Wednesday, December 02, 2009

iB, must face The Reality



Tampilan di samping merupakan skrinsut dari postingan Ejajufri di kompasiana.. sebelumnya saya sudah minta izin untuk menampilkan tulisannya di blog saya.. Makasih yah, Pak... :D

Pertama, saya sangat tertarik dengan tulisan ini karena menyentil. ;D Tulisannya bisa dibilang reportase, si empunya tulisan ini tentulah sangat cerdik membidik tema tulisan. Walau dia menulis di awal paragraf -nya : 
Saya tidak tahu pasti apakah tulisan ini layak untuk masuk dalam jajaran tulisan tentang perbankan syariah (yang berkualitas). Paling tidak, anggaplah tulisan ini sekedar celotehan berlalu.
Awalnya penulis akan merasa postingannya hanyalah ocehan entah berantah, namun bagi sebagian pembaca bisa jadi mempunyai maksud yang sampai di logika... seperti sayah ini-yang akhirnya memutuskan segera mengeluarkan uneg-uneg sayah, dengan dipicu tulisan mas Eja Jufri inih...

Di negeri ini, negeri-nya ibu Pertiwi, Indonesia, yang namanya bank syariah lagi menjamur.. awal tahun depan info terbaru Bank Jabar Banten akan membuka Unit Usaha Syariah-nya, berarti bertambah lagi perusahaan jasa perbankan yang menerapkan sistem syariah... Nah, karena bisa dibilang, perkembangannya cukup signifikan, industri syariah juga memerlukan sumber daya insani yang berwawasan ekonomi syariah, baik akademisi maupun praktisi.

Akademisi dibutuhkan sebagai ahli atau pembuat terapan-terapan tentang tata cara berjalannya bank syariah itu sendiri, baik dari segi managemen-nya, akuntansi-nya, hukum-nya, dan juga core value-coorporate... Begitupula, praktisi atau banker syariah yang jumlahnya masih sedikit dibanding dengan banker konvensional, tentu sajah.

Nah, baik akademisi dan praktisi inilah yang kemudian menjadi satu. Dan sayah menyebutnya sebagai militan syariah. Well, kenapa begituh? Alasannya satu sajah, menurut sayah sih, orang yang mau nyemplung di bidang syariah ini punya niatan tertentu-yang semoga mendukung perkembangan bisnis syariah ke depannya, tentu dengan semangat juang yang tinggi, karena kemudian mereka harus tahan banting melihat persaingan yang semakin ketat.


Kuliah di jurusan perbankan syariah, nampaknya akan menjadi pilihan siswa-siswi SMA yang akan melanjutkan kuliah..Why not? Suruhan orang tua? yaa kenapa enggak... kalau keinginan sendiri? ya lebih baik... kalau sayah bilang sih, pahalanya jadi dua, pertama -karena kita nurut sama orang tua, yang kedua -karena kita belajar ilmu bermanfaat- sudah ada di dalam Al-Qur'an tuntunan akan perintah meninggalkan riba begitu-kan? (hihihi,,, sok serius banget yaa postingan kali iniih)...

Nyambung ke tulisan Eja lagi, di tulisan Eja juga disertai gambar peresmian dibukanya salah satu bank konvensional di lingkungan fakultas hukum dan syariah di salah satu Universitas Islam di Jakarta, rada ironis gak siyh? se-gambreng buku musti dibaca, dipelajari, biar bisa lulus jadi sarjana ilmu perbankan syariah, cuma ketemunya konvensional juga.. hihihi.. ;p

Sebenernya sih masalahnya, bukan bank konvensional itu berada di lingkungan universitas Islam, melainkan kenapa bank syariah yang sudah banyak dan menjamur ituh tidak mengambil kesempatan/peluang ekpansi ke ruang akademisi lebih banyak lagi, karena kelak kan akademisi itu juga akan bergabung jadi praktisi kalau bener-bener bakal-an nyemplung di bidang ini...

Sekarang, banyak lhoh perebutan antar bank terhadap banker-banker syariah berpengalaman. Mungkin sajah, sekarang, jadi praktisi bank satu -besok sudah di bank yang lain... itulah persaingan... Siapa yang bagus, Pasti dicari... Gimana pun, bermula dari para akademisi, orang yang mau belajar dari nol dan jiwanya militan. So, gak salah kan kalau saya kasih judul postingan ini dengan iB, must face The Reality. ;D Semoga bermanfaat, syukron!

5 comments:

  1. peluang bisnis.....
    ternyata pelaku bisnispun masih luput untuk yang satu ini...

    ReplyDelete
  2. menarik sekali pengamatannya. Tapi sebenarnya simpel saja kalau mau demo. Kalau memang civitas akademika univ. Islam itu punya visi yang sama, maka ekstremnya gak usah ada yang daftar jadi nasabah di sana. Nampaknya ga begini yang terjadi, karena bank berani buka cabang karena yakin ada pasarnya. Selamat berjuang, anyway :)

    ReplyDelete
  3. @aprasetyo, :) ya begitulah,, kita tunggu ajah kabar berikutnya dari saudara kita Eja.. hihi...

    ReplyDelete