Monday, September 24, 2007

Menengok ke FIB bertanya pada UI, Ready to goes bla…bla..bla… ???!!!

Menengok ke FIB bertanya pada UI, Ready to goes bla…bla..bla… ???!!!


Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB)—salah satu fakultas yang akan kita perbincangkan dalam tulisan ini, berada di wilayah kampus Universitas Indonesia, Depok. UI sebagai kampus BHMN, kini memiliki visi agar dapat diakui sebagai Universitas riset yang merupakan pusat unggulan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Dengan misi sebagai berikut:
1. menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang bermoral serta memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang unggul dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
2. menemukan, mengembangkan, menciptakan karya di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya, serta menyebarkan demi kepentingan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia.
3. mengembangkan kepekaan dan kepedulian terhadap khidupan masyarakat.
4. ikut berperan dalam meningkatkan peradaban dunia melalui lulusan yang berwawasan global, toleran, dan cinta damai. (dicomot dari buku saku UI 2007)


music: GENDERANG UI

Universitas Indonesia
Universitas kami
Ibukota negara
Pusat ilmu budaya bangsa

Kami mahasiswa
Pengabdi cita
Kejar ilmu pekerti luhur
Tuk nusa dan bangsa

Reff:
Semangat lincah gembira
Sadar bertugas mulia
Berbakti dalam kary, Mahasiswa
Universitas Indonesia
Perlambang cita
Berdasarkan Pancasila,
dasar negara
Kobarkan semangat kita
Demi Ampera


Dari visi-misi yang dimiliki UI tersebut, sebenarnya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB—red) memiliki peran yang cukup strategis dalam menyukseskan visi-misi tersebut. Berulang kali, kata ‘budaya’ dicantumkan dalam visi-dan misi UI, serta lagu kebangsaan mahasiswa UI itu, namun bagaimana masyarakat awam melihat hal ini?

Masyarakat awan masih banyak yang tidak mengenal apa itu FIB? Banyak pula yang melihat sebelah mata saat tahu kalau dulunya FIB adalah FS. Loh? Kenapa bisa demikian yah?


*
Ilustrasi 1. Pembicaraan saya dengan salah satu aktifis narcis ITS (hehehe… nama dilindungi untuk menghindari si aktifis tambah tenar ajah..hiiiihiii…) pada 20 Sept’07 di YM!

-kamu di UI kan?
-iyah.
-btw ambil apa?
-hm… middle east and islamic studies
-wah, ada yah, itu di bawahnya HI (Hubungan Internasional—red) yah?
-bukan, under Arabic departement-fakultas ilmu pengetahuan budaya…
-wah bisa bahasa arab dong, ahlan wa sahlan
-ahlan bik..gitu sih bisa (berlaga jago gituh..hehe..)
… -apa itu? Ada yah fakultas gituh? Aku baru tahu…
-ya ada, sudah lama koq…
-maklum saya kan kuliah di kampus teknologi, jadi tidak ada jurusan seperti itu…
-bukan karena itu kali…mungkin karena anda terlalu aktif jadi aktifis di kampus sendiri, jadi berita kaya gini ketinggalan..heheh…
-hahaha… (dia tertawa).
…..
Dalam benak saya saat itu, 1. HI itu bukan fakultas, Kak, itu jurusan yang ada di bawah Fakutas Ilmu Sosial dan Politik. 2. Kakak yang satu ini ternyata selain sibuk dengan kegiatan perpolitikan kampus dan ilmu keteknikan, mungkin sedikit lupa tentang ilmu kebudayaan. (walau blog milik kakak ini cukup lengkap dan cantik dengan banyak pernik dan tulisan reflektif tentang kehidupan). 3. Middle east and Islamic Studies itu adalah penjurusan saya di program studi Arab, nama lain dari penjurusan itu disebut kelas Latar Belakang Budaya.

*
Masuk UI musti keluar kocek 5-25 juta, bahkan ada juga yang bayar lebih karena orangtuanya orang mampu bahkan berlebih mungkin.

Ilustrasi 2. Ah..sekarang mahal, Neng..masuk UI…katanya bayarnya gede yah, Neng? Begitu tanya seorang sopir angkot 03, jurusan Parung-Depok, suatu hari.

STOP!

Saya berpikir kata-kata apa yang musti saya lontarkan, MENG-IYA-KAN atau MEN-TIDAK-KAN. Saya teringat keadaan di kampus saya…

Dan saya menjawabnya: sebenarnya ada jalur keringanan untuk mahasiswa, Pak.. Anak-anak BEM aktif bantuin anak baru untuk keringanan, Pak.

