Thursday, October 29, 2009

Jangan, Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga



Jangan, Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Pernah dengar kata Magrib dong? Yup-yup... Cuma yang satu ini bukan waktu solat Magrib lhoh.. Saya kenal istilah Magrib dalam perbankan syariah dari sorang kawan saya yang bekerja di salah satu institusi perbankan syariah di tanah air. Magrib adalah kependekan dari Maisyir (perjudian), Gharar (penipuan), Riba (tambahan), dan Bathil (rusak/tidak syah/usaha-usaha maksiat)...

Menarik bukan? ^^, Saya melihat ada sebuah benang merah yang akan membawa kita ke pemikiran yang lebih dewasa dan berani dalam menghadapi tantangan-tantangan yang luar biasa dasyat, yang dihadapi oleh perbankan syariah sekarang ini.

Bak cendawan tumbuh selepas hujan, bank syariah makin menjamur selepas masa krisis 1998. Semula, Bank Muamalat Indonesia menjadi single fighter pembasmi riba. Dengan telah beroperasinya bank-bank lain yang membuka unit usaha syariah di badan bank konvensional-nya atau bahkan yang sudah menjadi Bank Umum Syariah, seperti Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, dan Bank BRI Syariah menjadikan persaingan bisnis perbankan syariah semakin terlihat saja. Namun, tentu saja, masyarakat menginginkan bank syariah yang murni syariah-nya dan juga yang berpegang teguh kepada pakem-pakem syariah untuk lepas dari Magrib. Namun, bagaimana bank-bank syariah ini dapat tumbuh dan berkembang di tengah persaingan yang cukup ketat ini?
Magrib; Maisyir, Gharar, Riba, dan Bathil sudah pasti menjadi rambu-rambu yang musti ditaati untuk dapat dihindari dari praktek perbankan syariah pada kehidupan sehari-hari. Bank Syariah memiliki andil yang cukup besar dalam hal ini, terlebih gaung anti-riba yang telah berkembang luas di masyarakat kini.

Memberi pengertian akan haram-nya riba kepada khalayak luas tidak semudah membalikan telapak tangan. Memberi cap bunga bank haram adalah riba, tentu bukan kali pertama kita dengar. Undang-undang No. 21 Tahun 2008, menjadi landasan beroperasinya bank syariah di Indonesia. Bank syariah tidak melulu milik Muslim, bank syariah ada untuk seluruh masyarakat. Sehingga, untuk mencapai pengembangan industri syariah yang mumpuni, tentu saja dengan upaya yang universal pula.

Pengenalan kasus bagi hasil (non-bunga atau riba) terhadap khalayak awam bisa dengan contoh seperti ini:

Apabila Ibung membutuhkan tambahan modal usaha sebesar 100.000 rupiah untuk usaha jasa penjahitan. Maka ia meminjam pada bank dengan porsi pengembalian sebesar 60:40. Di perbankan syariah, terdapat perhitungan kemungkinan untung dan rugi, sehingga apabila, Ibung mendapatkan keuntungan dari usaha penjahitannya maka, keuntungannya akan dibagi sesuai porsi yang disepakati yaitu sebesar 60:40. Apabila keuntungan Ibung 20.000 rupiah, maka bank akan memperoleh 40%x20.000= 8.000 rupiah. Sementara Ibung memperoleh 12.000 rupiah. Begitu juga apabila mengalami kerugian, maka akan ditanggung bersama.

Namun, berbeda dengan yang diterapkan bank konvensional, apabila bank telah menentukan keuntungan yang akan didapatnya dari pinjaman yang telah diberikan kepada Ibung, misal sebesar 10.000, tanpa melihat kondisi usaha Ibung berhasil atau tidak, dan seberapa besar keuntungan yang didapat dari usahanya, bahkan kalau Ibung sampai lewat waktu membayar, maka hutangnya akan berlipat ganda, maka... inilah yang disebut riba.
Di bisnisnya sehari-hari tentulah tidak se-simple itu kasusnya. Pembiayaan oleh bank syariah terhadap nasabahnya merupakan sumber pendapatan, yang bisa dibilang, paling utama ketimbang pendapatan dari fee based income (biaya transfer, biaya administrasi, cetak bilyet/giro, dan sebagainya). Kenapa bisa demikian? Karena lewat dana yang dikucurkan sebagai modal kerja atau pembelian barang sesuai akad-akad (perjanjian) di bank syariah, pihak bank mendapatkan bagi hasil/imbalan-nya, sesuai akad yang telah disepakati pada saat pencairan dana. Namun, apabila terjadi kerugian, maka itu pun ditanggung bersama kerugiannya. Oleh karena itulah, pembiayaan di bank syariah memerlukan perhatian yang cukup besar karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan bank itu sendiri.

