Monday, December 07, 2009

May is all about Edu… Bagaimana dengan motivasi berprestasimu???


May is all about Edu… Bagaimana dengan motivasi berprestasimu???

Edu…Yap.. Education! Yang artinya pendidikan…
Masih hangat, tentunya… Hari Pendidikan yang bangsa kita peringati setiap tanggal 2 Mei. Postingan ini memang telat untuk membahas momen tepat pada tanggal 2, tapi.. apa salahnya menuangkannya kini sebelum Mei berlalu seperti angin lalu.. ^-^

Kalau diingat-ingat..
waktu kukecil..hidupku amatlah senang… (masih ingat kan lagu anak-anak dengan lirik itu?) hmmh, teman-teman pasti juga masih menyimpan memori masa kecil yang begitu lugu, lincah, dan tanpa tahu mana yang disebut kebaikan dan mana yang disebut keburukan..

Tentunya kita semua pernah melalui sekolah dasar, benar? Ya, bangku kayu, papan tulis, kapur barus, dan seragam merah putih. Di sanalah semangat berbangsa Indonesia dtanamkan. Karena apa? Ya.. karena mereka mengenakan seragam merah-putih.. Yap… kita tahu kalau bendera negara kita berwarna merah-putih.. yang berarti merah adalah berani, putih adalah suci… dan itu ditanamkan dari semenjak kecil hingga kini. Dan simbol itu pun tidak pernah berubah makna hingga kini..

Menjelang masa UN Sekolah Dasar, nampaknya muris SD (kini) harus benar-benar getol.. rasa was-was juga tidak mungkin terelakan datang dari para orang tua siswa, guru, dan tentu saja si murid sendiri. Karena dengan UN-lah, si siswa akan ditetapkan lulus atau tidaknya dari sekolah yang memberinya pembelajaran selama enam tahun lamanya… kalau musti ngulang satu tahun, Siapa yang mau? (jaman dulu kita…walau sedang rusuh-rusuhnya jaman reformasi 1998… koq rasanya ga seberat sekarang yaa…)

Nah… dengan keadaan sistem pendidikan di Indonesia yang (ceritanya berlagak) mengadopsi sistem pendidikan yang diterapkan di Barat inilah yang kemudian malah menjadi boomerang buat keberadaan PENDIDIKAN DI INDONESIA.. Why? Alias kenapa begitu? Gini loch.. kita bicara macam orang awam saja lah.. di tulisan ini.. saya ga akan berlagak so tahu, karena tulisan ini semi konduksi.. hehe.. alias kadang bisa nyetrum… ya lebih seringnya sih berlalu seperti angin.. (hehe.. nyadar diri…)

Kita lihat.. pemerintah mematok murid dengan angka sekian..barulah dia bisa lulus dan dapat ijazah..yang kemudian barulah siswa tersebut bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.. kalau Ga.. Ya Resiko ditanggung sendiri.. (hiks…hiks.. kalau kita mengingat pristiwa siswa SMP bunuh diri setelah tahu gagal UN…peristiwa miris itu sepertinya masih teringang-tengiang dalam benak kita, apa iya UN adalah maut???)

Sebenarnya… pemerintah, departemen pendidikan, atau siapa pun yang bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang UN tidak melihat sampai ke akar permasalah yang terjadi di sekolah-sekolah bertaraf “kampung” atau pedesaan.. semuanya sama rata!

Beberapa hari lalu, saat pagi hari sedang menonton TV.. (acara yang dipresenteri Desi Ratnasari dan Adi Nugraha) menampilkan perempuan dari salah satu lembaga yang prihatin dengan keadaan pendidikan kita..

Dilema memang..kalau kita dengar pendapat orang tuas siswa yang ditampilkan dalam acara tersebut.. ada yang bilang: seharusnya guru tidak begitu.. guru seharusnya menjadi teladan.. bagaimana moral anak-anak kalau guru memperbaiki jawaban ujian agar lulus… dan sang ibu yang menjadi narasumber pada pagi itu pun memberi penjelasan yang (menurut saya) sangatlah MASUK DIAKAL DAN SESUAI PADA KENYATAANNYA.

Ibu itu bilang, beban guru sangat berat. Mereka mengetahui kondisi anak murid mereka. Kalau mereka tidak bantu, maka si anak tidak lulus, sementara sekolah, orang tua siswa, bupati, gubernur, dan pihak-pihak terkait dengan kebijakan pendidikan sekarang ini menuntut angka yang tinggi dan kelulusan di daerah/sekolahnya mencapai 100 persen… Dilematis!

Padahal… guru tahu betul kemampuan murid di sekolahnya.. Apa iyah mau tidak diluluskan..itu beararti sama saja menambah beban sekolah… kenapa begitu?