Penjelasan saya tidak perlu merinci, karena si Bapak itu sebenarnya tidak butuh penjelasan saya, dia hanya butuh statement saya YA/TIDAK. Dan setelah itu biarkan si bapak berargumen sendiri, dan saya mendengarkan. Padahal saya tidak tahu juga kinerja BEM sekarang ini. Saya bukan mahasiswa aktifis, tapi juga bukan mahasiswa apatis. Ini saya apa adanya *ala..gak penting d..* hahaha…

*

Nama FIB yang semula dikenal sebagai Fakultas Sastra (FS—red) telah lebih dikenal sebagai fakultas yang bermuatan ‘manusia-manusia unik dalam tanda petik’. Mungkin segelintir saja yang memang yang berpendapat demikian karena belum ada polling-nya… Citra demikian sebenarnya dibentuk dengan (tidak) sadar oleh akademis di dalamnya. Terlepas dari nama FS yang kadang masih melekat di tubuh FIB, akademisi (mahasiswa—red) FIB masih belum terwadahi semua, baik dalam hal akademis, minat, dan organisasi.

Seperti yang kita ketahui, ilmu pengetahuan budaya amatlah luas, budaya mencakup banyak segi berkaitan dengan masyarakat selama manusia masih melangsungkan kehidupannya. Budaya bisa berkaitan dengan bahasa, sastra, kehidupan sosial, politik, sejarah, peninggalan sejarah, pemikiran tokoh, dan banyak lainnya. Gagasan ini cukup menarik, melihat perkembangan dunia global yang semakin pesat. Dan untuk menyiapkan produk-produk unggulan, nampaknya pihak fakultas mesti lebih mempersiapkan diri matang-matang. Hal ini patut dan tidak boleh tidak, karena persaingan global akan menyisihkan manusia yang tidak mampu bertarung secara global. Bukan bangga sebagai fakutas ter-asri di UI, karena punya air mancur, taman yang bagus, gedung yang nyeni, kantin kerucut, teater daun, atau situs arkeologi baru, dan lempengan karya seni apalah itu. Bukan itu. Ini adalah tantangan buat FIB.

Keadaan terkait hal itu adalah FIB masih sangat minim dalam penyediaan sarana komputerisasi di wilayah fakultas. Lab. Komputer sangat minim, terpusat di gedung VIII dengan komputer yang bisa dihitung jari dengan akses yang lemot dan bervirus.
Padahal menjadi fakultas budaya, bukan berarti kita tidak dapat menikmati kemajuan peradaban budaya manusia di bidang teknologi, bukan?

Benar, budaya ‘laptop’ telah juga menjamur di kalangan mahasiswa, namun…tidak semua mahasiswa dapat menikmati hal tersebut. Nampaknya, pihak fakultas terkesan menyamaratakan kemampuan mahasiswa masukan di tahun pertama di UI. Sehingga dapat kita temui seorang mahasiswa yang mengetik pun masih cukup lama, dan tidak begitu familiar dengan perangkat komputer, internet, apalagi aplikasi lainnya yang cukup ‘ribet’ untuk dipelajari.

Memang ini (keterampilan komputer—red) bisa dipelajari sendiri, namun…apabila fakultas memberi failitas yang baik, nampaknya akan memperbaiki pula skill mahasiswa, bila tidak memfasilitasi dengan baik, bagaimana mahasiswa-mahasiswa yang mengalami nasib tidak seberuntung pemilik laptop itu dapat memajukan skill mereka, di samping mereka pun harus menuntaskan SKS mereka pada waktu yang tepat. Seharusnya, kampus menjadi rumah kedua yang nyaman dan menyamankan….

*

Ilustrasi 3.

“Deew…” sambil cupika-cupiki. Rok mini ditambal celana strit agak nerawang, dandanan super tebel, dan tas jinjing merek Channel. Itulah Frizeenatasha.

“muah..muah..” balas Andrew. Lelaki yang agak ke’cewe-cewe-an gemar dandan, pakaiannya ngepres badan, suka pakai lipbalm, tas selempang, dan kuku yang rapi bekas di medi pedi.

“friz, loe tau gak kemaren waktu gue jalan ke PI, ada si Virgie bareng gandengannya yang baru… gue liat mesra banget pegangan tangan segala di eskalator… loe inget si Virgie kan? Anak Ing 2002 mantan si Boris guanteng abizz ituch?”

“yaa..i c, honey…kalau gak salah gue pernah liat dia jalan sama Mathew anak bule yang masih sekolah gituch..lupa gue sekolahnya apa…adik kelasnya di Janson.. anak mana dia dulunya?”

“ah…yang gue liat bukan bule, malah mas-mas gituch, say.. look likes om-om…”

*

Gubrak! Pemandangan itu bukan dalam mimpi lagi. Mungkin dulu, pemandangan tersebut masih merupakan mimpi buruk para orang kolot kita. Tapi, kini… tidak perlu menuju pusat perbelanjaan, mall, salon, atau tempat fitness untuk menemukan dialog dan uga dandanan ‘manusia’ muda Indonesia yang super kelewat batas alias di ambang garis kewajaran. Di kampus-kampus besar di Indonesia, kita kerap kali menemukan gejala yang hampir serupa dengan ilustrasi di atas. Ikuti ulasannya…

Budaya…o…budaya… kembali kepada ilustrasi 3. Di fakultas yang mempelajari budaya dari berbagai negara; Indonesia, Cina, Korea, Jepang, Arab, Jerman, Perancis, Belanda, dll—ini-juga-lah kita menemukan gejala penyakit westernisasi di badan akademisi. Entah dimulai sejak kapan, tapi, aneh sungguh. Saat kita belajar di fakultas yang notabene-nya belajar tentang kebudayaan Indonesia—hampir di semua jurusan yang ada di fakultas ini diwajibkan mengambil MK Dinamika Kebudayaan Indonesia dan MK Masyarakat dan Kesenian Indonesia—gejala melunturnya budaya Indonesia sendiri-lah yang makin terlihat jelas.

Mahasiswi dengan dandanan super duper, aksesoris yang kelewat banyak, rambut rebonding, atau sengaja acak-acak-an biar jadi pusat perhatian. Atau mahasiswa yang bajunya ketat dan juga jeans belel, robek-robek yang juga ngepress pantat, rambut lebah, atau rambut klimis. Atau mahasiswa dengan tas laptop dijinjing ke-mana-pun dia pergi, dengan HP keluaran terbaru, atau PDA yang juga baru. Pemandangan yang high-class ditampilkan dari wajah-wajah mahasiswa FIB kini. Dan menjadi stereotyped—sangat populer!

Pergaulan cowok dan cewek bukan hal yang tabu lagi, di kantin merokok bareng-bareng, just nongkrong dan main kartu. Gak cowo dan cewe sama-sama asyik dengan puntung rokoknya, hingga kantin menjadi tempat yang ‘menyeramkan’ untuk didatangi, kecuali lewat untuk sekedar membeli makan dan lekas keluar dan makan di bawah pohon dekat danau Teksas—daripada harus berbau-bau badan kita akibat asap rokok di kantin. Ya…selain alasan kantin sudah tidak mampu menampung ratusan mahasiswa, bahkan hampir ribuan hitungannya, karena kantin FIB tidak lagi hanya milik mahasiswa FIB, tapi juga fakultas lain yang dihubungkan lewat jembatan teksas (tekniksastra—red).

Gaya hidup hedonisme, konsumerisme, ingin jadi pusat perhatian yang berlebihan telah menjadi warna kampus ilmu budaya ini. Apa harus demikian untuk dapat diakui sebagai anggota masyarakat global?

*
Jadi, kalau ada yang bilang masuk UI itu mahal, itu kata siapa dulu? Bisa jadi itu hanya pendapat orang awam yang gak tau ‘isi’-nya UI… kalau lihat lebih dekat UI, sebenarnya, kita sudah kembali ke jaman feodal dulu… yang kaya yang bisa sekolah…jelaas ! anak sopir angkot, anak buruh musiman, anak PNS golongan rendah akan berpikir puluhan kali untuk meminta pada orangtuanya membayar uang pangkal masuk UI. Hingga si bapak sibuk pinjam sana sini untuk dapat menyekolahkan anaknya di kampus yang katanya kampus reformasi ini… lambat laun memang kita terjajah di negara sendiri (baca— merdeka). Kamu bisa lihat sederetan mobil bagus di parkiran, dan lain sebagainya-lah… semuanya ada di UI.


inilah potret parkiran mobil di lapangan parkir FISIP UI, ini tak seberapa banyak loh! *beeeeh*


*
Tapi,…saat perpustakaan makin penuh juga dengan mahasiswa yang sibuk mencari bahan untuk menyelesaikan skripsi atau tugas akhir, atau sekedar membaca buku selintas lalu, skripsi mala (baca— mahasiswa lama), atau berlaptop ria… kantin pun semakin penuh…dan musola juga semakin penuh.

Hm….rasa-rasanya…setidaknya masih ada loh mahasiswa yang tidak hanya konsen di kehidupan ‘berkebudayaan’ di kampus ini, melainkan ada juga mahasiswa yang tidak lupa dengan kehidupan beragama, beribadah dan berdoa. =)

***
Jadi, bagaimana kesiapan UI menjadi universitas riset? Jika tidak segera membenahi SDM juga fasilitas (dan banyak bebenah lainnya) untuk memajukan semangat riset berwawasan ilmu pengetahuan budaya, teknologi, sosial kemasyarakatan dan spiritualitas di tubuh mahasiswa dan pengajarnya, nampaknya cita-cita membawa UI ke ‘depan pintu gerbang kemerdekaannya’ akan lebih lama lagi tercapai…! (koq jadi kaya UUD 1945 yah?). =)


Serpong, 20 September 2007, yoe-

2 comments:

  1. assalamualaikum. saya aya mbak. barusan diterima FIB-UI jurusan sastra cina...

    makasi ya mbak, tulisan mbak udah ngasi saya gambaran tentang kampus saya nanti (insya Allah)

    tetep semangat ! :)

    ReplyDelete
  2. @ayaa.. waalaikumsalam.. alhamdulillah dan selamat bergabung dengan keluarga besar FIB UI.. walau masa saya masih ada kurang di sana sini, tetep, saya bersyukur jadi lulusan FIB UI... semoga senang belajar di UI.. semangaad.. n tetep nge blog..

    ReplyDelete