Dengan kata lain inilah hal-hal yang menjadi tantangan perbankan syariah; perlunya sumber daya manusia yang kompeten di bidang ini. Baik dari segi managemen dan juga operasional-nya. Sumber daya manusia yang saya maksud tidak hanya orang berlatar ekonomi atau pun hukum semata, melainkan dari segala macam latar belakang ilmu, yang memiliki pula rasa keberpihakan kepada kemajuan perbankan syariah, jiwa atau mental mujahid, dan menjadi pioneer dalam menciptakan etika kerja yang berazaskan kepada kemitraan, keadilan, transparansi, dan universal. Kelak, hal ini akan menjadikan pembiayaan sebagai pilar pendapatan untuk akselerasi pertumbuhan usaha serta sebagai lokomotif penggerak sektor riil.

Untuk meningkatkan pelayanan dan perminatan terhadap perbankan syariah, ada satu hal yang saya lihat cukup signifikan; service excellent. Ini dia yang wajib dimiliki oleh pelaku atau bankir syariah. Pengoptimalan sinergi, komunikasi dan sosialisasi akan menjadi nilai plus buat bank-bank syariah yang menawarkan produk penyimpanan dana, dan juga pembiayaan.

Selain itu juga, menghadapi pasar global, perbankan syariah pun harus didukung dengan sistem informasi dan penerapan teknologi kekinian, di samping melakukan inovasi produk yang ditawarkannya pada pasar. Kesinergisan ini akan didapat apabila keduanya seiring trus ditingkatkan.

Tantangan untuk menjadikan besar brand bank syariah, akan menjawab hausnya umat terhadap perlindungan diri dan agamanya, pengetahuan (wawasan keilmuannya), perlindungan untuk keluarga, serta sebagai perlindungan terhadap hartanya.

Hanya saja, pada praktek di lapangan, terkadang, tidak sesuai harapan. Mungkin, karena pihak bank tetap memiliki kepentingan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya, atau alasan lain yang tidak dibenarkan dalam syariah... Sehingga, banyak masyarakat berceletuk, "Apa bedanya jadinya yang syariah sama yang konvensional?"

Celetukan itu mungkin sering pula kita dengar. Ini bisa saja terjadi memang, karena ada pihak bank yang mengorbankan pakem menjauhi Magrib demi keuntungan berlipat ganda dengan melakukan penipuan harga jual barang, misalnya. Atau juga menggunakan dana simpanan nasabah kepada hal berbau judi, atau pertaruhan, atau usaha maksiat. Hal itu menyebabkan akad menjadi tidak syah.

Tentulah sebenarnya ini bukan pertaruhan satu institusi saja. Dari sekian banyak institusi perbankan syariah kini, kalau saja ada pihak yang melakukan penyimpangan aspek syariah, maka nasabah akan menggunjingi-nya ke mana-mana. Bukan begitu? Yang dirugikan sebenarnya bukanlah hanya satu institusi saja, melainkan kepercayaan masyarakat luas terhadap bank syariah itu sendiri. Makanya, nila setitik, rusak sebelanga, janganlah sampai terjadi... Mari bangun kepercayaan publik dan hadapi tantangan untuk maju, perbankan syariah...

Yulianti Eka Sasmita. Blogger perempuan. Tinggal di kampung Pamegarsari. Berkegiatan di pulau Beton.

Tulisan ini diposting di http://yusako.blogspot.com untuk ikut dalam iB blogger competition
Gambar dipinjem dari http://blog.unila.ac.id

0 komentar:

Post a Comment