI, di sana saya dapat 3 buah buku. dari sana, segera saya pulang ke rumah. dan panas terik kembali menyapa saya lagi. dan benar-benar bulan Ramadhan yang berat tahun ini.


malam harinya.... saya membuka buku-buku yang sudah saya kumpulkan dari kemarin. saya menumpukkannya di atas sofa di kamar saya. memilah informasi yang lebih dulu musti diperoleh...dan pada sebuah buku, tiba-tiba saja....sebuah foto tua yang hitam-putih menyembul dari halaman buku.

foto ayah!





foto ayah waktu ayah masih muda, masih kurus, masih pakai pakaian teknisi, berfoto di depan sebuah alat di bengkel LUK BPPT. mungkin itu diambil sekitar 20 tahun lalu... lalu di benak saya terbayang sesuatu dan tiba-tiba saja terbentang suatu cerita yang sangat panjang..dan saya pun meneteskan air mata sambil memegang foto itu. sekarang ayah bukan lagi teknisi yang bekerja di bengkel LUK, sekarang ayah punya ruang sendiri di kantor B2TKS (nama baru LUK). ayah sudah jadi orang penting. ayah banyak pekerjaan, sebenernya, ayah sudah semakin tua, tapi pekerjaannya semakin banyak.


semoga ayah diberikan kesehatan oleh Allah SWT, Amin,,,Amin,,, Ya Robalalamin. saya meneteskan air mata terus, karena terus mengingat perjalanan dan perjuangan ayah hingga kini. ayah dapat terus menyekolahkan keempat anaknya, memberi makan dan tempat tinggal yang layak, walau kami masih tinggal di rumah dinas... saya pernah berselisih paham dengan ayah. mungkin saya paling sering "bermasalah" sama ayah dibanding adik-adik saya. singkatnya, saya dulu sering "musuhan" sama ayah... tapi sekarang semuanya begitu berbeda. yaa.. perubahan itu memang sulit...tapi, musti selalu dicoba. semua orang punya sisi baik dan sisi buruk, dan kita diharapkan bisa memilahnya. itulah yang saya ambil dari figur ayah. dia punya sis baik, dan punya juga kekurangan... *semua orang begituh kan?* ayah orang yang jujur, maka dari itu dia banyak dijegal orang, orang-orang yang gak suka kebenaran. yaa... setelah hampir 20 tahun, baru sekarang semuanya dapat dibuktikan Allah, kekuasaan Allah-lah yang membuka tabir di muka bumi. nilai moral yang saya dapat dari perjuangan ayah dan semoga bisa saya terapkan dalam kehidupan saya adalah KEJUJURAN dan SELALU BERBUATLAH BAIK KEPADA ORANG LAIN DI SEKITAR KITA, BANYAK SEDEKAH DAN MEMBANTU SESAMA.



dan setelah memandang foto itu beberapa waktu, saya ingat; pasti ayah senang sekali saya akan lulus tahun ini juga. tau gak? setiap ayah memperkenalkan saya dengan relasi-relasi kantornya, ayah bilang; ini anak pertama saya...insyallah diwisuda bulan februari tahun depan. senang sekali sepertinya ayah anaknya bisa lulus 3,5 tahun... sore itu ayah bilang: kepakai juga yaa buku--buku ayah sama kamu... *buku-buku ttg pergerakan islam, ilmu islam, tasawuf, dll* padahal saya gak pernah tau ini sebelumnya ayah punya buku yang banyak manfaatnya. dulu waktu buka-buka buku-buku ayah, saya cuma baca tapi gak paham..sekarang baru nyambung.... ternyata...ini Jalan Allah... *yang kita inginkan belum tentu baik menurut Allah, sekarang ini, yang Allah tunjukan jalannnya buat saya ternyata bukti nyata dari pernyataan ini. Allah punya jalan lain untuk saya...makasih, ayah*


serpong, 28 september 2007

Friday, September 28, 2007

pusingnya skripsi ini... ayo...menghitung hari...

belakangan ini saya benar-benar pusing dengan tugas akhir yang rasa-rasanya gak ada kemajuan. dosen pembimbingku yang Ibu Dualismejurusan itu sibuk melulu. waktu ketemu dia meng-iyah-kan saja apa yang saya utarakan. saya juga tidak mengeluarkan buku bimbingan saya, karena saya masih ingin mengutarakan maksud yang sedang saya garap.

.. lewat dua minggu, semua tidak ada perubahan. saya baca buku ini itu..tapi belum ada titik terang, benang merah...yaa apa lag itu namanya. sampai hari ini, rabu 26/09...

selesai kuliah Sastra Populer, ikut kelas Ibnu Wahyudi dengan maksud belanja dan refreshing biar tetep cinta sama sastra Indonesia dan tentu cinta negara dan tanah air ini...saya rela abis subuh gak tidur lagi, untuk berangkat pagi-pagi, kuliahnya mulai setengah 8, kadang dosen yang juga sastrawan ini tepat waktu tapi kadang juga telat, seperti pagi ini... yaaa..

ok, kelas itu berakhir pukul sembilan. itu lebih limabelas menit, karena pak Ibn ke-enak-an ceramah dengan menyebutkan banyak judul karya-karya sastra baik dari luar negeri maupun produk lokal, yang jujur ajah, banyak yang belum saya baca. aduh..hampa jadinya... tapi saya tetep merhatiin dia bicara, kadang ikut tertawa saat dia melucu.

hari ini saya janji sama Bu Dualisme itu untuk bimbingan, kali ini saya bertekad untuk mendesak halus agar dia mau kasih masukan, alur, dan thesis yang baik. dan dia bilang jam 12. ada jeda 3 jam.

tapi, kenapa yaa..hari ini pusing banget. setelah bubar sastra populer itu saya menuju ATM BNI di gedung VIII, tapi ternyata rusak! padahal saya harus ambil uang untuk bayar les LIA. hm... saya putuskan jalan ke Margonda. di bawah terik matahari. dan sampai di Kober, saya malah browsing di CozyNet, tempat yang bersih virus, hehe... baca dan balas imel, dll. sampai akhirnya setengah 12-an. tapi...di luar bener-bener panas.. balik ke kampus dan naik ojek dari stasiun UI. itu badan udah lemes. tapi karena udah janji dan tekad musti ketemu Ibu Dualisme itu. sampai di ruang dosen, ternyata dia juga baru saja selesai ngajar. yaa akhirnya saya nunggu lagi di kursi diskusi di kawasan gedung Jurusan. sampai akhirnya dia muncul!

dan merubah semuanya! sementara saya meng-iyah-kan semua masukan dia, karena memang itu dia yang sebenernya ada di benak saya sejak dulu. tapi si ibu itu baru kasih bimbingan yang berkwalitas hari itu, walau kami sama-sama kurang fit. saya makin pusing, walau segalanya sudah agak tercerahkan. yaa.. tetep ajah musti ubah sedikit haluan dan merombak itu proposal alias bab I... fyuuhh...(helaan nafas panjang..)

si ibu bilang: 'yul, sorri banget yaa,, saya gak enak badan'
saya jawab,'gapapa, Bu...makasih banyak yah, Bu.. nanti diskusi lagi yah..'
sementara saya menahan rasa pening di kepala, saya sempatkan melempar senyum buat si Ibu.

sedang musim penyakit memang, semua anggota keluarga saya di rumah lagi kena batuk dan flu, alhamdullillah cuma saya yang gak kena.. hebat gak cih? hehehe.

