Friday, June 19, 2009

jalan panjang menuju pulang

Aturan Truk melintas di Jalan Raya di atas jam 10 malem, apa masih ada???
Kemacetan kerap kali menjadi sahabat kita semua. Apalagi Jakarta. Rasa-rasanya bukan hal yang aneh-lah. Sebenarnya ketimbang harus ke Jakarta, saya akan memilih berangkat menuju Bandung. *halaah... sama macetnya, cuma asyik ajah tempatnya...banyak tempat cuci mata-nya... *http://emo.huhiho.com

Hm, tapi... sepertinya kemacetan bukan hanya milik Jakarta saja. Every where... Di propinsi Banten, ada salah satu kota baru, pemekaran kota Tangerang. Tangerang Selatan, dinamainya...
pusat pemerintahan kota nya ada di Pamulang. Sebenarnya, saya juga tidak paham, alasan politis atau ekonomis apa yang melatarbelakangi pemekaran ini. Pembangunan? Pamulang tuh bisa dibilang, Jakarta gak, Tangerang gak...

Ini dialami adik saya yang bersekolah di salah satu SMA di bilangan Pamulang. Sekolah ini bayaran bulanannya mengacu sama Jakarta... Biaya masuknya pun lebih tinggi daripada sekolah-sekolah yang ada di daerah Setu, Cisauk, atau Serpong. Olahraga pun musti ke Senayan!??? Gile kan?

Masa iyah?!!! Gaya anak sekolahan-nya pun ga kalah tanding sama anak Jakarta. Malah lebih parah mungkin... kalau bayaran sekolah adik saya mencapai 400 ribu setiap bulan, belum ditambah lagi les privat, buku, dan lain-lain-nya... sementara di Jakarta, sekolah gratis! http://emo.huhiho.com

Wwwweeeewww...

Pamulang, sekarang setelah jadi pusat pemerintahan, jalan utama diperlebar... gede banget! cuma musti mengorbankan pohon-pohon besar di pinggir jalan.. kasian.. sudah tua, sudah rindang, mungkin jadi semakin panas-lah kota itu...

Tidak lama setelah pelebaran jalan Pamulang berlangsung... giliran jalan provinsi, jalan utama yang menghubungkan Bogor (Jawa Barat) dengan Tangerang, Merak, Serang (Banten) yang dapat giliran...

Sebelumnya, jalanan ini sudah pernah diperbaiki, karena rusak parah. Di-cor. Tapi, sekarang ajah sudah belahbelah lagi... Anehnya. Walau jalan ini jalan provinsi, keliatan-nya masih kurang dapat perhatian. Sebenarnya, saya ingin sekali mengambil gambarnya.. *semoga besok saya bisa ambil gambarnya*. Jalan di bunderan dekat Techno BSD lubang jalan sebesar badan jalan.

Beberapa waktu lalu sebelum ada perbaikan dan pelebaran jalan tersebut, teman ibu saya, Ibu Sri, mengalami kecelakaan cukup serius saat melewati jalan itu. Kecelakaan terjadi. 8 orang luka parah, dan satu orang tewas. Ibu Sri ini mengalami geger otak. Saat ini masih dirawat di RS. Fatmawati. http://emo.huhiho.com

Saya jadi terpikir, "Apa harus ada korban dan nyawa hilang untuk memperbaiki jalan???"
Mulai hari Senin kemarin, pengguna jalan yang melalui jalan-an yang sedang di-cor itu menjadi deg-deg-an...
Apalagi, saya dan penumpang langganan setia Pak Uban (sopir angkot merah dengan stiker nyala bergambar Halilintar yang orangnya super bawel)... duh, Pak Uban ini... apa pita suaranya ga habis yaa??? Udah gituh, Pak Uban ini pe-rally gila... jalanan rusak ajah dihajar! alhasil, penumpang ikut ajrut-ajrut-an. Cuma bagaimana lagi, penumpangnya udah setia banget. karena cuma satu orang macam dia, yang rela nganter penumpang sampai ke halaman stasiun, motong jalan di Pasar, dan dia juga adalah orang yang rela stress gara-gara macet di Pasar untuk tetap menjaga kepercayaan para penumpangnya. http://emo.huhiho.com

Bisa dibilang, Pak Uban merupakan orang yang professional, hahaha.. menurutnya, "satu penumpang tetep anter... demi kepercayaan dan keprofesionali-tas-an," eja-nya sambil menghisap rokok Dji Sam Su setiap pagi kala stress maupun tidak.

Bahasanya itu tinggi selangit, wawasannya tentang peta geografi, dan musik sangat bagus. Tukang angkot mantan pecandu ini sudah melewati masa-masa gila nya... seperti sekarang ini tuh adalah edisi Insyaf-nya.. kebayang gimana dulunya ga siyh??? (hahahah...)