Saya akan membocorkan sedikit pengalaman Bunda saya yang menjadi pengajar Matematika di sebuah Madrasah Tsanawiyah di belakang komplek perumahan PUSPIPTEK. Sekolah tersebut merupakan sekolah yang didanai yayasan. Yayasan tersebut didirikan oleh beberapa orang pejabat yang berdinas di PUSPIPTEK.. kepala sekolah, guru, dan staf nya pun kebanyakan belum mendapat sertifikasi (yang sekarang sedang digembor-gemborkan; termasuk My MoM..karena My Mom tidak puya Akta IV dan bukan dari jurusan pendidikan matematika… believe it???)

Tapi, mereka yang memberi pengalaman, yang menjadi pendidik di sana memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu.. karena kebanyakan siswa yang bersekolah di sana berasal dari keluarga yang kurang mampu (dari segi finansial orang tuanya, anak petani, pedagang, buruh, atau bahkan ada pula yang bapaknya hilang… ini beneran loch, bukan karangan semata… saya mendapat informasi dari Bunda saya mengenai keadaan sekolahnya itu)

Sudah beberapa tahun belakang ini, My Mom mengajar matematika.. awalnya memegang beberapa kelas, tapi karena sempat naik haji tahun lalu, beliau meminta dikurangi jadwalnya… Namun, untuk pemantapan UN kelas 3 tetap, Ibu dan sang kepala sekolah (yang notaben nya bergelar Insinyur non sertifikasi juga loch.. ) yang mengajar dan memberi pengarahan bagaimana menyelesaikan soal-soal matematika.. Tapi….. MIRIS..sungguh miris…. Ibu selalu pulang dengan kemirisan itu… tahun-tahun lalu ibu menjadi panitia UN yang menjaga di sekolah… (DAN INI FAKTA, guru memperbaiki JAWABAN SISWA, walau tidak semuanya… ITU ADA DI SINItapi… inilah yang tidak penah tereksposs ke khalayak banyak... karena bagaimana yaa… sulit juga… Tidak tahan dengan keadaan seperti itu, tahun ini-pada pelaksanaan UN SMP lalu, ibu tidak lagi ingin menjadi panitia… maka ibu menjadi pengawas dan ditempatkan di sekolah yang tarafnya pun setara dengan madrasah-tempat ibu mengajar…)

Mau tahu apa komentarnya? Pulang mengawas… secara garis besar Ibu bilang.. “Ketat banget pengawasannya, Ka… soalnya langsung dibawa,… kasian anak-anaknya.. masa diem ajah gituh, Cuma bullet-buletin lembar jawaban, TANPA NGITUNG...

Kebayang kan.. Matematikaaa…. Owalah… Ibu melihat seorang anak yang kayanya pinter, karena dia dengan tenang mengerjakan soal-soal matematika (hari Ke-2 UN SMP)… sampai di satu soal, si anak murid itu ragu dengan rumus yang digunakannya, lalu si murid bilang gini sama ibu, “Bu.. dikit ajah.. saya lupa rumusnya, gini bener gak, Bu?" kata anak itu sambil memperlihatkan kotretan yang dibuatnya.. Lalu Ibu pun MENGANGGUK sambil TERSENYUM… (setidaknya Ibu bangga.. ada anak yang masih mau berusaha mengerjakan soal-soal itu…)

Hmmh, saya jadi ingin menceritakan perjuangan adik terakhir saya (Fathi, kelas 3 SMP 2 Cisauk, dulu SMP 4 Serpong). Masuk di kelas unggulan, membuatnya lebih percaya diri.. well..well… dia punya cita-cita yang tinggi.. (yaa mungkin lebih tinggi dari tinggi badannya yang kurang lebih 168 cm itu…hihihi...) Karena melihat persaingan masuk SMA itu sulit, ia belajar serius untuk UN ini.. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris malah menjadi momok buat dia..

Malam pertama, saya menemaninya belajar… bahasa… bahasa… alhamdulillah (katanya bahasa Indonesia lumayan…) tapi bahasa Inggris.. agak-agak gimana gituh (sampai malamnya dia masih kepikiran…mungkin memang dia masih kurang vocabulary nya sehingga soal-soal bahasa Inggris yang sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi kalau tidak ngerti arti nya.. mau gimana lagi???)

Tapi andalan adik saya adalah Matematika! (haha… mungkin karena selama ini udah belajar teruuuuuuuuss sama Ibu) jadi pulangnya dia agak tenang... Semoga saja hasilnya memuaskan…

Saya jadi ingin menyambungkan tulisan ini dengan materi yang ditulis Tuppi (untuk UAS take home Mata Kuliah Motivasi Berprestasi yang semalam saya edit) Apa itu motivasi berprestasi???

Dari uraian Tuppi, motivasi berprestasi dapat didefinisikan sebagai dorongan yang datang dari dalam individu agar individu tersebut menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Nah… karena ingin tahu apa motivasi adik terakhir saya itu mengerjakan UN dengan bersih, jujur, dan semangat, saya tanyakan pada Usi (panggilan kecilnya), “Si, emang mau jadi apa?”