Nah... tapi, saya pusing luar biasa. dari kampus->langsung naik ojek ke jalan Margonda. tapi...ATM nya kelewatan. aaah pokoknya ribet lah cari ATM BNI di Depok. 1 ada di FIB, 1 ada di FT, 1 ada di Bank BNI Cab. UI, 1 ada di BNI Margonda2, ada di BNI Margonda1... saya langsung ke margonda karena mau langsung naik angkot ke LIA.

ok, semua selesai. ambil uang, dan ke teller buat nuker jadi lembaran 5000, buat bagi-bagi angpau rencananya. ciee...gaya banget yaa.. yaa..dulu kan sering dikasih sama keluarga, kenapa gak sekarang coba berbagi...


dari LIA, udah gak tahan lagi. kepala pusingnya setengah gak berasa lagi. mata perih banget, badan kerasa terbakar. duduk di angkot sambil nutupin wajah pakai sapu tangan, kaki dengan buku tebal, cuma buat ngurangi terik matahari. gimana kalau muti ngerasain neraka? nauzubillah! Ya Allah, jauhkan hambaMu dari panas api neraka. Amin!


masih pusing. sampai di rumah tidur tepar, tapi kebangun masih pusing. langsung ambil obat, dan tidur lagi. dan bangun udah agak ringan, tapi masih cecenutan.

kayanya...ini dampak dari 1. emang udara sekarang lagi menyeramkan, global warming! ooo.... 2. musti rombak proposal... 3.gak dapat supply energi *kaya orang puasa, padahal lagi dapat kodrat sebagai perempuan*...

walau sebenernya nomer 2 itu lebih dominan... setengah 8, saya hubungi Tuppi mencurahkan kepeningan-kepeningan..dan tuppi selalu menjadi pendengar yang baik hati dan sabar. kali ini dia gak banyak nyela. bagus... hehe..

beberapa waktu sebelum membuka laptop ini, menulis laporan bacaan untuk tinjauan pustaka, ....terereng... 22:14 arul: there will be no progress if u keep on doing exacly the same way. ....

upsss... wah tepat waktu itu sms datangnya! baru sadar kalau selama ini kerjaan saya gak banyak kemajuan, karena usaha saya juga kurang keras.. sekarnag udah jam 12 teng... menyisihkan waktu untuk tidak tidur seperti musti lebih dibiasakan lagi... sembari selingan tadarus, baca buku-buku ilmu agama lainnya...masih banyak yang musti dikerjakan ternyata....


you say it best when you say nothing at all... lagu terakhir female love song; penutup siaran Angga di Female radio...nice.. apa tidur ajah sekarang yaaah? hehehehe.....

Wednesday, September 26, 2007

Angga send me this one, check this out!
final test and jump!



http://youtube.com/watch?v=74dYy1DN9wo

Ke Bantimurung yuk!!!




Ke Bantimurung yuk!!!
oo indahnya kupu-kupu!
warna-warninya adalah hari-hariku...
kapan kita ke Bantimurung?

mesjid di komplek PUSPIPTEK






mesjid ini kembali ramai
bulan Ramadhan...kembali mententramannya...
tapi, tahun ini, kenapa tidak seramai dulu saat aku masih jadi anak SD?

banyak saf ibu-ibu yang kosong...tidak sepenuh dulu, lebih banyak orang yang tidak kukenal.
kemana orang-orang komplek yah?

senja masih di cipularang





saat senja, aku pulang..
di sisi jalan ada gunung
ke langit seperti menengadahkan wajahnya
meminta hujan...

cipularang....





kadang rindu melintas di jalan itu
membelah gunung dan bersusulan dengan kereta yang lewat rel gantung
kadang rindu menyelip
saat aku melintasinya lagi, lagi, dan lagi...





Just to prove I was right that it's harder
to be friends than lovers and you shouldn't try
and mix the two, cause if you do and then you're still unhappy,
then you know that the problem is you (Liz Phair)

Born Without Defect

Born Without Defect*
by Matt Warren

I felt your ghost's sitting right beside me
I smell the smoke of your spirit passing by
i pray for you
as if you are my God
from neither heaven nor hell
just from writing this song
yeah,,, i'm finally somewhere
i'm suddenly empty
well, there's finally nothing
you can call me rigth to my face
and make me leave you

i keep on walking
through bars of misery
tryin' to remember all the good
you left me

i hear your voice
reaffirm in my brain
born without defect

oh..man..then who's to blame?
I miss your laugh
and your sport of revenge



*song of 45




if knowledge is power,
then passion is the engine,
body is the vehicle,
and conscience is the driver

You are so young
you heal as you weep,
and your tears
instead of scalding
your face like mine
absolve
simply as rain.



hm.... apa yaak?

Every Failure Comes To Rest
by Richard Barnes

How beautifully this quite soup
shines, these half-lit oval mirrors of oils
flickering in dark contemplation
in this room

high above the cacophony of wobbling sirens,
the ranting ex-marine next door,
beating, again, his wife.
Outside, the sky has become mighty with autumn, birds

start like rain drops in a puddle,
and chimneys trail the death of junipers.
It is the fragrance of unfoldinng light
breaking the surface of every spoonful

that brings us here, blessed with desire,
bread breaking over the still waters
of this nourishing good house.







Supplication At The River
For Majgan

By John Brehm

And then I would turn away
and into something other,
as if the way the water moves,
confluence of sources, metaphor
for everything, but essential and itself,
would be my way or moving

As if there realyy were some
possibilities, some place to go, and
not just this repetition of first lisses.
As if the self could be a departure,
even if only through a fresh grief,
that would be a returning and a beginning.

As if the water that I am
might find a better form,
rise above, in a body composed
of something other than lust and sorrow,
or simply slip down into this water,
which atones, and forgets, and need not speak.


....


rewritten sept 23rd, 2007

Monday, September 24, 2007

Menengok ke FIB bertanya pada UI, Ready to goes bla…bla..bla… ???!!!

Menengok ke FIB bertanya pada UI, Ready to goes bla…bla..bla… ???!!!


Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB)—salah satu fakultas yang akan kita perbincangkan dalam tulisan ini, berada di wilayah kampus Universitas Indonesia, Depok. UI sebagai kampus BHMN, kini memiliki visi agar dapat diakui sebagai Universitas riset yang merupakan pusat unggulan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Dengan misi sebagai berikut:
1. menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang bermoral serta memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang unggul dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
2. menemukan, mengembangkan, menciptakan karya di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya, serta menyebarkan demi kepentingan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia.
3. mengembangkan kepekaan dan kepedulian terhadap khidupan masyarakat.
4. ikut berperan dalam meningkatkan peradaban dunia melalui lulusan yang berwawasan global, toleran, dan cinta damai. (dicomot dari buku saku UI 2007)


music: GENDERANG UI

Universitas Indonesia
Universitas kami
Ibukota negara
Pusat ilmu budaya bangsa

Kami mahasiswa
Pengabdi cita
Kejar ilmu pekerti luhur
Tuk nusa dan bangsa

Reff:
Semangat lincah gembira
Sadar bertugas mulia
Berbakti dalam kary, Mahasiswa
Universitas Indonesia
Perlambang cita
Berdasarkan Pancasila,
dasar negara
Kobarkan semangat kita
Demi Ampera


Dari visi-misi yang dimiliki UI tersebut, sebenarnya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB—red) memiliki peran yang cukup strategis dalam menyukseskan visi-misi tersebut. Berulang kali, kata ‘budaya’ dicantumkan dalam visi-dan misi UI, serta lagu kebangsaan mahasiswa UI itu, namun bagaimana masyarakat awam melihat hal ini?

Masyarakat awan masih banyak yang tidak mengenal apa itu FIB? Banyak pula yang melihat sebelah mata saat tahu kalau dulunya FIB adalah FS. Loh? Kenapa bisa demikian yah?


*
Ilustrasi 1. Pembicaraan saya dengan salah satu aktifis narcis ITS (hehehe… nama dilindungi untuk menghindari si aktifis tambah tenar ajah..hiiiihiii…) pada 20 Sept’07 di YM!

-kamu di UI kan?
-iyah.
-btw ambil apa?
-hm… middle east and islamic studies
-wah, ada yah, itu di bawahnya HI (Hubungan Internasional—red) yah?
-bukan, under Arabic departement-fakultas ilmu pengetahuan budaya…
-wah bisa bahasa arab dong, ahlan wa sahlan
-ahlan bik..gitu sih bisa (berlaga jago gituh..hehe..)
… -apa itu? Ada yah fakultas gituh? Aku baru tahu…
-ya ada, sudah lama koq…
-maklum saya kan kuliah di kampus teknologi, jadi tidak ada jurusan seperti itu…
-bukan karena itu kali…mungkin karena anda terlalu aktif jadi aktifis di kampus sendiri, jadi berita kaya gini ketinggalan..heheh…
-hahaha… (dia tertawa).
…..
Dalam benak saya saat itu, 1. HI itu bukan fakultas, Kak, itu jurusan yang ada di bawah Fakutas Ilmu Sosial dan Politik. 2. Kakak yang satu ini ternyata selain sibuk dengan kegiatan perpolitikan kampus dan ilmu keteknikan, mungkin sedikit lupa tentang ilmu kebudayaan. (walau blog milik kakak ini cukup lengkap dan cantik dengan banyak pernik dan tulisan reflektif tentang kehidupan). 3. Middle east and Islamic Studies itu adalah penjurusan saya di program studi Arab, nama lain dari penjurusan itu disebut kelas Latar Belakang Budaya.

