Friday, August 07, 2009

Kematian itu Sangat Dekat

Setelah meninggalnya J-Co menghebohkan seantero dunia. Kini, negeri ini pun kehilangan sosok seniman mahir, Mbah Surip 'Tak Gendong and I loph you full' dan lalu sastrawan jenius WS. Rendra. Semalam, sekitar jam 11 malam, saya mendengar di berita breaking news salah satu siaran televisi menyiarkan berita wafatnya WS Rendra.

Penyair yang bernama lengkap (dulu) Willibrordus Surendra Broto Rendra *setelah masuk Islam, namanya menjadi H. Wahyu Sulaiman Rendra* adalah sosok penyair yang sangat ditua-kan. Alm. adalah sastrawan besar Indonesia. Ia lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – wafat di Jakarta, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) yang dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Saat berita meninggalnya Mbah Surip disiarkan, khalayak nampak "terkejut", karena di saat masa populer-nya, Mbah Surip dikabarkan meninggal dunia dengan mulut berbusa saat dilarikan ke rumah sakit. Sementara WS. Redra dikabarkan sudah sangat ikhlas akan kematiannya (red: Eros Jarot dalam Detik.com) pada 6 Agustus 2009 sekitar pukul 10 malam. Ia dikabarkan terserang sakit jantung koroner... Ia bersemayam dengan tenang pagi ini di bengkel Theater, Depok. Ya, bengkel theater miliknya, yang di mana Mbah Surip juga dimakamkan juga. Berturut-turut kita kehilangan para seniman-yang benar-benar seniman... semoga bertumbuhan para penerus seni dan budaya Indonesia. Amin..

Seperti yang pernah dikatakan Socrates, *dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297), sumber di sini

"Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi)
kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian,
namun ketika aku menemukan kematian, aku pun
menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus
prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira
dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati
untuk hidup."

Dalam al-Qur'an pun telah dituliskan jelas tentang kematian adalah haq; Sesuatu yang pasti datang pada tiap-tiap yang hidup.

"Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna)" (QS Al-'Ankabut [29]:64).

Dijelaskan pula bahwa,

"Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang
akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan
kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak
akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa' 14]: 77)
“Semua yang ada di muka bumi ini akan fana.” (QS. Ar-Rahman: 36)

“Setiap yang bernyawa itu pasti akan mengalami kematian.”(QS. Ali ‘Imran: 185)

“Sesungguhnya engkau—wahai Rasul—akan mati. Dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30)
“Dan kami tidak menjadikan orang-orang yang sebelum kamu itu hidup kekal. Apakah jika kamu mati mereka itu hidup kekal?” (QS. Al-Anbiya’: 34)

Dari ayat-ayat di atas... saya jadi merasa "tertampar", ingat dengan jelas, karena masa pasti dipergilirkan... Kematian itu begitu dekat-nya....


dan satu kalimat pamungkas saya, dalam bahasa Inggris: Died People left tusks...

meninggalkan penghargaan tertinggi, yang tiada hilang dimakan waktu hingga akhir hayat. gading retak? biarlah sejarah tetap mencatatnya...
GUGUR
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya


Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
" Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa


Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!"
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

3 comments:

  1. kematian itu begitu dekat tapi kenapa jiwa ini tdk jga takut akan kematian :(
    salam kenal, salam hangat selalu :)

    ReplyDelete
  2. Yul, jadi inget peristiwa naas raker bem. Kematian sedang mengintai kita.

    ReplyDelete
  3. yaaa.. ga ada yg bs lari dari kenyataan bahwa pada akhirnya smua manusia akan mati :) hanya saja kapan dan bagaimana ... itu yg tidak akan pernah kita ketahui.. hheheheh btw, antalogi puisi na dah lama ga di update lg yaa?? kangen niyy sama karya2 puitis laennya ^o^

    ReplyDelete