Friday, November 23, 2007

IRAN; Negeri Nuklir dan Minyak Bumi.....

Keadaan Geografis Iran
Iran atau Persia adalah sebuah negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Hingga tahun 1935, Iran masih dipanggil Persia oleh dunia Barat. Pada tahun 1959, Mohammad Reza Shah Pahlavi mengumumkan bahwa kedua nama terebut boleh dipergunakan. Ibu kota Iran terdapat di Teheran yang terletak pada 35°40′ LU 51°25′ BT. Luas tanah Negara Iran adalah 1.648.000 km persegi. Dengan komposisi daratan sebanyak 1.636.000 km persegi dan perairan sebanyak 12.000 km persegi.

Iran berbatasan dengan Azerbaijan dengan panjang perbatasan 432 km dan Armenia sepanjang 35 km di barat laut. Laut Kaspia di utara, Turmenistan sepanjang 992 km di timur laut, Pakistan sepanjang 909 km, dan Afganistan sepanjang 936 km di timur, Turki sepanjang 499 km dan Irak sepanjang 1.458 km di barat, serta Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.

Iran didominasi pergunungan kasar. Di bagian barat terdapat lebih banyak pegunungan dengan barisan, seperti Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Zagros, dan Alborz, dan Gunung Damavand setinggi 5.604 dan merupakan tempat tertinggi di Iran. Di bagian timur Iran, terdapat gurun di dataran rendah yang tidak dihuni, seperti Dasht e-Kavir yang memiliki danau garam. Ladang yang luas ditemukan di sepanjang pesisir Laut Kaspia dan di ujung utara Teluk Persia, di mana Iranberbatasan dengan sungai Arvand. Iklim Iran kebanyakan kering juga setengah kering, meski ada yang mendapat iklim subtropics sepanjang pesisir Kaspia.

Besarnya Pendapatan Domestik Bruto pada tahun 2005 sebesar US$ 518,7 miliar dan pendapatan per kapita sebesar US$ 7.594. Iran disokong oleh sektor agriculture sebesar 11.8%, industri sebesar 43.3%, dan servis sebesar 44,9 %.
Tercatat tingkat inflation pada tahun 2005 sebesar 16%, tingkat pengangguran sebesar 1,2 %, dan angka Kemiskinan sebesar 40% (2002).

.:.Nuklir dan Minyak Bumi di Iran
Sejarah perjalanan keberadaan minyak bumi di Iran tak kalah panjang seperti halnya sejarah Iran sendiri. Pada masa kepemimpinan kerajaan Qajar, terdapat penemuan minyak mentah di wilayah Khuzestan. Hal ini kemudian menarik minat Inggris dan Rusia untuk meluaskan pengaruh mereka di Iran. Keduanya berlomba memonopoli minyak Iran, dan akhirnya memecah belah Iran. Kejadian ini pun disebabkan oleh lemahnya kerajaan Qajar dalam menangani masalah ini, dan mengakibatkan adanya pemberontakan Reza Pahlavi yang kemudian menobatkan diri sebagai Shah dan Dinasti Pahlavi.

Pada 1951, perhatian dunia tertuju pada minyak dan Teluk Persia. Perdana menteri yang baru saja terpilih, Mohammad Mossadegh, menguncangkan London dan Washington dengan menasionalisasikan minyak Iran, dan dengan begitu mengakhiri kepemilikan Inggris atas minyak di Iran. Sejumlah perusahaan minyak terbesar dunia— Standard Oil, Shell, Socal, Socony, Texaco, dan Gulf— bahu-membahu untuk memberikan bantuan pada Anglo-Iranian Oil Company. “Tujuh bersaudara” ini menolak memuat setetes pun minyak mentah ke dalam kapal-kapal tangker mereka. Boikot kolektif itu berhasil dilakukan. Dan hasilnya, dua tahun kemudian ekonomi Iran pun terpuruk.