*
Masuk UI musti keluar kocek 5-25 juta, bahkan ada juga yang bayar lebih karena orangtuanya orang mampu bahkan berlebih mungkin.

Ilustrasi 2. Ah..sekarang mahal, Neng..masuk UI…katanya bayarnya gede yah, Neng? Begitu tanya seorang sopir angkot 03, jurusan Parung-Depok, suatu hari.

STOP!

Saya berpikir kata-kata apa yang musti saya lontarkan, MENG-IYA-KAN atau MEN-TIDAK-KAN. Saya teringat keadaan di kampus saya…

Dan saya menjawabnya: sebenarnya ada jalur keringanan untuk mahasiswa, Pak.. Anak-anak BEM aktif bantuin anak baru untuk keringanan, Pak.

Penjelasan saya tidak perlu merinci, karena si Bapak itu sebenarnya tidak butuh penjelasan saya, dia hanya butuh statement saya YA/TIDAK. Dan setelah itu biarkan si bapak berargumen sendiri, dan saya mendengarkan. Padahal saya tidak tahu juga kinerja BEM sekarang ini. Saya bukan mahasiswa aktifis, tapi juga bukan mahasiswa apatis. Ini saya apa adanya *ala..gak penting d..* hahaha…

*

Nama FIB yang semula dikenal sebagai Fakultas Sastra (FS—red) telah lebih dikenal sebagai fakultas yang bermuatan ‘manusia-manusia unik dalam tanda petik’. Mungkin segelintir saja yang memang yang berpendapat demikian karena belum ada polling-nya… Citra demikian sebenarnya dibentuk dengan (tidak) sadar oleh akademis di dalamnya. Terlepas dari nama FS yang kadang masih melekat di tubuh FIB, akademisi (mahasiswa—red) FIB masih belum terwadahi semua, baik dalam hal akademis, minat, dan organisasi.

Seperti yang kita ketahui, ilmu pengetahuan budaya amatlah luas, budaya mencakup banyak segi berkaitan dengan masyarakat selama manusia masih melangsungkan kehidupannya. Budaya bisa berkaitan dengan bahasa, sastra, kehidupan sosial, politik, sejarah, peninggalan sejarah, pemikiran tokoh, dan banyak lainnya. Gagasan ini cukup menarik, melihat perkembangan dunia global yang semakin pesat. Dan untuk menyiapkan produk-produk unggulan, nampaknya pihak fakultas mesti lebih mempersiapkan diri matang-matang. Hal ini patut dan tidak boleh tidak, karena persaingan global akan menyisihkan manusia yang tidak mampu bertarung secara global. Bukan bangga sebagai fakutas ter-asri di UI, karena punya air mancur, taman yang bagus, gedung yang nyeni, kantin kerucut, teater daun, atau situs arkeologi baru, dan lempengan karya seni apalah itu. Bukan itu. Ini adalah tantangan buat FIB.

Keadaan terkait hal itu adalah FIB masih sangat minim dalam penyediaan sarana komputerisasi di wilayah fakultas. Lab. Komputer sangat minim, terpusat di gedung VIII dengan komputer yang bisa dihitung jari dengan akses yang lemot dan bervirus.
Padahal menjadi fakultas budaya, bukan berarti kita tidak dapat menikmati kemajuan peradaban budaya manusia di bidang teknologi, bukan?

Benar, budaya ‘laptop’ telah juga menjamur di kalangan mahasiswa, namun…tidak semua mahasiswa dapat menikmati hal tersebut. Nampaknya, pihak fakultas terkesan menyamaratakan kemampuan mahasiswa masukan di tahun pertama di UI. Sehingga dapat kita temui seorang mahasiswa yang mengetik pun masih cukup lama, dan tidak begitu familiar dengan perangkat komputer, internet, apalagi aplikasi lainnya yang cukup ‘ribet’ untuk dipelajari.

Memang ini (keterampilan komputer—red) bisa dipelajari sendiri, namun…apabila fakultas memberi failitas yang baik, nampaknya akan memperbaiki pula skill mahasiswa, bila tidak memfasilitasi dengan baik, bagaimana mahasiswa-mahasiswa yang mengalami nasib tidak seberuntung pemilik laptop itu dapat memajukan skill mereka, di samping mereka pun harus menuntaskan SKS mereka pada waktu yang tepat. Seharusnya, kampus menjadi rumah kedua yang nyaman dan menyamankan….

*

Ilustrasi 3.

“Deew…” sambil cupika-cupiki. Rok mini ditambal celana strit agak nerawang, dandanan super tebel, dan tas jinjing merek Channel. Itulah Frizeenatasha.

“muah..muah..” balas Andrew. Lelaki yang agak ke’cewe-cewe-an gemar dandan, pakaiannya ngepres badan, suka pakai lipbalm, tas selempang, dan kuku yang rapi bekas di medi pedi.

“friz, loe tau gak kemaren waktu gue jalan ke PI, ada si Virgie bareng gandengannya yang baru… gue liat mesra banget pegangan tangan segala di eskalator… loe inget si Virgie kan? Anak Ing 2002 mantan si Boris guanteng abizz ituch?”

“yaa..i c, honey…kalau gak salah gue pernah liat dia jalan sama Mathew anak bule yang masih sekolah gituch..lupa gue sekolahnya apa…adik kelasnya di Janson.. anak mana dia dulunya?”

“ah…yang gue liat bukan bule, malah mas-mas gituch, say.. look likes om-om…”

*

Gubrak! Pemandangan itu bukan dalam mimpi lagi. Mungkin dulu, pemandangan tersebut masih merupakan mimpi buruk para orang kolot kita. Tapi, kini… tidak perlu menuju pusat perbelanjaan, mall, salon, atau tempat fitness untuk menemukan dialog dan uga dandanan ‘manusia’ muda Indonesia yang super kelewat batas alias di ambang garis kewajaran. Di kampus-kampus besar di Indonesia, kita kerap kali menemukan gejala yang hampir serupa dengan ilustrasi di atas. Ikuti ulasannya…

Budaya…o…budaya… kembali kepada ilustrasi 3. Di fakultas yang mempelajari budaya dari berbagai negara; Indonesia, Cina, Korea, Jepang, Arab, Jerman, Perancis, Belanda, dll—ini-juga-lah kita menemukan gejala penyakit westernisasi di badan akademisi. Entah dimulai sejak kapan, tapi, aneh sungguh. Saat kita belajar di fakultas yang notabene-nya belajar tentang kebudayaan Indonesia—hampir di semua jurusan yang ada di fakultas ini diwajibkan mengambil MK Dinamika Kebudayaan Indonesia dan MK Masyarakat dan Kesenian Indonesia—gejala melunturnya budaya Indonesia sendiri-lah yang makin terlihat jelas.

Mahasiswi dengan dandanan super duper, aksesoris yang kelewat banyak, rambut rebonding, atau sengaja acak-acak-an biar jadi pusat perhatian. Atau mahasiswa yang bajunya ketat dan juga jeans belel, robek-robek yang juga ngepress pantat, rambut lebah, atau rambut klimis. Atau mahasiswa dengan tas laptop dijinjing ke-mana-pun dia pergi, dengan HP keluaran terbaru, atau PDA yang juga baru. Pemandangan yang high-class ditampilkan dari wajah-wajah mahasiswa FIB kini. Dan menjadi stereotyped—sangat populer!

Pergaulan cowok dan cewek bukan hal yang tabu lagi, di kantin merokok bareng-bareng, just nongkrong dan main kartu. Gak cowo dan cewe sama-sama asyik dengan puntung rokoknya, hingga kantin menjadi tempat yang ‘menyeramkan’ untuk didatangi, kecuali lewat untuk sekedar membeli makan dan lekas keluar dan makan di bawah pohon dekat danau Teksas—daripada harus berbau-bau badan kita akibat asap rokok di kantin. Ya…selain alasan kantin sudah tidak mampu menampung ratusan mahasiswa, bahkan hampir ribuan hitungannya, karena kantin FIB tidak lagi hanya milik mahasiswa FIB, tapi juga fakultas lain yang dihubungkan lewat jembatan teksas (tekniksastra—red).

Gaya hidup hedonisme, konsumerisme, ingin jadi pusat perhatian yang berlebihan telah menjadi warna kampus ilmu budaya ini. Apa harus demikian untuk dapat diakui sebagai anggota masyarakat global?

*
Jadi, kalau ada yang bilang masuk UI itu mahal, itu kata siapa dulu? Bisa jadi itu hanya pendapat orang awam yang gak tau ‘isi’-nya UI… kalau lihat lebih dekat UI, sebenarnya, kita sudah kembali ke jaman feodal dulu… yang kaya yang bisa sekolah…jelaas ! anak sopir angkot, anak buruh musiman, anak PNS golongan rendah akan berpikir puluhan kali untuk meminta pada orangtuanya membayar uang pangkal masuk UI. Hingga si bapak sibuk pinjam sana sini untuk dapat menyekolahkan anaknya di kampus yang katanya kampus reformasi ini… lambat laun memang kita terjajah di negara sendiri (baca— merdeka). Kamu bisa lihat sederetan mobil bagus di parkiran, dan lain sebagainya-lah… semuanya ada di UI.


inilah potret parkiran mobil di lapangan parkir FISIP UI, ini tak seberapa banyak loh! *beeeeh*


*
Tapi,…saat perpustakaan makin penuh juga dengan mahasiswa yang sibuk mencari bahan untuk menyelesaikan skripsi atau tugas akhir, atau sekedar membaca buku selintas lalu, skripsi mala (baca— mahasiswa lama), atau berlaptop ria… kantin pun semakin penuh…dan musola juga semakin penuh.

Hm….rasa-rasanya…setidaknya masih ada loh mahasiswa yang tidak hanya konsen di kehidupan ‘berkebudayaan’ di kampus ini, melainkan ada juga mahasiswa yang tidak lupa dengan kehidupan beragama, beribadah dan berdoa. =)

***
Jadi, bagaimana kesiapan UI menjadi universitas riset? Jika tidak segera membenahi SDM juga fasilitas (dan banyak bebenah lainnya) untuk memajukan semangat riset berwawasan ilmu pengetahuan budaya, teknologi, sosial kemasyarakatan dan spiritualitas di tubuh mahasiswa dan pengajarnya, nampaknya cita-cita membawa UI ke ‘depan pintu gerbang kemerdekaannya’ akan lebih lama lagi tercapai…! (koq jadi kaya UUD 1945 yah?). =)


Serpong, 20 September 2007, yoe-

Monday, September 17, 2007

Mahasiswa Pinter… tapi….

Mahasiswa Pinter… tapi….



Beberapa minggu lalu, sebuah e-mail datang ke inbox saya di yulie_saja_koq@... Dari Ario, teman sekelas saya dulu waktu SMA kelas 2.5 (unggulan ceritanya niy…) dengan cukup surprise dapat imel dari Ario, yang notabennya seorang mahasiswa (sensor), masuk UI jalur PMDK, FASILKOM…

Ario, yang saya kenal dulu, adalah Ario yang dingin, kalau berjalan seperti robot, berkacamata, badannya besar, tasnya juga besar, aktif di ROHIS, selalu rangking I, tapi, dia ternyata romantisss.. hahaha.. itu terbukti saat ada tugas buat puisi waktu kelas 2. puisinya dimuat di galeri puisi cybersastra.net… tentang cinta gituh, kalau tidak slah.

Bu Dewi, guru saya sempat memuji dia, dan tidak percaya, karena seorag Ario membuat puisi Cinta.. hehe.. sempat dia juga nembak seorang perempuan teman seklas kami juga, kebetulan kelas 3 nya sama-sama di IPA1, hehehe.. (gak disebut koq namanya), tapi, cinta ario harus bertepuk sebelah tangan, kata sahabat saya, Arum, yang juga teman duduk saya di IPA 1.. heheh.. itu bukan kali pertama Ario nembak Mbak…. (sensor).

*

Ok, kembali… Ario mengirim imel yang isinya.. menanyakan sebuah buku yang berjudul “Perempuan di Titik Nol”, dia mau cari, tapi gak tau di mana, dan harganya berapa, dan tentang apa? Yaa begitulah,.,, langsung saat itu juga saya balas, bahwa buku itu ditulis Nawal elShadawi, penulis dari Mesir. Buku itu salah satu khasanah sastra yang menyokong feminisme. Saya bilang kalau di gramed harganya 24 ribu, tapi kalau beli di toko di dekat stasiun UI Cuma 10-15Rb. saya punya, saya bilang kalau mau dipinjamin saja, nanti asal dipulangin lagi. tapi maunya cari.

Tapi, lama… ario gak kasih balasan lagi…sampai kemaren, Ario kirim sms. Menanyakannya lagi dan kali ini meminta sya membelikannya untuk dia. Hmm.. sepertinya dia niat banget. Saya tanya; jawab yaa: kenapa niat banget?

Pertama dia jawab +kalau ada temennya cari, dan dia mau bantu. See? Jawaban itu jadi jebakan, saya balas lagi…

-hmm, cewek pastinya? Anak fasilkom??? Cewek loe??
Tapi di balasannya dia tidak menyingggung bagian itu, yang pasti dia membujuk saya untuk mencarikan buku itu. Lalu saya balas

+aduww, makin yakin gue, kalau itu temen loe pasti cewek, wah Ario…selamat yaaa.. akhirnya seorang Ario… kapan jadiannya, atau kapan nikahnya niy? Koq gak bilang2 c?


-loe cari ajah di stasiun UI, ada koq deket tukang bubur stasiun itu, rame koq.. hmm, kalau ketemu bukunya PPN 10% + PJ 20%. Hahah…

Tidak lama, Ario balas, - jangan mahal-mahal dunk pajaknya, Mbak.. hahaha.. gue gak tau toko di stasiun, bahkan gue gak pernah ke sana. Singkatnya pesan Ario seperti itu.

Saya bingung!!! Dan tertawa sendiri, Halow, Bung..sudah mau lulus, tahun keempat kuliah, tapi gak tau lingkungan sekitar kampus, stasiun apa lagi, tempat yang paling ramai selain kantin jam istirahat, bukan? Stasiun, tempat kumpul orang-orang. Masih ada, mahasiswa UI yang gak pernah lwat stasiun.. olala…. Jangan-jangan belum pernah juga ke Pusgiwa, lapangan hokkey, stadion sepakbola, Gymnasium, … ups… (cut..)

Akhirnya, kena telak, + jadi bener niy awas ajah kalau gak cerita…

-Bener ko bukan siapa2, yul…gue kan masih jomblo..hiks..hiks.. =(

Saya langsung tertawa. Ario…Ario… saya telpon Ario, biar cepet karena udah mau berangkat taraweh..

=ya amyun ario… loe gak pernah ke stasiun??? Elo ngapain ajah? Loe begaul sama itu layar komputer mulu sih, atau sama chip-chip yang super kecil itu… atau sama robot??? (kalau tidak salah Ario ikut jadi anggota tim Robot UI..). dia cuma tertawa kecil mengiyakan. Terus didesak, dia bilang: -Gak koq itu buku buat gue.

Gue nyela lagi, -gak mngkin loe tiba2 mau baca buku itu!!! Hahah…-

akhirnya, pembicaraan nyambung ke reuni akbar SMA beberapa waktu lalu, dia sampain klau Bu Dewi, duru bahasa Indonesia kami di 6 nanyain kabar novelku.. hehe, pdhal tu novel dipending. Ya udah, akhirnya, saya akhiri telepon, karena akan berangkat ke mesjid. –udah dulu yah, yo..nti gue cariin, tapi inget bayar pajaknya…heheh-

<--end-->


Ok, jadi banyak pilihan niy menjadi seorang mahasiswa, kita bisa merubah kapan ajah haluan kita, tapi di antara pilihan-pilihan itu adalah… jadi…

a. mahasiswa gaul metropolitan tapi lulus telat gara2 banyak ngulang atau nilai pas-pas-an,
b. mahasiswa pinter yang sibuk selalu dengan kuliahnya, tapi lulus standar 4 tahun,
c. mahasiswa pinter sibuk kuliah, tapi kejar lulus kebih awal,
d. mahasiswa pinter dan aktivis kampus,
e. mahasiswa nilai pas-pas-an tapi aktivis kampus,
f. mahasiswa kupu-kupu 1, alias kuliah pulang-kuliah pulang, nilai cumlaude
g. mahasiswa kupu-kupu 2, alias kuliah pulang-kuliah pulang, ngurus suami&anak,
h. atau mahasiswa pandai cari duit?
i. … (isi sendiri)

Hm….pilihan di tangan anda… karena cita-cita milik Anda… hehehe…


Layin’ in mybed with fan, 17 Sept’07 pagi dini hari…


nb: tadi sms terakhir, Ario bilang lagi magang.. huff.. slega dengernya.. setidaknya dia bisa juga bersosialisasi di suatu perusahaan.. tapi, kapan antar gue ganti perangkat wireless???? sempetin yaak,sekalian pajak buku yang kau cari.. hehe..

The High Cost of Being a Workaholic

The High Cost of Being a Workaholic


This article taken from Bandung Advertiser, 17/Year 6, 11-25 September 2007


In a nation of overachievers, hard work is a virtue. If you work hard, you’ll achieve your goals. If you work ven harder, you’ll achieve even more. Right?
Perhaps not. There are, in fact, several downsides to working too hard. Being the office workaholic can cost you coveted promotions, hurt your home life, and even turn friends into enemies. Evaluate yourself with the following five questions.

1. Are you busy… or disorganized?
Are you contantly staying late and coming in early yet producing the same output as others? If so, your boss may come to view you as inefficient and possibly disorganized. Focus on getting your work done in a reasonable time frame. If you have perfectionism or time-management issue, ask your supervisor to help you prioritize things and learn when to let go of a task.


2. Are you delegating… or hoarding?
If you have any aspiration at all to move into management, you must learn to delegate work. Again, tasks need to be completed in a timely fashion; I you’re having trouble finishing a project, you must delegate to other team members, even if you happen to relish the task you’re giving away. Focus on completion and quality and be generous enough to let a colleague learn and shine. If you lack ufficient support, ask your boss about expanding your group.


3. Are you hungry… or is your plate full?
Once you’ve solidified your reputation as the office workaholic, you may find that when your dream project comes through the door, you’re asked to work on it. Why? Your boss probably thinks you don’t have the bandwidth to take on anything else. Always keep a bit of room in your schedule to sink your teeth into new chllenges and opportunities.


4. Do you have friends… or ‘frenemies’?
Your workaholic wys are likely alienating once-valued associates. Above and beyond the obvious grumblings of, “You’re making the rest of us look bad,” your volleagues may dread collaborating on a project with you. Lose the overly methodical approach, don’t expect folks to come in early or stay late for meetings, and focus on process and outcome.


5. Do you work to live… or live to work?
The best workers are well-rounded professionals with full lives, in and out of the office. Each year, new studies abound about the importance of vacations, hobies, and enjoying your leisure time. But are you listening? Your friends and family will be in your life a lot longer that you’ll hold mmost jobs. Also, pursuing leisure activities you’re passionate about can lead to a second career.
yahoo.com



Serpong, 16 sept’07

Ramadhan; bulan suci dari yang “enggak-enggak”…

Ramadhan; bulan suci dari yang “enggak-enggak”…



“Hayo sikat para pembela TUK di milis publikseni@..., apresiasi-sastra@..., media-banten@..., penyair@...” this sms took my time to thinking on something. The sms came from Saut Situmorang, 10:45 today, Sept 15th.

Based on the content, it might be an invitation, or… more than just an invitation, perhaps it might be an obligation. =)




Since the date, couple month ago Ode Kampung#2 which hold in Banten, Rumah Dunia Gola-Gong, I never heard about the declaration again… I mean the way that the declaration has been socialized to Sastra-communities around the country. There were some points included, but the main point was “Figth Again TUK”... I hope I mention it cleary. Now, after day by day passed… the issue is going published again.

*

In Kompas, Tuesday, Sept’ 11, in page 3, column 3, Seleksi Pemimpin KPK…
I was very supprised that in 10 candidate’s names, I found in number 10 was Saut Situmorang.

So, I read this news twice to make it clear… after minutes I got my cellphone, and sent sms to Bang Saut’s cell-number.

“Saya baca Kompas hari ini, selamat yaa terpilih jadi kandidat pimpinan KPK”, I wrote.

Later on, not less a minute, I got the reply. “Huaaaa…itu bukan gue, gue gak kenal sama tu orang! Itu orang Depdagri! Hahahaha”

So at the same time, I laughed…and replied it quickly. “Hahahahaaaaa…sejak kapan Saut, yang sastrawan jadi urus birokrasi, jadi anggota KPK pula…pantas aku bingung!”

After that, “Hahaha………(im forgot the sentence)… sekarang gue musti jelasin itu bukan gue ke publik, tapi yang pasti orang TUK lega karena itu bukan gue” he told.

Why? I won’t answer it, but this written can express something hot, undirectly, hehe…

*

TUK, one of the most popular issues discussed in Ode Kampung#2. TUK is the name of Community Teater Utan Kayu, they called. I’m not having a capability on this, but I jut wanna say that TUK often plays the rules as Center of Sastra (in) Indonesia.

As a consequent, many Sastrawan(s) who lives in urban-city, or in small-area, or in the border-city, both in Java (not related to Jakarta- as a capital city) and outside Java, fight TUK because of their teritory in making rules on Sastra (Mazhab-red, under the central people of its, adapted from Dalam Komunitas: Ideologi Membentuk Estetika by Kurnia Effendi, published on Ode Kampung#2). Some people agreed that TUK also related with Dewan Kesenian Jakarta. And I have heard that APBD Jakarta supplied a lot to DKJ… sorry, I don’t know exactly how much the cost probably goes to support DKJ’s agenda.

DKJ as far as we know, being an intitution who has power. Kusprihyanto Namma, Sastrawan from Ngawi, one of the speakers in Ode Kampung#2 wrote on his published essai, Tanpa Pusat Sastra. “…Jangan tergantung dewa sastra”.

Mazhab on Sastra had known, but it still a problematic issue. …There’r pro-kontra (adapted from Kurnia Effendi-Dalam Komunitas), TUK well knows with “sastra perkelaminan” they said. But on this written, I get my netral possition as the reader of Sastra Indonesia.

‘Biarlah mereka saja yang bicara…biar pembaca yang menilai’ I just want to say that.

*

Based on the explanation above, I got the conclusion; sastrawan also have influence to readers, to community, to this country, Indonesia. They have mision-vision on writing Karya; poem, cerpen, novel, and others media. Fight can be happen, but no more blood here. Here, in our independent-country!

Figth the ‘Kemungkaran’, get the ‘Kebajikan’. Ramadhan; bulan suci dari yang “enggak-enggak”… How if we read al-Qur’an more often than? Leave the sastra popular books, sastra perkelaminan, may be, chicklit, teenlit, or others media which gives us no spiritual-atmosphere in doing ibadah during Ramadhan… =)



HumzSweetHumz, 22:51, 4 Ramadhan 1428 H... (hehehe…)

Friday, September 14, 2007

Agustus ke September, seribu catatan tercecer.

Agustus ke September, seribu catatan tercecer.





Agustus adalah hari-hari terpanjang yang musti dilalui, mungkin tahun ini. bulan terakhir saya bisa menghabiskan libur panjang 3 bulan. well, tapi bulan Agustus sangat panas, saya lebih banyak tidur di rumah ketimbang hanging out cari ide buat nulis aatau apa saja. tapi, ternyata di rumah, memang segalanya yang saya rindukan. walau musti dengar ocehan ibu yang meminta anaknya yang sudah 21 tahun ini bisa mengerjakan tugas-tugas rumah yang bermacam-macam itu, atau ibu yang minta diantar belanja ke tukang sayur, atau ke Tanah Abang...atau perdebatan-perdebatan dengan adik, atau sulitnya meminta dana liburan dari ayah. hee.. sudah dua tahun saya mengekos di Cempaka Sari, mulai semester 7, saya menjadi seorang yang rajin berangkat kuliah, karena kalau terlambat sedikit berangkat dari rumah, sampai di kampus terlambat banyak. hee,...

di rumah, saya banyak belajar menulis puisi, membaca kamus KBBI, kamus Oxford, kamus Mawrid, kamus Hans Wehr, mengunjungi dokter gigi dua minggu sekali untuk mengganti karet braclet, dan belajar bahasa Inggris demi persaingan global yang makin kejam saja...hehe.. meliput training ESQ dan cepat menuliskan naskah dan mengedit fotonya untuk dikirim ke redaksi. tapi saya jarang banget datang ke kantornya selama liburan dikarenakan dua hal; pertama: jalan menuju Pondok Pinang di ruas jalan Ciputat Raya sedang dibangun flyover, muacetnya amit-amit deh, bisa sejam ada di sana. kedua: saya banyak memikirkan skripsi saya yang akan saya selesaikan semester 7.

di pertengahan Agustus, saya meliput acara Internasional Sains Festival di Mall Pondok Indah II yang berlangsung 13-19 Agustus, pada pembukaan tgl 13, saya baru dihubungi untuk meliput sejam seblum acara, padahal jalanan Ciputat macet luar biasa, jam 9 dihubungi,9:30 baru berangkat, dan untungnya orang Indonesia punya budaya ngaret, ...

....berhubung hari itu, saya semula ada janji bertemu sahabat saya yang kuliah di Bandung, yang kebetulan sedang berlibur dan telah menyelesaikan KP nya di Jakarta, akhirnya saya ajak dia untuk menemani saya meliput acara tersebut. saya minta Tuppi mencatatkan untuk saya sebelum saya datang, tapi, alhamdulillah, acara baru mulai setelah saya sampai sekitar jam 11. huaaa.. tapi, sempat kalang kabut, karena wartawan media elektronik dan media massa telah mengerubuti Bapak Dirjen Pendidikan untuk siaran pers-nya, dan saya menyempil, tapi tidak terdengar apa-apa, karena banyak sekali wartawan di sana. yaa.. tapi, setelah mereka bubar, masih ada beberapa wartawan yang menanyainya macam-macam, jadi saya bisa ikut nimbrung, dan menunjukan keberadaan saya di sana, sebagai reporter dari Majalah Nebula ESQ.. fyuuh.. (menghela nafas).

saya dan Tuppi terpukau dengan anak-anak SD yang menampilkan karya-karya di festival itu, apa kalian pernah membayangkan bisa membuat Hover Craft Sederhana, Roket kimia, generator dll di usia semuda mereka? mereka pintar-pintar, saya dan Tuppi, sahabat saya itu, berdecak kagum saat mendatangi tiap-tiap stand mereka, bahkan Tuppi mengambil gambar alat peraga murid-murid tersebut dengan HPnya.


begitu hari semakin dekat dengan September, saya semakin kacau, karena setiap kali browsing, mencari lowongan beasiswa ke luar negeri dan membaca-baca berita online, saya cuma berharap ada balasan dari koran-koran yang saya kirimi puisi saya untuk bisa dimuat. well, nihil. dan sebenarnya, saya sejak dulu berpendapat. kalau u gak mau, i bisa cari tempat lain... dan, karena Juli lalu saya sudah membuat sebuah blog baru http://marcapada-puisi.blogspot.com, mana saya posting-lah puisi-puisi saya agar bisa menjadi puisi yang benar-benar sebagai karya sastra, di baca orang, itu syaratnya. beberapa kawan lama saya dari cybersastra.net, mereka yang dulu saya kenal saat saya masih duduk di bangku SMA 6 Jakarta, mereka yang telah memberi saya pelajaran tentang puisi, berkunjung dan mengomentarinya. sejauh ini, mereka berkesan. terimakasih yah, para bapak dan om-om yang saya hormati... ibu guru bahasa Indonesia saya di SMA, Ibu Dewi, yang baik hati, sempat saya kabari kalau saya akan membuat novel, dia sangat senang mendengarnya, namun sayang, novel yang sedang saya garap bersama kawan saya yang baru pulang dari Australia, Aldevina, musti istirahat dulu, karena kesibukan masing-masing, amel sibuk di film dan saya sibuk dengan skripsi saya.

*

ada juga pengalaman saya yang hampir serupa, waktu tahun kedua saya di UI, saya iseng daftar di OR SUMA alias Suara Mahasiswa.. hmm, padahal waktu itu saya sedang aktif juga di senat fakultas, tapi, belaga pengen aktif lagi kaya jaman masih jadi MABA (mahasiswa baru-red), ikutlah saya di tes tulis dan wawancaranya, dan saya DITOLAK. well, saya sempat kesal sama mahasiswa bernama X, pemred SUMA yang waktu itu wawancara saya.orangnya jutek, agak terkesan sombong saya kira waktu itu.. hehe.. maap-maap niyh..

saya ingat waktu saya masih SMA, Ijal, salah satu kenalan saya waktu di YMS, anak ITB, ngajakin nulis buat edisi I majalah persma itb, dan saya nulis panjang lebar, karena Ijal gak kasih tau kriteria tulisannya, dan Ahmad Dhani (mesin itb sudah lulus dan jadi dosen di sumatera sekarang) mengedit tulisan itu hingga jadi setengah halaman. huaaahaa...

Yaa.. melupakan untuk gabung di SUMA gak butuh banyak waktu, krna saya dan Icha bikin private kecil2an di Depok sampai akhirnya di tahun 2006 mau pertengahanm, itu saya ketemu salah seorang Ekky Malaki, yang ternyata senior saya di UI, dia penulis buku-buku filsafat, dan bekerja di Majalah Nebula ESQ, sekarang sedang menempuh studi di Belanda)...itu secara tidak sengaja, dari imel seorang teman saya bernama om Herilatief, (penulis yang menetap di Belanda sebagai koki, hehe, masih koki gak, niy om Heri?), saya mengAdd ID Bang Ekky, ternyata waktu OL, dia nyapa dan liat profile saya di FS, dia kaget waktu baca saya affiliationnya ESQ, padahal waktu itu saya tulis gituh karena saya alumni pelatihan ESQ.. dia menyakan banyak hal, dan sampai akhirnya saya tahu dia dulu S1 di Prodi Arab UI juga... dan bukunya sempat saya baca, kalau tidak salah Remaja dosan filsafat, terus banyak lagi deh yang lainnya.. tidak lama kenalan sama Bang Ekky di maya, kami bertemu di pelatihan ESQ Reguler Ke-35 Head Office di Kartika Chandra, , waktu itu saya menemai orangtua saya, ayah dan ibu yang ikut training. dan Bang Ekky datang ke tempat pelatihan di sela-sela meliput training Eksekutif, waktu itu. lalu, tahu kalau saya suka menulis, dia menawari saya gabung di Majalah Nebula, dia memberikan satu majalah buat saya. dan minggu itu juga, saya diminta Redaksi meliput training Kids di Twins Plaza Hotel, Slipi. Di sana, ada Rachel Amanda, yang sekarnag main sebagai Cindy d RCTI, dan saya akhirnya wawancara setelah dapat jadwal untuk waktu by phone dari manaernya, mbak Yuning.. asyik juga, Amanda anaknya pinter dan komunikatif.

Dari sanalah, semuanya di mulai. Awal liputan, saya masih tidak punya kamera pocket, jadi musti pinjam dulu ke kantor, baru meliput, tapi..yang benar-benar dimudahkan Allah, saya bergabung di sana tanpa wawancara dan menyerahkan CV. sampai akhirnya, setelah tiga bulan bergabung, baru saya bilang sama Sekretarisnya, namanya Mbak Ana, orangnya baik, dan super sibuk karena kerjaannya setumpuk...akhirnya, dia minta saya buat CV, dan saya lampirkan juga transkip nilai saya. yaa... dulunya saya cuma pakai surat tugas, terus dapat kartu pers yang masih printan, hingga saya dapat kartu pers yang cetak, paten, dan nama saya ada di Majalah. Lengkap semua... rasanya, ini jalan yang Allah berikan kepada saya begitu mudah bagi Allah memberikan jalan pada hambaNya. Dan saya banyak belajar dari para satria pena di Nebula, apalagi Pemrednya Pak Yudhistira ANM Massardi, yang ilmu nya banyak sekali.

Menulis ternyata ada celah-celahnya, saat saya menulis puisi, pastilah berbeda dengan saya menulis berita, essai atau cerpen, tapi..di sana ada cinta yang tersembunyi.. semua tentang rasa. sesekali saya menulis bergaya sastra (jurnalistik sastrawi, kalau kata kelas menulis Nebula), itu berita yang sangat sulit, karena sastra begitu abstrak sementara berita minta kita deskripsi dengan gamblang. tapi setelah setahun bergabung, saya sekarang tahu, bagaimana nikmatnya menulis... heheee... apalagi berpuisi. bukan puisi gombal, tapi puisi yang puisi. hehehe..


***


selama liburan saya itu, saya membaca banyak hal-hal baru lewat internet, akses berita cepat, dan banyak hal- baru yang bisa saya dapatkan, hingga saya menemukan blog milik Boulevard ITB, di sana saya melihat tulisan Arfah, kenalan saya dari seorang kawan di Bandung, Arfah pernah meminta saya berkomentar tentang mahasiswa di kampusnya, well dnegan sangat terpaksa dan jujur, saya mengatakan kalau anak kampusnya kaku dan gengsinya terlalu tinggi. hee.. dan dia menuliskan nama lengkap saya, fakultas, dan angkatan. saya jadi merasa tidak enak, karena itu lengkap sekali, sebelumnya saya bahkan memberitahu NPM saya. namun, saya sudah meminta Arfah agar tidak mempublikasikannya secara lengkap, tapi dasar Arfah, manusia tidak bisa diajak kompromi, Arfah begitu saya menulis lengkap nama saya. padahal saya sendiri bisa dibilang tidak pernah memposting nama dengan lengkap di tulisan tulisan saya, kecuali, di kabarindonesia.com, atau yang pada akhirnya syaa membukanya di blog puisi saya yang terbaru itu.

di sana, saya melihat beberapa blog yang terkait dengan Boulevard, dan menemukan tulisan berupa surat kepada seorang Ibu, kalau tidak salah namanya Ibu Ivonne dari seorang bernama Ikram Putra. sedih juga baca suratnya, kasian betul itu mahasiswa, udah tua bisa kena DO, pikir saya. saya langsung teringat Tommy Dwinta Ginting alias Tommy alias Parang, kawan saya di ITS yang kena skorsing selama 1 tahun, padahal jatah belajarnya tinggal 1 tahun, alamat dia bakal DO kalau pernyataan rektornya gak dicabut. miris juga, tapi gak bisa berbuat apa-apa. Yang TUA Yang Lebih dipercaya, begitu kata iklan A Mild. sejauh ini, saya percaya kenyataang seperti itu berlangsung di kehidupan sehari-hari. akhirnya, dapatlah ide buat nulis puisi, langsung saya beri judul Buat Ikram Putra. tanpa tau siapa itu orang siapa. yang saya tau sebatas dia anak oseanografi itb yang nilai
kalkulusnya pas-pas-an. heeehee.. maaf-maaf yaaak.

*

setengah bulan setelah kemerdekaan Indonesia, saya tidak banyak menulis untuk blog marcapada-puisi, saya lebih memikirkan tugas akhir saya.. Masuk ke bulan September... bagaimana memiliki dosen pembimbing yang easy going, flexible, namun lagi-lagi A Mild benar, saya minta Pak Pd.H (33 tahun-an) jadi pembimbing saya, tapi Pak Kajur (50tahun-an) bilang tidak bisa, dan dia mengajukan nama lain dan bilang kalau Pak Pd.H jadi pembaca sekaligus penguji. Ok, saya nurut saya. kebetulan saya dekat dengan Ibu DualismeJurusan (40 tahun-an) yang jadi pembimbing skripsi saya, kami sering diskusi lewat YM! sebelumnya. tapi, saya agak ngeri kalau dengar kabar-kabari dari senior dan kawan saya di prodi Arab yang bilang kalau dia sulit kasih acc. dan karena dia sering keliling dunia, beberapa senior saya terlantar skripsinya... well, kita lihat ajah, sampai sejauh ini saya masih respect sama dia. heee.. di YM! terakhir saat saya memberitahukan padanya judul skripsi saya, dia memuji saya. hehe,... o ya, kami berbicara dengan bahasa Inggris selama YM!

sementara kawan2 saya masih belum mulai dan berkutit dengan judul dan tema yang akan diangkat, kelas seminar begitu menjemukan, dan karena dosennya ngalor ngidul gak karuan meng-cut apa maunya anak2 dengan skripsi mereka, A Mild bener lagi... hm... dan saya pun mendapat ganjelan dengan bapak ini, Pak Keriwil (tua banget, gak tau berapa umurnya..hehe..). minggu pertama kami kuliah seminar dengannya, saya sudah mengumpulkan BAB I dan BAB II, tapi, setelah seminggu kemudian, dia bilang belum baca, menyebalkan, bahkan dia hendak mengambil kertas print-an saya yang kedua yang semula saya akan berikan padanya untuk dibubuhi tanda tangan... saya bilang; tidak pak, saya sudah memberikan pada bapak seminggu lalu, yang ini buat Bu Dualismejurusan. saya ambil kembali dari tangannya. Heeeem... akhirnya saya mengadukan uneg-uneg saya dan juga teman2 kelas seminar pada Pak Kajur... akhirnya pak kajur memberi jalan untuk langsung menemui Bu Dualismejurusan untuk meng-acc dan saya bisa langsung mendapatkan bimbingan olehnya. haaaaaa..puas saya!

*nama-nama bukan sebenarnya, sebagai rasa hormat saya kepada para dosen...

*

"yu...PPA udah turun belum?" isi sms dari salah seorang teman sejurusan saya. PPA adalah beasiswa yang diberikan UI untuk mahasiswa yang mendapat PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK. sebelumnya, saya telah mendapatkan beasiswa PPA pada periode 2006/2007. dan ternyata saya dapat lagi untuk term 2007/2008.hee.. 2 periode... yang sekarang lebih besar, hampir 2x periode pertama. hee.. hingga september awal, PPA belum turun, karena sekarang rektorat yang urus PPA, bukan lagi fakultas. jadi terpaksa, mahasiswa yang menunggu PPA turun untuk digunakan membayar uang semester tidak bisa menggunakannya, padahal banyak mahasiswa yang nunggu PPA untuk bayar uang semesteran. dan pihak fakultas bilang; jangan berharap dari PPA, PPA bukan buat bayar uang semester. itu saya dapat dari informasi seorang teman yang aktif di bidang advokasi senat fakultas.

akhirnya, PPA saya terima di rekening BNI saya minggu lalu, dan teman-teman saya pun menerimanya. sungguh senang hati ini. hehe.., saya mengubungi Aisyah, yang pebisnis dan pekerja di kedutaan UEA, seorang serta sahabat saya, untuk mendapatkan keterangan tentang produk asuransi syariah, rencananya, dana PPA akan saya pergunakan sebagai awal asuransi. hmm, semoga saja bisa buat pendidikan saya selanjutnya. hee...


Well, di usia 21 lebih 2 bulan ini, saya memantapkan hati untuk bergerak lebih cepat dan tepat menentukan GBHN, Garis-garis Besar Haluan Niat.. hee.. memprioritaskan yang terpenting, mengejar Ilmu sampai ke negeri CINA. hee.. amin.


*



di YM! beberapa minggu belakangan, saya bicara dengan Angga, seorang teman kenalan saya dari Icha, teman kuliah saya yang sudah lulus. Angga, anak Indonesia yang berkesempatan tinggal dan belajar di Amerika sejak usianya masih 7 tahun. dan dia tidak lancar berbahasa Indonesia, darinyalah saya belajar bahasa Inggris secara langsung... Angga masih kuliah, kalau tidak salah jurusan Computer engineering, lupa kampusnya.. tapi, dia CUMLAUDE!!! dan dia assisten lab profesor. kebayang kan? anak Indonesia di AMerika dengan prestasi yang hebat.. kita sebenarnya punya banyak orang-orang pinter, tapi, kenapa negara ini, negara tumpah darah kita, INDONESIA, musti terus terpuruk dan dilanda bermacam masalah. dan angga kuliah di sana dengan beasiswa. dan maaf angga, saya membukanya di sini, saya ingin tulisan ini menjadi motivasi anak INdonesia untuk membangun bangsa ini. Kamu juga ingin negara ini Maju bukan? kalian percaya, di sana, Angga bekerja sebagai assisten lab dengan gaji sebesar 5,5 juta/bulan. (kalau Angga sudah S2, jadi 14 juta/bulan) see?????? Dulu Tuppi pernah bilang, standar gajih lulusan kampusnya, fresh graduate = 3juta, ironis banget yaa? Angga belum lulus, belum sarjana..(tapi dia akan dapat beasiswa lagi untuk s2 nya di tempat kuliahnya sekarang), heeeemm....???

Angga menanyakan pada saya tentang dosen di Indonesia, saya bilang jujur sama dia, dosen di Indonesia yang PNS gajihnya jauh di bawah gaji kamu. huaaa.. di Padamu Negeri, survei Interaktif MetroTV hari Kamis, 13 Sept', Prof Gumilar, rektor UI yang baru mengatakan gaji seorang GURU BESAR sekitar 2,5-3 juta... ow... (mengeleng-geleng tidak percaya), Miing bilang: itu GURU BESAR, gimana GURU KECIL??? miris..sangat miris... padahal, kita tahu betul, pendidikan itu kunci sukses suatu bangsa.

Angga bilang gaji yang didapatnya itu kecil untuk ukuran di US. HOW CRAZY!? dan banyak lagi angka yang disebutkannya, saya membicarakan tentang itu dengannya dengan maksud agar saya tidak kaget kalau ternyata, saya bisa kuliah di luar negeri mendapat ilmu di negeri orang untuk bisa membangun negeri ini juga, semoga Allah bersama kita. AMIN..

Angga juga menanyakan pada saya tentang pendidikan di Indonesia, dan saya bilang MAHAL. percaya atau tidak, di dekat rumah saya, ada SEKOLAH NEGERI, yang kalau ada siswa yang mendaftar ke sana tapi tidak keterima karena nilainya tidak memenuhi standar minimal musti membayar 18 Juta sebagai uang pangkal!! dan Angga kaget luar biasa! dan itu memang ada.

berikut tulisan Angga dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti: =D hee..


(08/09/2007 10:20:23): pendidikan di indonesia masih terasa sangat mahal, apalagi buat kalangan menengah ke bawah. harapan saya, saya bisa menjadi anak bangsa yang bisa membawa perubahan dan saya berada di barisan itu membawa sebuah perubahan berarti buat negeri ini. pengennya, pendidikan di indonesia gratis ajah. bisa ga, Pak SBY!? kasian anak2 SD udah banyak yang putus sekolah.. mau jadi apa negara ini, kalau anak SD ajah udah bertebaran di jalanjalan mengais uang untuk makan. di mana orang tua mereka tidak ada untuk mereka, sungguh ironis sekali keadaan negara kita ini. Tuhan!!! tolong keluarkan kami dari keadaan yang sangat pahit ini. amin. (semoga allah mengabulkan doa kita semua)


*



beberapa hari yang lalu, PUSPIPTEK, tempat di mana saya tinggal selama kurang lebih 20 tahun, menjadi terkenal karena pemberitaan di media elektronik dan media massa. pasalnya, terdapat ledakan yang cukup besar di laboratorium BATAN. Ayah sempat bilang kalau ledakan itu sampai menggetarkan kantornya juga di B2TKS (Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur) BPPT. Gedung BATAN memang tidak jauh dari B2TKS, namun, pemberitaan di media terlalu dibesar-besarkan, apalagi saat saya melihat wawancara dengan seorang yang berwenang di BATAN dengan salah satu penyiar berita di METRO TV!!! si penyiar seakan-akan mendesak pembicara untuk menyatakan keraguannya akan adanya radiasi akibat ledakan tersebut, dianggapkan karena ledakan itu bisa saja mempengaruhi reaktor nuklir di BATAN. padahal nih...kita yang ada di PUSPIPTEK, adem ayem ajah. perumahan PUSPIPTEK dan perkantoran PUSPIPTEK berada di lokasi yang berdekatan, hanya dipisahkan dengan jalan raya. dan di perumahan tidak tampak kecemasan yang begitu wah, juga di perkantoran PUSPIPTEK-nya... media..o media... fyuuh..

sampai-sampai, nenek, uwa, tante, sahabat2 SMA, Asti terutama.., dll menghubungi saya menanyakan kabar orangtua dan keluarga saya. itulah media. ya..media telah membuat khawatir masyarakat. itu yang terjadi beberapa hari lalu.


*


browsing... klik... saya dapat balasan dari sebuah puisi yang saya tulis beberapa waktu lalu untuk mahasiswa bernama Ikram. Arfah waktu di YM! sempat meledek saya, saya tanya dia tahu dari mana saya buat puisi, jawabnya dari ikram-nya. wah, padahal saya kira tidak bakal ada yang tahu, karena blogs ini saya sebar luaskan di kalangan terbatas saja.

saya membaca postingan Ikram yang menulis nama lengkap saya di awal paragrafnya.. hm, welcome, ikram. dan dia protes kenapa musti samudra dan sungai, dan saya coba jawab di sini, -benar karena dia anak oseanografi-. dan kalau dia bilang suka sama baris ketiga bait kedua: “karena bilangan belum genap tanpa huruf”. dan dia tanya maksudnya “S” belum genap tanpa “1” kan ya? saya menjawab bisa jadi iyah.

Awalnya yang saya maksudkan itu, kalau dia mengerjakan soal hitungan, tentunya, dia akan menemukan bilangan, tapi bilangan itu tidak berati sebagai soal kalau tidak ada kata-kata yang menjadikan bilangan itu berarti. misal: saya tulis angka 1 dan 1 saja, apa maksudnya? kalau saya tulis dan saya baca satu ditambah satu, barulah bisa dipahami maksud bilangan tersebut. bukan begitu, ikram? (salam!)

-seorang penyair tidak memberitahukan apa yang dimaksud dalam puisinya, dan saya biasanya pun begituh, tapi, kali ini saya mengalah. weew..


saya juga membaca komentar akan dipostingnya tulisan 'Dapat Puisi', sempet terpukau juga, karena ternyata penggemar ikram banyak juga yah? makasih buat temen-temen ikram yang udah mau mampir juga ke blog saya, tapi saya menemukan ada komentar yang cukup menarik:

Irfan Mohamad » 08 September, 2007 13:25: Kram, aku kok curiga dengan baris "karena bilangan belum genap tanpa huruf" ya
Warastuti » 07 September, 2007 15:54:Kram, ati-ati... *kalimat yg sangat ambigu, huehehehe.. kalo mo tau maknanya, japri


lewat tulisan ini, saya cuma ingin bilang, puisi itu dibuat karena membaca tulisan yang isinya dia diancam DO cuma gara-gara gak bisa jawab soal integral...(dulu jaman SMA, integral tuh seru..hee..), kalau orangnya baca syukur, kalau tidak juga tidak masalah...karena syarat menulis, yaa menuliskannya saja apa yang kamu ingin tuliskan. ternyata orang yang saya jadikan judul salah satu puisi saya di marcapada-puisi.blogspot.com membacanya, yaa.. itu persoalan lain, selama tulisan ini tidak plagiat atau mengandung unsur SARA. dengan maksud ingin membangun dan memotivasi saja, bukan cuma buat ikram, tapi buat saya sendiri pribadi, juga buat semua teman-teman saya di mana pun berada... Well.. =)

- news: ternyata ikram sudah punya seorang kekasih, (dari hasil penelusuran google yang saya lakukan pada hari Rabu, 19 Sept) ...jadi, kayanya saya musti mintaa maaf sama orangnya, kalau-kalau dia tersinggung atau salah paham.. thx.
*



Ramadhan telah datang. Allah telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati indahnya, maka tidak patut bila kita menyia-nyiakannya. Ini adalah Ramadhan pertama saya bersama keluarga lagi setelah tiga tahun mengasingkan diri di kota Depok. (hehe)berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tentunya. biasanya, waktu saur musti mengantri di Mpok Ucu untuk mendapatkan bagian makan saur, harus memesan sebelumnya kalau mau dapat jatah...karena yang makan di Mpok Ucu, Mpok yang jualan persis di sebelah kosan saya, ini laris manis... begitu juga kalau mau buka puasa. yang kurang enaknya, Ramadhan di Depok, terutama di Jalan Kober, saya agak malas solat taraweh di mesjid. mesjid yang ada di jalan kober itu penuh dengan masyarakat situ, sementara mahasiswa dari asrama UI biasanya solat di Masjid UI, Ukhuwah Islamiyah...yang berada di halaman UI,

dan itu cukup jauh dari kosan saya yang berada di seberang jalan Margonda. kalau semisal jalan pun agak seram malam2.. dan capek jalan kaki ke kampusnya. hee... akhirnya, di kosan, anak-anak pada solat jamaah, kadang saya ikut..kadang juga gak, karena malas turun ke bawah, (kamar kosan saya di atas, kamar yang menyendiri dan satu-satunya di atas dan punya balkon..), kadang cewek-cewek itu susah banget cari imam, main tunjuk-tunjukan..yaa namanya juga cewe gituh.. heee.. tapi...yaa..pengalaman juga sih..

waktu tahun pertama ngekos di Cempaka Sari, Mbak penunggu kosannya suka bangunin ke tiap kamar masing2.. tapi, taun kedua karena dia sakit, gak ada lagi yang ngegedor-gedor kamar buat bangunin.. dan gak ada lagi yang masakin, kadang dia masak, dan kita bisa beli ke dia, jadi kita gak perlu keluar kos pagi2 buta.. hee.. sekarang, saur bareng mom, juga ayah..dan adik2, walau tadi pagi, saya sulit dibangunin...tapi senang ajah..hee.. buka puasanya pun sederhana tapi bareng keluarga.. udah gith, solat taraweh di Mesjid Bahrul Ulum, masjid di komplek saya yang cukup besar.. damai. bahagia. hehe...

semoga Ramadhan jadi kunci sukses kita semua untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga tentunya tidak ketinggalan, pada keluarga kita di rumah..Amin...



salam, Yuli Saja

HumzSweetHumz, September 2007