Tuesday, January 13, 2009

Où vas-tu?

Januari 2009, matahari bersinar. Sinarnya menembus jendela-jendela kaca rumah kami.
Embun menetes lewat daun-daun bunga Wijayakusuma. Suara bangkong pun terhenti saat sang ayam jantan telah berkokok… juga panggil memanggil suara ketujuh angsa penunggu rumah kami.

koaaang…kooooaaang…” begitu irama keluarga angsa menyambut pagi pertama di tahun duaribusembilan.

Rasanya, semalam… aku ingin terjaga, biar kudengarkan suara petasan-petasan anak desa itu menghingarbingarkan kampung. Tapi, apa daya…. Maryamah Karpov membuatku lelap.. mozaik duapuluh delapan… Handphone ku sepi ucapan.. tapi, itu tidak masalah… karena perayaan bukan dari ucapan, tapi kelapangan hati…

***

Sudah sejak pagi ayah telah berada di musholla melakukan ibadah sholat malam. Dan ia akan menunggu hingga Subuh, barulah, dilanjutkan mengaji atau kadang kembali tidur sejenak dan bersiap berangkat ke kantor.

Sejak lama, kuperhatikan, ayahku banyak berubah. Dahulu ia pemarah, maksudku, dia cukup keras terhadap anak-anaknya, terutama aku dan adikku yang pertama… Kini, ia sudah banyak berubah. Saat ayah bermunajat ingin naik haji, keinginan besarnya itu diikuti dengan ibadah-ibadah sunnah dan berolahraga. Dan semua itu, lancar dikerjakannya hingga sekarang… Ia salah satu sosok yang berhasil merintis karier nya sebagai pegawai negeri sipil dari tahun delapanpuluhan, dengan pendapatan delapanpuluh ribu.

Hari ini hari pertama di bulan pertama duaribusembilan. Walau hari ini libur bersama, ayah tidak kembali mengistirahatkan diri… hari ini akan menjadi hari yang bahagia buat ibu… ini hari ulang tahunnya!

Dan aku sudah punya hadiah untuk ibu.

***


Dua tahun lalu, ayah dan ibu berangkat haji berdua. Maka, dua tahun lalu, ibu merayakan ulang tahunnya yang ke empat puluh tiga di tanah suci, saat sedang menjalankan ibadah haji bersama ayah.

Hadiah yang (mungkin) paling indah yang pernah ibu dapatkan dari ayah… (setelah menikah hampir duapuluhempat tahun).

Mungkin itu juga hadiah bulan madu juga mahar nikah yang sebelumnya tidak pernah ada…

Dan hari ini, ulang tahunnya yang ke empat puluh lima… persis tahun kemerdekaan Indonesia.

Dunia ini hanya fana… kalau yang kita kejar hanya dunia, mau apa kita ini? Tidak ada ujungnya pencarian keduniawian… kalau kata ayah, “Hidup ini untuk Mati”

***

Sepertinya, siang itu, langit menjadi gelap... Aku membawa kue ulang tahun untuk ibuku.. dan dua adikku pun berkumpul di ruang tengah. Ayah di kamar. Masih di kamar sejak tadi pagi.



Ayah tidak punya hadiah lagi. Hanya bungkusan kado-ku dan kue ulang tahun yang kupesan...
Baru kali ayah sama sekali tidak berinisiatif memberikan kejutan pada ibu.

Aku kesal pada ayah.

Tapi, sudahlah.... setelah memotong kue tar dengan cherry di atasnya, kami pun merasakan kebahagiaan. Karena kami diberi umur dan kesehatan.

Ibu senang dengan hadiahku. Sebuah termos untuk menyimpan air hangat. Ibu senang minum teh. Dan dengan termos baru itu, ia akan mudah menyedu teh-nya.

***

Où vas-tu?


Kamu bilang kamu akan ke Eropa! Jantungku berdetak cepat. Darah mengalir deras, menggumpal di kepala.

Pourquoi déménagez-tu?

Aku tidak mau kamu pergi jauh! Aku ingin kamu menepatinya. Membawaku bersamamu..

Tu es fatigué... kamu bilang kamu lelah... lelah karena sebuah memori. Memori yang entah kenapa sulit dihapus dari labirin-labirin kenangan.N'oublie pas!

N'oublie pas!


Lalu kamu, berdiam dalam malam. Diam dan terus diam... hingga...............................


Kamu pun tiba-tiba terbangun. Il est minuit...

***

Ayahku sekarang sedang ke Eropa! Dia dapat tugas sekolah doktor di sana. Dia tidak bercerita pada kami. Hanya beberapa minggu sebelum keberangkatannya, ia sempet berkata,

”Ayah akan sekolah lagi... ke Perancis”

Hah?! Perancis???

Kenapa harus ayah yang ke sana? Kenapa bukan aku. Dalam hati, aku mengutuk-ngutuk ketidakadilan. Lalu, setelah mengutuk... aku tertawa...


Dan aku diam.... malam menjadi hitam.... diam... hingga.........

***
Ayah dan kamu dalam satu flat yang sama.. kalian mengirimiku foto di bawah menara Eiffell...

Kenapa musti kamu dan ayah???

Ibu tersenyum melihat aku sedang bengong memandang jendela-jendela kaca. Di luar hujan deras. Aku memandang ke luar. Jauh ke luar, tanpa titik fokus... mungkin kalau pun ada hitungannya tiada hingga...

Jangrik sekarang menemani, suara angsa menari menyambut hujan yang tumpah dari langit, pohon-pohon bergoyang...

Listrik pun padam....

Tu vis... tu as vécu...tu vivras.... di sini.. di tiap detik aku menunggumu...



Quand viendrez-tu me voir?



Jakarta, 13 Januari 2009

4 comments:

  1. wa...selamat ulang tahun kepada ibu dan semoga sukses buat ayah dan dia yang di perancis...

    ReplyDelete
  2. Its very nice, daku suka tambahan kata2 dlm bahasa prancis na teh!

    ReplyDelete
  3. Hmmm boleh koreksi dikit teh soal salah pejet tuts.
    langsung ajah (anggap sebuah ralat) : << tu suis fatigué --> tu es fatigué >> dan sebaiknya subjek vous diganti dengan "tu" kalo lihat benang merah ceritanya.
    jadi : << Où allez-vous ? --> où vas-tu ? pourquoi fumez-vous ? --> porquoi fumes-tu ? n'oubliez pas ! --> n'oublie pas ! >>
    bedanya hanya "tu" tunggal dan "vous" jamak.
    semoga bermanfaat.
    Kalo jadi lihat eiffel di Paris.

    ReplyDelete
  4. huaaa yusako jago amat. DIkau bisa berapa bahasa? Hm... bener juga kata bokap dikau, coba ikutan deplu :D

    ReplyDelete