Dia lebih suka Matematika ketimbang bahasa… lalu jawabnya, “Aku mau ambil Kedokteran sama Teknik Mesin…”

Ya.... yaa… saya mengangguk-ngangguk… seep! Tapi kebayang kan… pilihannya… hehe.. yaa seenggaknya di keluarga kami punya beragam bakat dan cita-cita… ngelihat badannya yang bongsor, Usi memang cocok jadi anak Mesin (kalau kuliah nanti… heheh), kalau lihat cita-citanya juga jadi dokter.. Why Not??? Dia suka menolong orang, walau memang kadang kelakuannya juga nyebelin.. wheeek…

Kalau saya bisa meminjam istilah psikologi (sumbernya dari buku kuliah adik saya Via, mengenai teori-teori kepribadian Pervin, 1980…) Tingkah laku manusia dibagi menjadi beberapa dimensi, ada struktur, proses, pertumbuhan dan perkembangan, psikopatologi, dan perubahan tingkah laku.. Sepertinya pembahasan mengenai PROSES tepat menggambarkan keadaan motivasi adik terakhir saya… yang juga bisa dibilang motivasi dari kebangkitan pendidikan INDONESIA… proses tersebut (dikatakan) yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika tingkah laku atau kepribadian.

Saya mengutip perbincangan saya dengan Dr. Uka (beberapa waktu lalu), : “...yang seharusnya diperbaiki adalah penyebabnya, bukan apa yang menjadi akibatnya… “

Bila dikaitkan dengan perbaikan pendidikan berarti tidak bisa cuma melihat (secara general) hasil belajar siswa selama tiga atau enam tahun belajar dalam sehari ujian,.. (sarana, prasarana, SDM guru, dan factor lainnya patut menjadi perhatian apabila pemerintah ingin menyamaratakan pendidikan di pusat kota, kota urban, juga kampung….)

Maka itu, motivasi berprestasi yang kerap kali diagung-agungkan lembaga pendidikan dan juga orang tua menjadi sirna kalau ternyata UJIAN pun bisa ditolong.. So, buat apa belajar lama-lama?



Saya jadi ingat, sebuah buku yang diberi judul “Guru Kencing Berdiri, Muris Kencing Berlari”, sebuah buku yang diedit dosen, sekaligur ketua jurusan Program Studi Arab di tahun 2006, di dalam buku itu.. ada puluhan pengalaman menarik dari mahasiswa Angaktan 2004. Cover buku ini diilustrasikan oleh Fandy alias Ndy-nya Jihan (Arab 2004 FIB UI)… karikatur yang ada disampul buku itu sebenarnya merupakan “Pak Males Sutiasumarga”, yang tidak lain adalah Sang Editor, Dosen, Ketua Jurusan Prodi Arab, serta sahabat para mahasiswa…

Ya… Pak Males adalah sosok yang rendah hati, penyabar, dan tentu saja baik hati kepada setiap mahasiswa… saat lelahnya, ia masih saja “ikhlas” mendengar keluhan, curhatan, serta menjadi pemberi masukan terhadap jadwal, mata kuliah, sampai hal keluarga dan pekerjaan pun tidak perlu ragu bercerita kepadanya.. (kalau si bapak baca ini, pasti senyam-senyum .. hihihi...) walau… siap-siap saja jadi tenar.. karena “kadang-kadang Bapak yang humoris ini juga suka “bocor”.. hehehe.. (maaph yaaah, Pak..) hehehe….


Ilmu itu selimut
Mari kita bertindihan di bawahnya

Ilmu itu kereta api
Mari kita berhimpitan di dalamnya…

Tuangkanlah susu kental manismu
Ke dalam cangkir kopi pahitku
Biar kita satu dalam ilmu

Semaikanlah benih-benih kasihmu
Di atas sawah ladang nafsuku
Biar kita satu dalam ilmu

Itulah pembuka buku tersebut merupakan sebuah sajak singkat yang dituliskan Pak Males di Depok, Oktober 2000… dan apakah itu sudah berlaku di bidang pendidikan di Indonesia (dengan merata)??? Apakah ilmu yang tak hingga jumlahnya itu bisa dapat diserap, diamalkan, dan disebarluaskan demi kemajuan bangsa ini?

Yuuk kita berselimut ilmu dan berhimpit-himpitan (baca: bersama-sama) menuntut ilmu… (sampai keliang lahat….) Mei benar-benar Edu(n) ~_~


Serpong, Mei 2008

Note:
Edu: educatin, pendidikan
Edun: bahasa Sunda yang berarti gelo

4 comments:

  1. @Quinie, unpublished? ya.. begitulah... :(

    ReplyDelete
  2. Berhimpitan dan bertindihan berselimutkan ilmu. Hmmm... frase yang inspiratif. terima kasih telah berkunjung ke rumah hikmah saya.

    Salam kenal,

    ReplyDelete
  3. @bahtiarhs, makasih juga sudah mampir ke sini, Pak.. salam kenal juga,...

    ReplyDelete