Di tahun 1960-1961, terjadi krisis politik dan ekonomi yang diakibatkan pemanipulasian pemilihan majelis. Shah Reza kemudian memperkenalkan program Revolusi Putih sebagai program reformasi agrarian yang didukung oleh perbaikan di bidang pendidikan dan kesehatan. Maka, pada 1963-1973, politik dan perekonomian Iran mengalami kestabilan. Pendapatan nasional dari minyak mengalami kenaikan, hal ini mendukung pertumbuhan ekonomi Iran. Harga minyak dunia meningkat empat kali lipat pada tahun 1973-1974, dan ini menyebabkan pendapatan Iran dari sektor minyak pun meningkat dari lima milyar dolar hingga 20 milyar dolar dalam setahun.

Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama, karena ambisi Shah dalam menjadikan Iran sebagai negara adidaya, Iran mengalami inflasi dengan pesat. Inflasi ditandai oleh bertambahnya jurang antara si miskin dan si kaya. Keadaan yang lebih buruk adalah kerajaan Iran menghabiskan ratusan juta untuk membiayai pekerja pakar asing dan membeli perlengkapan tentara dari Amerika yang sesungguhnya hanyalah sebuah pemborosan. Banyak terdapat pemogokan kaum pekerja di berbagai daerah di Iran. Partai Tudeh (komunis) sempat mengambil alih kebijakan, namun kemudian digantikan oleh para fundamentalis.

Saat itu, sejarah mencatat bahwa kekuatan sebenarnya berada di tangan kaum proletar Iran yang terdiri dari para pekerja tambang minyak. Namun, tindakan Khomeini saat itu adalah mendukung gerakan teroris untuk mengalihkan perhatian dari ketegangan internal Iran. Shah meminta bantuan Amerika untuk menyokong beliau. Amerika pun saat itu sedang memerlukan Iran karena posisinya di Teluk Parsi dan kaya dengan sumber minyak. Namun, ternyata presiden AS pada saat itu tidak menepati janjinya. Pegawai tinggi Amerika menyarankan agar Shah turun tahta, namun Khomeini mengambil alih kekuasaan Iran pada saat itu.

Pada era Shah Reza Pahlavi, Iran pun telah mengembangkan kekuatan militer. Inilah awal mula pengembangan senjata nuklir. Iran persisinya mulai melaksanakan program nuklirnya sejak tahun 1960-an. Instalasi nuklir Iran pertama adalah untuk riset nuklir dengan kekuatan hanya lima Megawatt yang diperolehnya dari AS dan memulai beroperasi pada 1967. Kemudian, Iran terus mengembangkannya hingga berhasil mengadakan transaksi dengan perusahaan Jerman Barat “Siemen” pada 1975 dan mendirikan lebih banyak reaktor nuklir. Iran juga mengadakan kerjasama dengan Perancis di tahun berikutnya. Pemerintah Iran pun mengirimkan para ilmuwan dan teknisinya untuk belajar di universitas-universitas di AS dan Inggris. Namun, saat kejatuhan Shah, proyek pembangunan reaktor banyak yang dihentikan karena dianggap sebagai ambisi semata Shah yang telah menghabiskan sekita 30 miliar dollar .

Sementara produk lain Iran, minyak bumi, kini menyokong sebesar 75% perekonomian Iran. Dan cadangan minyak di Timur Tengah terbesar dimiliki Arab Saudi kemudian disusul Iran dan Uni Emirat Arab di posisi ketiga. Kepentingan ekonomi dan diplomasi Amerika di Timur Tengah semakin meningkat. Seperti yang dituliskan di harian Kompas, Sabtu, 7 April 2007, permintaan yang meningkat membuat AS tidak bisa memutuskan hubungannya begitu saja dengan Iran. Konsumsi minyak AS sendiri mencapai 20 juta barel per hari, dengan 55 % nya adalah impor.

Namun, dengan adanya Resolusi PBB 1747 yang dikeluarkan PBB terhadap kegiatan riset bahan bakar nuklir Iran yang kembali dimulai pada 10 Januari 2006, posisi Iran semakin didesak. Namun, figur Dr Mahmoud Ahmadinejad, presiden Iran yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang insinyur pembangunan, dan mencapai gelar doktor di bidang teknik serta program transportasi dan lalu lintas tampil berani menghadapi kecama dari berbagai pihak. Beliau juga memiliki pengalaman managerial dan menjabat berbagai jabatan eksekutif, termasuk jabatan sebagai gubernur. Jabatan terakhir beliau sebelum ini ialah walikota Tehran. Ia menjadi tokoh yang kontroverial di balik isu kekinian Iran, mengenai pengembangan nuklirnya.

Ketergantungan Barat terhadap pasokan minyak dari Negara-negara Arab dan Negara-negara Muslim akan terus berlanjut hingga masa yang belum bisa diprediksi. . Isu nuklir yang marak diperbincangkan dunia ternyata tidak begitu saja memperngaruhi hubungan dagang minyak bumi dengan Iran yang disebabkan adanya resolusi PBB dan embargo ekonomi terhadap Iran yang kemungkinan besar menunjukan ketakutan Amerika Serikat terhadap kemajuan teknologi Iran di kawasan Timur Tengah.

Kemajuan pesat berhasil ditunjukan Iran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kemampuan para ilmuwan negara ini dalam memproduksi bahan bakar nuklir untuk skala industri. Seperti diketahui, independensi dan kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung kepada keberhasilannya dalam meraih kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Selama Iran diperintah oleh penguasa yang diktatoris serta sangat bergantung kepada Barat dalam segala hal, bisa dikatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di Iran mengalami stagnasi yang sangat parah selama hampir dua abad. Untuk itulah setelah berhasil meraih kemenangan dalam revolusi, Iran kemudian bertekad kuat meraih keberhasilan lain di bidang ilmu pengetahuan demi menjamin masa depan bangsa ini sekaligus mengejar berbagai ketertinggalan di bidang ini.
Upaya ini menjadi tantangan bagi negara-negara kuat yang selama ini sudah terbiasa menjadi penguasa dunia. Independensi negara-negara dunia ketiga adalah hal yang tabu bagi mereka. Karenanya, tidaklah mengherankan jika tekad kuat bangsa Iran untuk meraih keberhasilan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini dicela oleh Barat. Berbagai konspirasi dibangun untuk menghalangi langkah dan kemajuan Iran.

Isu-isu yang tidak otentik juga diembuskan Barat dengan tujuan menghalangi keberhasilan bangsa Iran tersebut. Dalam contoh terbaru, proyek nuklir sipil Iran dihalang-halangi dengan menggunakan isu bahwa proyek tersebut hendak dibelokkan Iran menjadi proyek senjata nuklir. Padahal, tim inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selalu mengatakan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran.

Selain dengan tuduhan, Barat juga mencoba menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan bangsa Iran dengan embargo ekonomi dan ancaman serangan militer. AS sendiri sejak lama sudah menerapkan embargo tersebut. Lebih ironisnya, AS juga mengancam akan memberikan sanksi kepada negara manapun yang menanamkan investasi di Iran dalam jumlah besar. Baru-baru ini, AS menekan DK PBB untuk menjatuhkan sanksi secara terbatas, hingga lahirlah Resolusi DK PBB Nomor 1737.

Meskipun mendapat banyak halangan, kemajuan Iran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sama sekali tidak bisa terbendung. Sanksi ekonomi ternyata malah membuat bangsa Iran lebih mandiri. Yang lebih banyak menderita kerugian dari penerapan sanksi inkonstitusional ini justru negara-negara Barat, khususnya AS. Lebih jauh lagi, sebagian besar negara dunia tidak mempedulikan sanksi dan ancaman tersebut. Mereka tetap saja menjalin hubungan dagang dengan Iran. Dua perusahaan minyak raksasa Eropa, yaitu Repsol dan Shell baru-baru ini tidak menggubris tekanan AS agar membatalkan kontrak investasinya di ladang minyak Golshan, Iran. Iniilah yang membuat Iran semakin membulatkan tekadnya dalam meraih keberhasilan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam perjanjian pelarangan penyebaran senjata nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty) tahun 1968, yaitu antipenyebaran senjata nuklir, penggunaan energi nuklir untuk kepentingan damai, dan penghapusan senjata nuklir secara menyeluruh. Mengacu pada isi perjanjian tersebut, Iran berhak mendapatkan haknya dalam teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Seperti dikutip dari Musthafa Abd. Rahman dalam kolom Fokus Syiah-Sunni, Kompas, 7 April 2007 menuliskan, Iran memang berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai, tetapi kemampuannya mengayakan uranium memberi keunggulan teknologi dibandingkan negara lain di kawasan Timur Tengah.

Pada 9 April 2007, Mahmoud Ahmadinejaz berpidato di fasilitas nuklir Natanz, dalam peringatan Hari Nuklir Iran. Ia mendeklarasikan Iran sebagai Negara yang telah mencapai industri nuklir. Hal ini didukung dengan pernyataan juru runding Iran, Ali Larijani yang mengatakan bahwa Iran telah mulai memasukan gas uranium ke 3.000 mesin pemutar pengayaan uranium baru. Kota-kota yang memiliki pusat kajian nuklir di Iran antara lain, kota Gorjan, Teheran, Yazid, Kharaj, dan Ashfahan.

.:. Kesimpulan
Sejarah merupakan guru yang terbaik bagi sebuah bangsa. Bangsa yang maju dan berhasil akan belajar dari sejarahnya. Itulah yang dapat ditangkap dari uraian mengenai perjalanan Iran di kancah perpolitikan dan ekonomi dunia. Sebagai negara yang sudah mempunyai peradaban yang panjang, Iran telah mengalami banyak jatuh-bangun, pergantian kekuasaan, dan juga revolusi. Sejarah masa lalu Iran tidak akan berakhir begitu saja. Isu yang menyangkut Iran kini merupakan bagian dari pertarungan Iran menghadapi kekuatan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dimiliki Iran telah membuat AS getir menghadapi kekuatan yang mungkin tidak terdeteksi seberapa besarnya.

Nuklir dan minyak bumi merupakan aset terpenting bagi Iran yang menjadi komoditi utama bidang ilmu dan teknologi serta perdagangan Iran. Perdamaian, riset, dan lain sebagainya yang merupakan tujuan dari pengembangan teknologi nuklir di Iran kelak akan berguna bagi keadilan dan kedamaian di muka bumi.

.:. Saran
Sikap Amerika Serikat terhadap pengadaan teknologi nuklir Iran menunjukan ketakutan semata. Sebagai negara yang ingin menunjukan taring dalam kemajuan ilmu dan teknologi, sewajarnya Iran menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia dalam mengambil kebijakan politik dan ekonomi yang mandiri.
Melihat sejarah panjang Iran, tentunya pemerintah Iran harus lebih bijaksana dalam memutuskan segala sesuatunya, baik yang berhubungan dengan kepentingan dalam negerinya maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dunia. Iran harus tetap memenuhi syarat keamanan dalam pengadaan nuklir di negerinya, hal ini menjadi sebuah komitmen suatu negara kepada masyarakat internasional.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ar-Rusydi, Mirza Maulana. 2007. Mahmoud Ahmadinejad Singa Persia VS Amerika Serikat. Yogjakarta: Garasi.
Hitti, K Philip. 2005. History of The Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Rahman, Abd. Musthafa. 2003. Iran Pasca Revolusi Fenomena Pertarungan Kubu Reformis dan Konservatif. Jakarta: Kompas.
Ward, Terence. 2007. The Hidden face of Iran, Catatan Perjalanan Warga Amerika Serikat Menembus Jantung Negeri Iran. Jakarta: Rajut Publishing.

Media Massa
Kompas, Sabtu, 7 April 2007
Kompas, Senin 9 April 2007
Kompas, Rabu, 11 April 2007
Kompas, Kamis, 12 April 2007

Internet
www.iranian.com
www.wikimedia.com

3 comments:

  1. @fadlan: trimakasih.. :)tulisan yang sudah lama ini di statik blog grafiknya tinggi..masih banyak yang baca..alhamdulillah.. semoga bermanfaat..

    ReplyDelete