Kalau macet begini, lebih parah lagi... Pak Uban akan ngoceh tanpa henti.. tapi selalu diakhir kata "alhamdulillah" dan "terimakasih ya, penumpang Pak Uban yang cantik-cantik, dan ganteng-ganteng..." wkwkwkw....

Well, itulah sesi pagi hari, mau tau kalau malam hari pulang???
Sekarang ini, saya hanya berpikir, apa kita akan sampai di rumah dengan cepat, atau kah ikut dengan antre-an yang bisa menghabiskan waktu hampir se-jam saat melintasi jalanan yang di-cor itu?

Kalau antre-an sudah panjang, hingga hampir 500 meter atau bahkan sekilo, seperti hari Rabu malam lalu, akhirnya si sopir memutar balik lewat Serpong, lewat jalan kampung, cuma 15 menit sampai, namun, deg-deg-an, karena jalanan licin.

Nah, kalau kemarin tuh, angkot melaju santai dan sampai di jalan yang di-cor itu, seperti hari-hari sebelumnya, diadakan buka-tutup, waktu akan melewati jalan itu, kami masih berjalan. alhamdulillah... namun, ditutup setelah kami hampir sampai di ujung jalan yang sedang di-cor itu...

Mau tahu apa yang saya lakukan semalam saat terjebak dalam antre-an?
adalah menghitung jumlah truk yang melintas dari arah berlawanan dengan angkot saya.
dalam waktu 10 menit, angkot saya mendapat giliran "diam", saya mulai menghitung.. ada 25 truk Hino hijau yang besar banget itu isinya tanah, 1 truk gede tapi tanpa muatan, 1 bus penumpang Bogor-Tangerang, puluhan angkot, puluhan mobil pribadi, dan tentu lebih dari 50 buah motor bebek! http://emo.huhiho.com

Debu, tanah, dan pasir memasuki jendela angkot... saya pun batuk-batuk, syukur alhamdulillah, tukang angkotnya peka-an.. dia nutup kaca jendela di sisi-nya... Nah, setelah dibuka... cukup 4 menit bisa melewati jalan yang sednag di-cor, sembari melintasi truk dan mobil yang sedang dalat giliran "diam", saya hitung lagi... ada berapa kah truk yang sedang mengantri??

20 truk Hino besar berisi tanah! 1 truk molen semen Holcim, 1 bus Perdana jurusan Tangerang, dan mobil angkot, serta mobil pribadi... dan tentu sepeda motor!

Gileee, kan??? Bagaimana mungkin jalanan di daerah ini bisa tetap baik?
Yang lewat truk segede-gede Hino muatannya berat pula..

Selanjutnya yang ingin saya tanyakan kepada pemerintah kota Tangerang, provinsi Banten adalah,
"Apa aturan truk melintas di jalan protokol itu sudah tidak ada??? Dulu, sepengetahuan saya, jam 10 malam barulah bisa truk-truk besar melintas.... sekarang, yaa pagi, yaa siang, yaa malam, ga ada tidurnya jalanan ini dilewati badan-badan besar dan berat macam truk Hino, tronton, truk semen, dll..." http://emo.huhiho.com


Dengan tulisan ini saya mengharapkan, adanya secercah harapan untuk perbaikan di kota ini.. semoga pemerintahan kota bisa lebih peka terhadap hal seperti ini, mengingat volum kendaraan yang lewat daerah sini amatlah banyak, tolonglah waktu-waktu tertentu untuk lewat truk pengangkut tanah, dll itu diatur kembali. Karena tak jarang truk tersebut menjadi memicu kecelakaan di jalur ini... http://emo.huhiho.com

Saya juga mengharapkan aparat kepolisian dan DLLAJ dapat lebih "tertib" hukum di jalan raya..
kalau boleh saya mengatakan kejujuran yang pahit di sini, saya dan juga mungkin yangmelintas di perempatan Muncul, sering kali truk yang lewat musti "melempar uang" agar bisa lewat..
pernah suatu kali, saya sedang di angkot, saya melihat sebuah truk dipukuli "badan"nya oleh aparat, tidak terlalu jelas karena sudah malam, agar "melempar uang"... http://emo.huhiho.com

saat itu saya tertawa... sekaligus miris... memang pekerjaan aparat berat sekali, capek lah, seharian di jalanan, terkena polusi, panas terik, dan hujan... cuma kalau dimulau dari sekarang, tentu akan memperbaiki segalanya... Amin... Ya, begitulah jalan panjang menuju pulang...

Sungguh perjalanan yang penuh kerikil, kadang berasa berunjul-an, kadang terasa lapang...

2 comments: