Sunday, October 25, 2009

Ini tulisan Tuppi setelah baca Gading-Gading Ganesha...




Sabtu malam, sepulang dari Pesta Blogger, saya bertemu Tuppi. Tepatnya, dia ke rumah saya. Lalu, dia memperlihatkan tulisan ini di laptopnya. "Neng, ini baca... nulisnya cuma dikit, tapi abis itu tidurnya berjam-jam bablass.." haha, dasarrrr nya ajah pemalas.. hehe. *ga deng, bercanda..* Tupp, masih jadi pengangguran terselubung.. yang semoga tidak lama lagi akan dapat pekerjaan, semoga dia jadi Analis... (sepertinya ia memang lebih cocok jadi orang di belakang layar, menganalisis kebijakan permesinan... hehe) Berikut tulisannya:

Apakah ada yang pernah mendengar tentang suatu sistem penilaian dari seorang guru/dosen bahwa nilai 10 atau “A” itu merupakan nilai untuk Tuhan, nilai 9 atau “B” untuk beliau (guru/dosen tersebut) , dan nilai 8 atau “C” ke bawah merupakan nilai untuk siswa/mahasiswanya? Waktu saya sekolah di sekolah menengah, saya pernah mendengar ada seorang guru yang menerapkan sistem nilai seperti ini. kemudian, ketika saya membaca novel 3G alias Gading-Gading Ganesha baru-baru ini yang dikarang oleh ketua program studi Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB): ada juga yah seorang dosen yang menerapkan sistem nilai seperti itu.

Waktu pertama kali saya mendengar sistem penilaian tersebut, saya cuek aja, karena memang Tuhan itu Maha Sempurna, makanya wajar saja nilai Tuhan mendapat nilai sempurna, kemudian guru/dosen mendapat nilai di bawahnya karena beliau sudah mengetahui pelajaran/mata kuliah, dan lalu murid/mahasiswanya mendapat nilai di bawahnya karena mereka memang belum mengetahui bahwa pelajaran/mata kuliah tersebut tentang apa, dan lain semacamnya. Namun, secara iseng, saya mencoba memikirkan lagi tentang hal tersebut. Ternyata, (menurut saya pribadi) menemukan beberapa hal yang aneh.

1. Apakah manusia, yang notabene merupakan makhluk ciptaan-Nya, berhak untuk menilai Tuhannya yang menciptakan dia? Semua manusia yang sehat secara akal dan rohani pasti tidak meragukan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna, lalu mengapa Tuhan juga perlu dinilai? Apakah Tuhan juga ikut mempelajari tentang pelajaran/mata kuliah tersebut? Apakah dia meragukan keberadaan-Nya? Wallahu alam. Atau, apakah itu dimaksudkan kepada setiap manusia yang bernama “Tuhan” akan mendapat nilai sempurna terus-menerus, walaupun nantinya dia tidak mengerti apa-apa?

2. Apakah seorang guru/dosen selalu benar, sehingga bisa mendapat nilai di bawah-Nya? Coba kita asumsikan bahwa guru/dosen tersebut tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di bidang tersebut. Dengan asumsi tersebut, saya menanyakan bahwa bukankah ilmu itu selalu berkembang, sehingga yang tadinya dianggap salah bisa menjadi benar, dan sebaliknya, atau menemukan sesuatu yang baru? Dengan melihat fakta tersebut, apakah beliau tidak menyadari bahwa guru/dosen juga seorang manusia biasa yang mempunyai kekhilafan? Atau hanya sebuah arogansi dari seorang guru/dosen, lalu dengan seenaknya menganggap murid-muridnya (maaf) bodoh?

3. Apakah dosen tersebut tidak menginginkan bahwa murid/mahasiswanya mendapatkan nilai yang bagus? Kalau begitu, apa motif beliau sebenarnya untuk mengajar dengan sistem penilaian yang seperti itu? Hanya sekadar memberikan ilmu yang beliau punya? Bukankah seorang guru/dosen mempunyai kepuasan batin ketika seorang murid/mahasiswanya menjadi seorang yang sukses? Atau, apakah tujuannya untuk merendahkan semangat juang dari murid/mahasiswanya? Bisa saja mereka berpikir bahwa, buat apa kita susah-susah belajar, toh nilai kita akan mentok di C adalah kurang dari 8, misalnya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada semua guru/dosen, terutama beliau-beliau yang menerapkan sistem penilaian seperti itu, Saya membuat tulisan ini adalah untuk mengetahui motif/tujuan guru/dosen mengapa menerapkan sistem nilai tersebut dan kepada para calon guru/dosen yang ingin menerapkan sistem penilaian seperti ini untuk memikirkan ulang apakah pantas sistem penilaian tersebut diterapkan. Saya membuat tulisan ini bukan untuk menyarankan kepada para murid/mahasiswanya agar membangkang terhadap guru/dosen tersebut.
Apabila ada dari para pembaca yang tersinggung, saya memohon maaf. Saya membuat tulisan ini tidak untuk menyinggung siapapun. Terima kasih kepada teman-teman yang telah membaca tulisan saya ini yang mungkin tidak berguna :).

1 comment:

  1. kalau menurutku, 3G bagus.. dan sangat memotivasi untuk belajar giat.. *apalagi buat sayah yang gak kesampaian..hahah..* cumaa, alurnya kerasa berantakan.. ckckckc.... :( maju mundurnya, bingung. moderen banget bingung lah... hehehe

    ReplyDelete